Pengalaman Tinggal di Bogor dan Jogja: Dua Kota yang Paling Bisa Bikin Warganya Cemas dan Stres

Jogja dan Bogor Paling Bisa Bikin Warganya Stres Menderita MOJOK.CO

Ilustrasi Jogja dan Bogor Paling Bisa Bikin Warganya Stres Menderita. (Mojok.co/Ega Fansuri)

MOJOK.CO – Jogja dan Bogor punya caranya masing-masing untuk membuat warganya cemas dan stres. Udah, mending jangan tinggal di sana, sih. Bikin stres!

Hampir setengah tahun saya tidak menginjakkan kaki ke tanah kelahiran tercinta, Kulon Progo. Saat turun dari tangga bus, saya langsung menghirup dalam-dalam udara yang nggak segar-segar amat ini. Namun, masih mendingan, sih, ketimbang Bogor, kota tempat saya merantau saat ini. 

Ada beberapa perbedaan antara tinggal di Bogor dengan di Kulon Progo atau Jogja secara umum. Namun, meski berbeda, kedua kota ini merupakan sebuah daerah yang paling bisa membuat warganya cemas dan stres. Izinkan saya menjelaskannya secara singkat.

Lalu lintas di Bogor adalah sumber stres terbesar bagi warganya

Salah satu hal yang langsung menyapa mata saya adalah perihal lalu lintas. Bogor jauh lebih parah ketimbang Kulon Progo dan Jogja pada umumnya. Misalnya, di Bogor, silakan kamu mengunjungi yang namanya Jalan Raya Dramaga.

Angkot di sana melimpah dengan klakson yang selalu menyala setiap menit. Seketika ingatan saya malah melayang ke beberapa hari sebelum kepulangan ke Jogja. 

Biiip… biiip… biiip!

Begitulah suara klakson angkot ketika kendaraan itu mendekati saya yang hendak menyeberangi di Jalan Raya Dramaga. Begitu sampai di dekat saya, sopir angkot itu kembali memencet klaksonnya berkali-kali. Kayaknya si sopir mikir saya hendak naik angkot, padahal tidak.

Saya merespons dengan mengibaskan tangan. Sebuah isyarat tidak mau naik. Begitu melihat saya enggan naik, si sopir langsung melajukan angkotnya dan tidak lupa sambil membunyikan kembali klaksonnya, menarik perhatian calon penumpang lainnya. Begitulah Bogor yang semrawut bikin stres. Untuk soal ini, Jogja masih mending.

Baca halaman selanjutnya: 2 kota yang menjadi sumber stres para warganya.

Sebuah kota yang sangat berisik

Saat ini, ada lebih dari 3.400 angkot yang tercatat secara resmi di Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan (DLLAJ) Kota Bogor. Mereka beroperasi dan mencari penumpang dengan cara yang sama. Maka kamu bisa membayangkan betapa berisiknya jalan raya di sana. Belum lagi jika akhir pekan buru-buru menyapa. Ah, bagaikan seluruh kendaraan tumpah di jalan raya, berisiknya jalan sungguh tidak ketulungan. 

Coba bayangkan kondisi ini: Kamu naik motor, berada di tengah rombongan pemotor lainnya. Nah, kalian terjebak di antara truk pengangkut ayam dan ambulans yang tidak bisa bergerak karena kemacetan. Bunyi sirine ambulans tersebut meraung-raung, bersahutan dengan sirine motor polisi pengawal pejabat. Bisa gila!

Sudah begitu, di sekitar Cibanteng-Dramaga, Kabupaten Bogor, masih bersemayam bocil-bocil kematian. Di sana, mereka masih mempertahankan tradisi minta “om telolet om” pada bus yang turut merayap di tengah sesaknya Jalan Raya Dramaga. Jangan-jangan di sana masih tahun 2016 apa ya.

Masalahnya adalah, kebiasaan memencet klakson itu menular. Misalnya saya, pengendara motor yang terjebak kemacetan di belakang truk pengangkut ayam. Tadinya masih berusaha sekuat tenaga untuk nggak stres lalu emosi. Namun, lantaran kondisi terlalu gila, saya jadi meluapkan amarah dengan turut serta memencet klakson.

Ya begitulah cara Bogor membuat orang stres. Terus bagaimana dengan Jogja dan sekitarnya? Ya sama-sama bikin stres, lah!

