MOJOK.CO – Kadang saya merasa dosen sekarang bukan lagi pekerja akademik, tapi admin yang sesekali mengajar. Bahkan melihat harga kopi di kafe saja seorang doktor berpikir keras.
Saya tahu hidup dosen belum benar-benar mapan ketika seorang teman yang baru diwisuda sebagai doktor bertanya dengan wajah serius, “Di kafe itu air putih gratis nggak?”
Padahal beberapa jam sebelumnya ia baru saja berdiri gagah memakai toga. Foto bersama keluarga masih berseliweran di WhatsApp. Ucapan, “Selamat atas gelar doktornya” datang bertubi-tubi. Bahkan ada yang menulis, “Selamat memasuki fase baru kehidupan akademik.”
Fase baru itu ternyata dimulai dengan melihat harga americano. Teman saya akhirnya memilih duduk di warung kopi biasa. Gelar doktornya memang baru, tapi refleks melihat harga sebelum duduk masih tetap sama. Anehnya, itu bukan cerita langka.
Jadi dosen, tapi masih takut lihat harga kopi di buku menu
Di kampus, gelar doktor kadang memang tidak otomatis membuat hidup terasa longgar. Yang bertambah sering kali bukan hanya ilmu pengetahuan, tetapi juga daftar kewajiban.
Baru selesai S3, dosen didorong publikasi. Sudah publikasi, diminta naik jabatan. Sudah lektor kepala, mulai ditanya: “Profesor kapan?”
Kadang saya merasa kehidupan akademik Indonesia ini seperti game yang levelnya terus naik, tetapi hadiah akhirnya tetap belum cukup untuk membeli harga kopi tanpa lihat angka di buku menu.
Lucunya lagi, masyarakat sering membayangkan dosen sebagai profesi yang hidupnya tenang. Datang ke kelas, mengajar sambil membawa buku tebal, lalu pulang dengan aura intelektual yang menenangkan.
Padahal kenyataannya banyak dosen lebih sering membuka portal administrasi daripada membuka jurnal. Grup WhatsApp dosen hari ini bahkan lebih menyerupai pusat notifikasi nasional.
“Mohon segera upload.”
“Data belum sinkron.”
“Deadline besok.”
“Mohon revisi.”
Kadang saya curiga kalau dosen meninggal pun admin kampus masih sempat mengingatkan, “Mohon melengkapi berkas sebelum pukul 15.00 WIB.”
Sebagian besar dosen sebenarnya tidak keberatan belajar. Banyak yang memang suka membaca, suka mengajar, dan menikmati riset. Problemnya, dunia akademik kita perlahan membuat dosen lebih sibuk menjadi operator hidupnya sendiri.
Kadang saya merasa dosen sekarang bukan lagi pekerja akademik, tapi admin yang sesekali mengajar. Yang dikejar bukan cuma ilmu, tetapi juga laporan. Bukan cuma penelitian, tetapi juga unggahan. Bukan cuma gagasan, tetapi juga format PDF maksimal 2 MB.
Dosen sekarang lebih takut portal error menjelang deadline daripada mahasiswa yang namanya diblok karena belum bayar UKT. Sebab mahasiswa masih bisa datang ke bagian keuangan. Sementara dosen biasanya cuma bisa pasrah sambil refresh halaman dan menyebut nama Tuhan pelan-pelan.
Dosen di Indonesia, di depan mengajar dengan tenang di belakang panik biaya jurnal
Belum lagi urusan jurnal. Di kampus hari ini, membuka email dari jurnal kadang lebih menegangkan daripada sidang skripsi. Sebab kita tidak pernah tahu isinya revisi kecil atau justru revisi yang membuat hidup terasa ikut ditolak.
Tidak semua dosen takut sidang. Banyak yang justru lebih takut kalimat, “Reviewer Comments Attached”
Ada dosen yang menghitung honor ngajar demi membayar publikasi jurnal. Ada yang berangkat seminar sambil mencari hotel termurah dalam radius lima kilometer. Ada juga yang kalau konferensi lebih fokus membandingkan harga tiket kereta daripada isi materi presentasi.
