Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Gempa Lombok Bukan Soal Politik dan Agama, Ini Soal Mau Jadi Manusia atau Tidak

Irwan Bajang oleh Irwan Bajang
8 Agustus 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Cerita langsung dari lokasi gempa Lombok saat detik-detik gempa susulan terjadi. Musibah sepilu itu kok ya masih dikaitkan dengan politik, itu maksudnya apa? Situ manusia?

Saya sedang duduk di teras rumah. Bersama kawan lama, kami membicarakan banyak hal; isu Pilkada kemarin, siapa teman yang mau nyaleg, tanaman bonsai siapa yang paling bagus, siapa teman kami yang jomblo, sampai bisnis ikan, sampai bisnis kapsul undur-undur, hingga sebuah goncangan hebat terjadi malam itu. Segera kami berhamburan, melompat, kabur ke tengah halaman untuk menyelamatkan diri.

Iklan

Bisa dibilang saya adalah yang pertama bereaksi cepat ketika goncangan terjadi. Sebab di antara yang lain, saya sudah punya pengalaman buruk soal gempa di Jogja pada 2006 silam. Sedikit saja tanah bergerak, kenangan traumatik itu langsung muncul. Membuat saya selalu refleks berlari ke luar bangunan daripada orang lain.

Dari luar, di segala penjuru sekitar saya semua orang berteriak, menjerit kaget, takbir, istighfar. “Astagfirullah, gempa. Ya Allah”. Pintu dan jendela berderak, tanah seperti lantai kapal yang dihajar ombak. Kami berdiri limbung dan kepala mulai pening. Saya bergidik membayangkan kengerian gempa Jogja ketika saya masih kuliah di sana. Rasanya masih belum percaya, gempa yang sama menakutkannya melanda saya lagi, tapi beda, kali ini terjadi di kampung halaman saya di Pulau Lombok.

Cepat-cepat saya buka Twitter, membuka akun BMKG, kemudian kaget dengan segera. Tangan saya gemetar begitu membaca peringatan dini tsunami. Dulu ketika gempa Jogja terjadi, informasi yang sama juga muncul, orang-orang yang panik bilang tsunami datang. Saat itu ingatan soal tragedi tsunami Aceh 2004 masih sangat lekat. Semua orang panik.

Bedanya dulu ketika 2006, media sosial belum semasif sekarang, jadi informasi yang kemudian diketahui hanya efek panik karena dua tahun sebelumnya Aceh kena Tsunami sudah sempat bikin Jogja jadi chaos luar biasa selama berjam-jam.

Akan tetapi, sesaat setelah saya melihat gawai saya dan sadar tsunami bisa saja menghantam saya, teman-teman saya, dan keluarga saya, tidak ada sesuatu yang bisa menghibur saya saat itu. Sebab, informasi yang saya dapat langsung dari BMKG. Pulau Lombok hanya setitik dibandingkan luasnya Samudra Hindia yang siap menghantam daratan ini. Listrik padam dan hujan turun membuat suasana makin mencekam.

Baru saja pukul dua pagi kami balik dari lokasi gempa sebelumnya. Menyampaikan amanah para dermawan, menyambangi korban dan berbagi seadanya di sana. Saya bersama teman-teman mengunjungi Sambelia, Obel-Obel, Sambi Elen, Sajang, Sembalun, dan beberapa desa sekitarnya. Lokasi-lokasi tersebut adalah lokasi dengan tingkat kerusakan paling parah sejak gempa Lombok akhir Juli kemarin.

Setelah getaran agak reda, gempa mulai tidak terasa, sembari mencari info yang akurat tentang apa yang baru saja terjadi, saya berselancar dengan sisa baterai gawai seadanya, membuka Facebook dan masuk di beberapa grup regional. Berharap mendapatkan banyak info yang berguna untuk situasi darurat terkini. Mendadak saya melotot, mengelus dada dan ingin membanting gawai saya seketika.

Beberapa orang idiot mulai mengaitkan gempa yang baru saja saya rasakan dengan situasi politik terkini. “Gempa ini adalah azab, salah sendiri TGB mendukung Jokowi, rasakan sekarang azab Allah sudah datang.”

Duh, Gusti Pengeran, kenapa masih saja ada kegoblokan seperti ini? Masih banyak kaum jahiliyah era milenial yang masih ketuker dengkul dan kepalanya, masih bercampur berak dan otaknya. Bukannya bersimpati atau berempati, kicauan dan celotehan di media sosial yang mengaitkan musibah ini dengan preferensi politik benar-benar menyakiti perasaan kami.

Jangan salahkan saya kemudian jika saya membayangkan sebuah spesies bernama Yajuj dan Majuj dengan bentuk wajah seperti pantat penggorengan penyok sedang mengetik status dan seperti kera habis kawin, mereka nyengir mengunggah status tidak masuk akal begitu, beronani di depan publik dalam parade kedunguan.

