Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Jogja Sekarang Terbuat dari Tumpukan Rasa Lelah dan Potensi Konflik

Gusti Aditya oleh Gusti Aditya
5 Januari 2024
A A
Jogja Sekarang Terbuat dari Tumpukan Rasa Lelah dan Berbagai Konflik MOJOK.CO

Ilustrasi Jogja Sekarang Terbuat dari Tumpukan Rasa Lelah dan Berbagai Konflik. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Lelah karena kemacetan yang kian mengerikan

Menurut Harian Jogja pada 2022, kecepatan rata-rata kendaraan saat mengikuti arus lalu-lintas di Jogja hanya 16 kilometer per jam. Jalan Affandi (Gejayan) menjadi jalan terpadat dengan derajat kejenuhan mencapai 1,23.

Jadi, derajat kejenuhan adalah perbandingan antara volume lalu lintas dengan kapasitas jalan. Hasilnya berupa angka antara 0 hingga 1. Semakin mendekati angka 1, kondisi jalan mendekati angka jenuh. Lha ini Jogja malah lebih dari rasio 1. Gimana nggak lelah. 

Iklan

Ada beberapa alasan yang menyebabkan tingginya tingkat kejenuhan di Jalan Gejayan. Pertama, jalan yang tidak terlalu lebar. Kedua, menggunakan sistem 2 arah. Ketiga, ada hambatan di samping jalan seperti parkir dan pasar tradisional. Keempat, volume kendaraan terlalu tinggi.

Hmm… beberapa alasan yang masuk akal. Namun, analisis tersebut melupakan 1 hal paling krusial dari sebuah kepadatan jalan yang sudah sangat meresahkan, yaitu manusia. Keberadaan manusia yang menyebabkan tingkat kepadatan semakin tinggi. Nggak cuma di Gejayan, ya, tapi di beberapa titik di Jogja.

Sudah lelah, nasibnya sungguh malang

Salah satu penyebab meluapnya sampah dan kemacetan di Jogja adalah tingginya tingkat kunjungan wisatawan. Dokumen Statistik Wisatawan Nusantara menunjukkan bahwa pada 2022, kunjungan wisatawan di Jogja mencapai 25,7 juta orang. Bayangkan saja, DIY adalah provinsi kecil, berkelahi dengan tingginya volume manusia. Lelah itu semakin menumpuk saja.

Bagaimana dengan data Desember 2023? Menurut ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY Deddy Pranowo Eryono, reservasi hotel-hotel di DIY untuk periode 23 Desember 2023 hingga 1 Januari 2024 kemarin mencapai 80%. 

Bus-bus yang tunggang langgang berkejaran di Jalan Imogiri Timur depan rumah saya bisa menjelaskan angka-angka di atas. Kemacetan mengular dari perempatan Ring Road Giwangan sampai Botokenceng.

Efek lainnya, lihat saja jalanan Ring Road Utara, Barat, Timur, dan Selatan yang dipenuhi plastik-plastik sampah. Bahkan Jembatan Janti bernasib sama. Jalanan Jogja di lingkar suburban bak menjadi tempat “pemakaman massal” bagi sampah-sampah rumah tangga karena volume TPS dan TPST tak lagi mencukupi. Warga kebingungan harus membuang ke mana. Lelah!

Risiko konflik horizontal antara wisatawan dan warga

Kondisi di atas adalah bumbu-bumbu terbaik untuk sebuah konflik horizontal antara warga dan wisatawan. Kita bicara di tataran konflik “paling rendah” saja dulu, yaitu saling menyalahkan. Saya sudah beberapa kali mendengar ada warga yang menyalahkan wisatawan karena membuang sampah sembarangan. Ke depannya, nggak heran kalau wisatawan kapok ke Jogja karena dianggap penyebab konflik.

Padahal, baik warga dan wisatawan, seharusnya kompak untuk “memaksa” pemerintah bekerja lebih baik mengelola provinsi yang katanya istimewa ini. Ingat, pemerintah panen besar menjaring uang dari wisatawan sembari mengorbankan kesabaran warga Jogja.

Tak ada pembenahan secara masif dan serius, kok. Sejak 2021, yang dilakukan hanya mempercantik pusat kota mulai dari revitalisasi Tugu sampai mengurusi Sumbu Filosofi itu. Untuk itu saja, Pemda selalu mengadakan pesta dan arak-arakan. 

Padahal, gelontoran duit yang menggiurkan dari Pusat, bisa dialokasikan untuk pembenahan dari aspek paling prinsip. Misalnya, transportasi umum dan pembangunan TPS baru (yang telat sekali baru digarap sekarang).

