Jalan Lintas Sumatra Dibuat untuk Mengangkut Kekayaan ke Jawa: Tempat Lahirnya Shinobi Kriminal Jalinsum

Jalan Lintas Sumatra Dibuat untuk Mengangkut Kekayaan ke Jawa: Tempat Lahirnya Shinobi Kriminal Jalinsum MOJOK.CO

Ilustrasi Jalan Lintas Sumatra Dibuat untuk Mengangkut Kekayaan ke Jawa: Tempat Lahirnya Shinobi Kriminal Jalinsum. (Ega Fansuri/Mojok.co)

MOJOK.COJalan lintas Sumatra dibuat untuk mengangkut hasil kekayaan Pulau Sumatra ke Jawa, tempat lahirnya para kriminal untuk bertahan dari krisis.

Jalan Raya Lintas Sumatra (Jalinsum) merupakan sebutan untuk jalan raya/jalan nasional yang membentang dari utara sampai selatan Pulau Sumatra. Berawal dari Banda Aceh, Aceh sampai ke Pelabuhan Bakauheni, Provinsi Lampung dengan total panjang jalan 2.508,5 km.

Kalau sudah terbiasa menjadi sopir di jalan lintas Sumatra, kamu otomatis punya lisensi tak tertulis yang diakui sesama sopir. Jalur ini cuma bisa ditaklukkan oleh orang-orang berkepala dingin dan bermental baja.

Ini bukan bualan. Banyak sopir Jalinsum mengeluhkan batu ginjal saat tua karena terlalu sering menahan buang air. Di jalan ini, kendaraan harus terus bergerak. Kata pujangga Melayu, roda tak akan berguna jika berhenti berputar pada porosnya.

Ada jalan yang bisa dirindukan. Ada jalan yang hanya layak dikenang. Tapi jalan lintas Sumatra adalah jalan yang membuatmu bergantian mengumpat, berdoa, lalu pasrah.

Lubang jalan, tanjakan ekstrem, jurang, kriminalitas, proyek perbaikan, kecelakaan, bahkan cerita hantu adalah identitasnya. Semua bercampur menjadi paket lengkap yang tak pernah dijual biro wisata.

Kabut Sitinjau Lauik membuat betis ikut ngilu. Kelok Sembilan memaksa sopir terus siaga. Belum lagi jalan pesisir selatan Aceh yang di satu sisi berbatasan langsung dengan jurang menuju laut.

Ada pula Jurang Lae Kombih yang namanya sudah cukup membuat sopir mengurangi kecepatan. Konon, sekali kendaraan masuk ke sana, tidak pernah akan ditemukan. 

Pemandangan Bus Sinar Sepadan Kabanjahe yang menembus kabut, manuver tanjakan di Bandar Baru Sumatera Utara membuat Anda berdoa semoga as rodanya sehat. Jika tidak, anak-anak sekolah yang naik di atas atapnya akan terpental.

Dibangun Belanda, untuk angkut kekayaan alam Sumatra

Sebagian ruas jalan lintas Sumatra di bagian utara mula-mula dibangun pemerintah kolonial Belanda untuk kepentingan militer dan mengangkut hasil bumi. Jalan ini sejak awal memang bukan dirancang untuk kendaraan melaju cepat.

Medannya berat. Jurang di kiri-kanan, tikungan tajam, turunan panjang, dan kabut hampir menjadi bagian permanen lanskapnya. Karena itu pula, Jalinsum berkali-kali menjadi saksi berbagai konflik bersenjata.

Di Aceh, jalur Pidie hingga Lhokseumawe pernah menjadi urat nadi logistik Belanda sekaligus wilayah tempat pasukan Daud Beureueh menghadang mereka. Bertahun-tahun kemudian, pada masa DOM, ruas yang sama kembali menjadi jalur patroli militer dan distribusi logistik. 

Kontak senjata bukan peristiwa asing. Petani di sawah pun pernah harus tiarap berjam-jam menunggu baku tembak selesai.

Wilayah Sumatra Timur juga memiliki cerita serupa. Jalan-jalan yang melintasi Labuhanbatu hingga Tapanuli terkenal berat sekaligus menyimpan sejarah panjang gerilya.

Sejujurnya, Sumatra lebih ramah bagi jalur sungai dan laut dibanding jalan darat. Manusialah yang memaksanya menjadi jaringan jalan raya.

Pada masa Orde Baru, jalan lintas Sumatra diperluas hingga menghubungkan Aceh dan Lampung. Jalan itu kemudian menjadi urat nadi distribusi kayu, sawit, karet, batu bara, dan berbagai komoditas lainnya.

Jalinsum akhirnya menjadi salah satu denyut ekonomi Indonesia. Ini klaim yang serius dan benar. Pulau Jawa dalam urusan itu tidak ada apa-apanya. 