Dosen Indonesia memang makhluk ajaib. Di depan kelas bicara epistemologi dengan tenang. Di belakang layar panik karena biaya APC jurnal ternyata lebih mahal daripada isi tabungan.
Mahasiswa mungkin mengira dosennya hidup nyaman karena masih bisa menjelaskan teori sosial selama dua jam tanpa melihat catatan. Padahal malam sebelumnya dosen itu baru saja menghitung apakah bulan ini masih aman kalau harus ada revisi mendadak. Dan di tengah semua itu, jabatan profesor perlahan berubah bukan cuma menjadi simbol prestasi akademik, tetapi juga harapan ekonomi.
Menjadi profesor ibarat mengejar promo hidup
Dulu saya membayangkan profesor adalah manusia yang hidupnya sudah selesai dengan urusan duniawi. Ternyata setelah cukup lama hidup di lingkungan kampus, saya sadar bahwa sebagian dosen mengejar profesor supaya isi kulkas tidak terlalu menyedihkan di akhir bulan.
Di ruang dosen, obrolan tentang profesor kadang terdengar seperti percakapan orang mengejar promo hidup.
“Tunjangannya lumayan.”
“Kalau sudah profesor agak mending.”
“Bisa napas dikit.”
Kalimat-kalimat seperti itu terdengar biasa di kampus, dan semua orang mengangguk paham.
Belum lagi dunia akademik kita juga diam-diam punya kasta sosial kecil-kecilan. Ada yang bercanda soal “doktor kota” dan “doktor kabupaten”.
Doktor kota biasanya lulusan kampus yang namanya membuat orang langsung kagum bahkan sebelum membaca isi penelitiannya. Sementara doktor kabupaten sering harus menjelaskan dulu lokasi kampusnya sebelum dianggap serius. Padahal sama-sama pernah revisi.
Sama-sama pernah dimarahi pembimbing. Sama-sama pernah makan mi instan sambil memperbaiki bab empat.
Dunia akademik memang kadang lucu. Tempat yang seharusnya bicara soal ilmu pengetahuan justru sesekali masih sibuk dengan gengsi administratif dan prestise nama kampus.
Namun, di tengah semua absurditas itu, anehnya banyak dosen tetap bertahan. Padahal kalau dipikir-pikir, hidup akademik sering lebih dekat dengan drama birokrasi daripada romantisme intelektual.
Tapi mungkin memang ada kebahagiaan kecil yang susah dijelaskan. Perasaan ketika mahasiswa yang dulu takut bicara akhirnya bisa presentasi dengan percaya diri.
Atau ketika anak didik yang dulu sering duduk paling belakang tiba-tiba menghubungi beberapa tahun kemudian, “Pak, saya keterima kerja.”
Ada juga kepuasan sederhana saat melihat mahasiswa mulai bisa berpikir runtut, santun saat berbeda pendapat, dan tidak gampang marah hanya karena pandangannya dibantah. Momen-momen kecil seperti itu kadang cukup untuk membuat dosen lupa sebentar pada deadline dan administrasi.
Mungkin itu sebabnya banyak dosen tetap bertahan. Karena di tengah portal error, revisi laporan, unggahan yang gagal terus, dan penghasilan yang kadang bikin napas pendek, selalu ada satu-dua mahasiswa yang membuat semuanya terasa masih layak dijalani.
Ada kebahagiaan yang memang tidak masuk slip gaji. Kebahagiaan ketika melihat anak didik tumbuh menjadi manusia yang lebih baik.
Mungkin itu juga yang membuat banyak dosen tetap datang ke kelas dengan wajah tenang meski semalam baru stres memikirkan biaya publikasi. Sebab pada akhirnya, hidup dosen memang aneh. Gelar akademiknya bisa panjang. Sitasinya bisa banyak.
Teori yang diajarkan bisa rumit, tetapi sebelum nongkrong, tetap saja yang pertama dilihat adalah harga kopi di pojok kanan menu. Barangkali, itulah bentuk paling jujur dari kehidupan akademik kelas menengah di Indonesia hari ini.
Penulis: Oni Tarsani
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA Catatan Getir Dosen Kalcer: Tampil Keren, tapi Cemas Mahasiswanya Jadi Sarjana Menganggur dan tulisan menarik lainya di kanal Esai.