Jogja yang kayak asing sama klakson

Sudah pasti jalanan di Jogja nggak seramai dan berisik kayak Bogor. Sudah begitu, pengendara di Jogja cenderung lebih “tertib” dalam menggunakan klaksonnya. Hal ini sudah saya buktikan sendiri ketika melintas di Jalan Kaliurang, Jalan Panembahan Senopati-KH Ahmad Dahlan, dan Jalan Nasional Jogja-Wates. Saya melintas di sana pada akhir pekan.

Nah, setelah pengamatan secara langsung, saya paling sering mendengar klakson di Jalan Kaliurang, yaitu 5 kali. Lalu, di Panembahan Senopati-KH Ahmad Dahlan, saya mendengar 2 kali saja. Terakhir, di Jalan Jogja-Wates saya tidak mendengar ada klakson sama sekali.

Saya yang kaget memastikan lagi ke teman yang membonceng. Sejak awal, saya sudah bilang ke dia untuk menghitung bunyi klakson. Ini sebuah usaha untuk membandingkan betapa Bogor memang bikin stres ketimbang Jogja.

Saat perjalanan pulang dari Jogja ke Kulon Progo melewati Jembatan Bantar, saya mulai bertanya kepada teman yang mboncengi.

“Kamu sudah berapa kali dengar suara klakson?” 

“Belum. Kok bisa ya?”

“Padahal jalanan lagi ramai banget, lho.” 

Memang, di Jogja, klakson itu tidak berfungsi sebagai pemberi tanda. Beda dengan Bogor, di Jogja, klakson adalah alat untuk menjaga tali silaturahmi di jalan. Makanya, kalau ada orang diklakson, kebanyakan malah nengok dulu. Berharap ada temannya menyapa. Padahal peringatan ada kendaraan mau lewat. Pakai nengok segala, bisa terlambat dan pantat disenggol mobil!

Sumber stres dan cemas di daerah istimewa

Maka dari itu, pemicu stres, bahkan cemas, bagi pengendara di Jogja adalah knalpot brong atau blombongan. Bayangin aja, saat lampu lalu-lintas masih merah, si pengguna motor berisik itu malah memainkan tuas gas motornya. Mereka tuh ngapain coba. Kelakuan mereka cuma antara caper dan norak banget.

Lebih nyebelinnya lagi, saya justru lebih sering menemukan pengendara motor busuk ini di jalan kecil, di tengah permukiman padat penduduk. Walah, emang nggak sadar sudah mengganggu orang di sekitarnya, ya? Ya nggak, lah. Suara knalpot aja digedein, tapi empati dan akal sehatnya dimatiin. 

Nah, selain stres, Jogja juga bikin cemas. Untuk hal ini, Bogor mendingan kata saya.

Kejadian yang membuat saya cemas adalah keberadaan klithih. Saya nggak suka keluar malam dan jauh naik motor. Sekalinya kemalaman main di Sleman, saya harus berani pulang ke Wates. Maklum, ibu saya bukan orang yang suka memberikan izin menginap untuk anak perempuannya.

Alhasil saya harus menerjang Ring Road Utara dan Jalan Jogja-Wates di malam hari. Rasa khawatir mulai menyelimuti setiap beberapa motor berusaha mendahului saya. Jadilah saya ngebut, biar cepat sampai rumah. 

Sesampainya di rumah, saya berpikir. Bagaimana ya perasaan orang lain saat melintasi jalan tersebut sewaktu malam. Pasti banyak orang lain yang terpaksa berkendara di malam hari dengan berbagai alasan. Misalnya mereka yang lembur atau mahasiswa nugas. Rasa was-was dan tidak nyaman memang Jogja banget.

Begitulah, pembaca. Jogja dan Bogor punya caranya masing-masing untuk membuat warganya cemas dan stres. Lucunya, perbaikan akan masalah ini kayaknya nggak ada. Udah, jalan aja begitu. Cuma warganya ini yang stres dan cemas. Warga mah udah biasa menderita. Lantas, bagaimana dengan kotamu? Kejadian apa yang membuat kalian jadi super stres?

Penulis: Melia Fathika Rochmah

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Kamu Ingin Tinggal di Kota Bogor? Coba Pikir Lagi! dan pengalaman menyebalkan lainnya di rubrik ESAI.

Exit mobile version