Truk-truk pengangkut hasil bumi hilir mudik tanpa henti membawa kekayaan Sumatra ke berbagai daerah.

Ironisnya, tidak semua masyarakat di sekitar jalan ikut menikmati kemakmuran itu. Banyak yang hanya menjadi penonton lalu lintas komoditas bernilai triliunan rupiah.

Di titik inilah kriminalitas menemukan ruang hidupnya. Sebagian warga memilih jalan pintas demi ikut memperoleh serpihan keuntungan dari arus ekonomi yang setiap hari melintas di depan rumah mereka.

Membentuk kelompok kriminal di Jalinsum adalah strategi bertahan dari krisis. Mereka menciptakan metode kriminalitasnya sendiri mulai dari kriminalitas meta-imajinatif sampai inovasi kriminal yang mencengangkan.

Tembak ban, bajing loncat, dan dunia Shinobi di jalan lintas Sumatra

Suatu hari di kapal menuju Batam, saya bertemu seseorang yang mengaku telah pensiun dari dunia kriminal jalan lintas Sumatra. Ia bercerita banyak hal yang sulit dipercaya, tetapi justru terdengar masuk akal jika mengenal kerasnya jalan lintas Sumatra.

Ia mengaku pernah merakit alat penembak ban dari paralon besi yang memanfaatkan tekanan gas. Tujuannya sederhana: melubangi ban truk agar kendaraan berhenti lalu bisa dirampok.

Kini peralatan semacam itu semakin sulit dibuat karena pengawasannya makin ketat. Namun kreativitas dunia kriminal rupanya tidak pernah benar-benar habis.

Ketika cara lama tak lagi memungkinkan, muncul metode lain. Ada yang meloncat dari sepeda motor ke bak truk layaknya adegan film laga. Bajing loncat bukan sekadar istilah, melainkan profesi yang menuntut keberanian sekaligus nekat tingkat tinggi.

Di sisi lain, beberapa sopir mengaku memilih membawa pistol untuk berjaga-jaga ketika mengangkut kendaraan, rokok, atau muatan bernilai tinggi. Di Jalinsum, bertahan hidup kadang terasa lebih penting daripada memikirkan prosedur.

Belum lagi pungutan liar yang hampir menjadi tradisi. Kalimat pembukanya nyaris selalu sama.

“Aku PS, Bang.”

PS adalah singkatan dari Pemuda Setempat. Artinya sederhana: silakan bayar jika ingin perjalanan tetap tenang.

Motif kriminal di jalan lintas Sumatra

Preman jalanan ini setidaknya memiliki tiga motif. Pertama, mencari uang cepat (predatory crime) dengan mematok harga 50.000 rupiah per truk atau mobil pribadi. Ya, semacam jalur tol swasta tanpa persetujuan negara, lah.  

Beberapa amatan, mereka mendapatkan penghasilan jutaan perhari (juru parkir liar seketika tampak tidak terlalu buruk). 

Kedua, penguasaan wilayah yang berlangsung antara parang dan celurit. Untuk motif kedua ini, kamu tidak mengeluarkan uang, cuma kadang keserempet oleh kaki atau tamparan aja. 

Untuk bagian ini, jika kamu merasa pandai ilmu bela diri, lupakan saja ingat petuah Jenny “Run! Forest, Run!”. Beruntung bagi saya yang terbiasa main GTA yang tak segan-segan menabrak NPC yang menghalangi jalan. 

Ketiga, adanya copet, begal atau aksi congkel-mencongkel kendaraan ketika sedang istirahat, jalanan macet, atau saat supir lengah. Untuk motif ketiga ini aksinya sangat beragam sebab aksi ini adalah soal peluang yang melekat pada target sasaran, maka tidak ada rencana matang dari awal hanya aksi spontan, uhuy!

Jalan lintas Sumatra adalah mode expert dalam game simulator bagi supir. Supir truk Jalinsum adalah atlet elit sekelas pembalap F1, diplomat ulung, mekanik terampil, kriminolog, ahli geografi, sosiolog dan filsuf eksistensial dalam satu tubuh. Dan para kriminal?

Mereka sesungguhnya hanyalah produk sampingan yang lahir dari denyut industri raksasa Sumatra. Mereka memang merampas muatan truk, tetapi nilainya mungkin tidak pernah sebesar kekayaan alam Sumatra yang sejak lama diangkut secara legal menuju pusat-pusat ekonomi di Jawa. Nah, bagian terakhir itulah yang sering luput kita bicarakan.

Penulis: Zulfikar RH Pohan
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Catatan Dokter tentang Jalan Lintas Sumatera: Jangan Jadikan Jalinsum Jalur Cepat Menuju Liang Kubur

 

Exit mobile version