Apa yang Diperlukan Kota Ini? Hilirisasi!

Begini, maksud saya, mbok ya 2024 itu fokus dulu membenahi dalam daerah dulu. Stop dulu menggaet wisatawan. Berhenti dulu promosi ini dan itu tentang Jogja. Bangun dulu TPST yang memadai dan dipikirkan aspek lingkungan.

Soalnya, dari 2 permasalahan ini, bisa berakibat luas. Bisa merembet ke masalah kesehatan manusia, kelestarian lingkungan, kerusakan sungai, emisi karbon, bahkan klaim berkebudayaan bisa dipertanyakan. Ya kali, mendaku berbudaya namun manusia-manusia di dalamnya nelangsa karena lelah dan bau sampah.

Iklan

Jogja, yang sabar, ya. Sudah jelas bahwa kami, warga maupun wisatawan, sayang dirimu. Tapi kami bisa apa selain berharap dirimu layak huni? Ya, “layak huni” merupakan paduan kata yang menggelikan untuk dirimu belakangan ini. Ketika harga tanah makin naik akibat para koruptor cuci uang dan kesenjangan sosial yang jomplangnya luar biasa.

Penulis: Gusti Aditya

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Jalan Gejayan Sleman Adalah Simulator Bencana Demografi yang Bakal Mengancam Kota Jogja dan Sleman 6 Tahun Lagi dan analisis menarik lainnya di rubrik ESAI.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 5 Januari 2024 oleh

Tags: jalan gejayanJogjajumlah wisatawan di jogjamasalah sampah di jogjapilihan redaksislemanTPST Piyungantujuan wisata di jogjawisata jogja
Gusti Aditya

Gusti Aditya

Bercita-cita menjadi pelatih Nankatsu. Mahasiswa filsafat.

Artikel Terkait

kerja, lulusan SMA di keluarga penuh sarjana.MOJOK.CO
Sehari-hari

Cerita Lulusan SMA yang Berhasil Mapan Tanpa Ijazah S1, tapi Diam-Diam Menyesalinya dan Merasa Iri pada Sarjana

21 Juli 2026
Curhat kasir Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di jalanan desa sepi. Sepi pembeli, sekali ada pembeli bukan karena butuh tapi iseng dan bikin kesel MOJOK.CO
Sehari-hari

Derita Kasir Kopdes di Desa Pelosok: Hari-hari Sepi, Pembeli Datang Bukan karena Kebutuhan tapi Sengaja Bikin Kesal

21 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi tuan rumah “1st Asian Gym for Life Challenge 2026” 1. MOJOK.CO
Kabar

Jogja Jadi Tuan Rumah Lomba Gym se-Asia usai Thailand Mundur, Semua Kalangan Bebas Ikut Tanpa Beban Menang-Kalah

20 Juli 2026
Milenial di Job Fair Yogyakarta 2026 cari peluang kerja di luar negeri. MOJOK.CO
Sehari-hari

Muak dengan Syarat Kerja di Indonesia: Gaji Numpang Lewat hingga Terbatas Usia, Milenial Pilih Cari Kerja ke Luar Negeri

16 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kerja sama dengan Australia. MOJOK.CO

Satu Dekade Jogja dengan Melbourne Symphony Orchestra: Bukti Orkestra Nggak Melulu Kaku bahkan Bisa Dinikmati Sambil Lesehan

15 Juli 2026
orang kota slow living di desa, jakarta, norak.MOJOK.CO

Standard Ganda: Orang Kota Sok Lebih Berkelas, Padahal di Mata Orang Desa Sama Noraknya

21 Juli 2026
Cerita alumnus Unika, side hustle untuk temukan kebermaknaan. MOJOK.CO

Kisah Alumnus Unika Pilih Side Hustle dengan Mengubah Sampah Plastik Jadi Kerajinan agar Waras dari Kerjaan Freelance

15 Juli 2026
Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa "Mungkin Ada Benarnya" ke Jogja.mojok.co

Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa “Mungkin Ada Benarnya” ke Jogja

16 Juli 2026
Pom mini warung madura kini jadi solusi di tengah antrean panjang SPBU yang tidak masuk akal MOJOK.CO

Strategi Hindari Antrean SPBU Tak Efektif Lagi, Isi Bensin di Pom Mini Warung Madura Jadi Solusi Asal Tak Pakai Logika Takaran

18 Juli 2026
Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya MOJOK.CO

Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya

18 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.