Orang-orang ini—kebanyakan menggunakan akun palsu—menafsir agama sekenanya, menjadi pengamat politik dadakan, dan melempar tuduhan-tuduhan serampangan. Membuat otak-atik gathuk, cocokologi sesuai dengan imajinasi mereka saat duduk di atas jamban. Urat malu dan urat kemanusiaannya mati karena obsesi dan fanatisme berlebihan yang tak berdasar.

Akan tetapi, saya tak punya waktu meladeni mereka. Di hadapan saya, sahabat-sahabat saya jadi korban. Tanah saya dilahirkan sedang berduka, ketimbang energi kemarahan ini terbuang percuma, saya pikir akan lebih berguna menolong orang-orang di hadapan saya.

Iklan

Bersama dengan rombongan kecil berisi bantuan, saya datang di Sembalun ketika azan magrib selesai berkumandang, mengambil wudhu lalu bergabung di sebuah masjid dengan sebagian atap yang sudah tidak ada. Usai salat, kami berbincang sebentar, mendengar keluhan tentang lambatnya pembagian sembako untuk makan warga yang kena gempa Lombok.

Beberapa orang mengeluhkan pembagian logistik yang terlalu prosedural di beberapa posko besar. Sebagian menilai posko besar seolah seperti sedang ingin membangun supermarket. Tentu hal demikian biasa terjadi di lokasi bencana.

Kami hanya bisa menghibur mereka dengan memberi pandangan bahwa posko sedang memikirkan mekanisme bertahan jangka panjang. Bukan memikirkan kesediaan hari ini saja. Mereka pun mengiyakan dan bersyukur ada bantuan dari relawan-relawan dalam jumlah kecil yang selalu datang membagi langsung ke titik-titik pengungsian. Tidak ada protes atau kemarahan berlebihan dari mereka.

Angin bertiup kencang, membawa kabut dan dingin dari Lereng Gunung Rinjani. Mengirim suhu dingin sampai 14 derajat celcius pada pukul 22.00 WITA. Kami berkeliling mencari beberapa titik pengungsian yang masih belum menerima bantuan. Beberapa orang menyalakan api unggun, mereka menyambut kami dengan penuh kegembiraan. Menurunkan selimut, sarung, makanan dan minuman yang kami bawa sejak sore tadi dari Selong dan Sukamulia.

Kami bermaksud menghangatkan tubuh sebentar, tapi dengan penuh kehangatan, ibu-ibu berteriak dari dapur umum, meminta salah satu dari mereka membawa kopi panas dan makanan kecil untuk dihidangkan pada kami. Beberapa saat kemudian, nasi panas mengepulkan uap segera dibawa keluar ke arah api unggun. Kerupuk, sambel, sayur nangka keluar, dihidangkan segera menyambut kami yang menggigil di balik kemulan sarung dan baju hangat.

Kami ingin menolak sajian dari mereka, tapi mereka kadung menganggap kami tamu jauh. Di sela cerita-cerita lucu, gurauan-gurauan lokal yang konyol, kami makan hidangan sederhana itu. Hidangan yang mungkin paling lezat yang pernah kami makan. Mengingatkan saya ketika tamat SMP dulu, turun dari Puncak Rinjani, nyasar di rumah penduduk, kemalaman, lalu dihidangkan sajian seperti malam ini. Makanan terbaik yang mereka bisa sajikan dan terenak yang pernah saya makan di kondisi duka seperti ini.

Saya mengamati wajah mereka. Wajah yang tetap ceria, wajah yang khawatir tapi tetap gembira. Wajah yang tidak pernah saya bayangkan menjadi sekumpulan para penjahat, yang layak diganjar azab seperti tulisan para idiot di status-status Facebook penuh kebencian itu.

Sungguh mereka bukan para kriminal yang menumpuk bantuan untuk dijual kembali atau disimpan sendiri untuk perut mereka. Mereka yang ada di hadapan saya ini mungkin tidak peduli bahwa di luar sana, orang-orang saling mencaci, memperdebatkan gejala gempa dari sudut pandang sains, agama, dan politik dengan kapasitas otak yang tak lebih dari memori setengah kilobyte.

Ketika tulisan ini saya tulis, gempa susulan lumayan besar kembali terjadi. Kami berhamburan lagi keluar rumah. Beberapa tetangga yang terbangun menggedor jendela dan pintu tetangga lain yang belum bangun. Memberi peringatan untuk selalu waspada. Bukan semata berlari menyelamatkan diri sendiri. Gempa Lombok membuat kami seolah diuji, seberapa berat usaha untuk tidak mementingkan diri sendiri, seberapa hebat kami berusaha membantu dan menyelamatkan yang lain.

Dari jauh, suara sirine ambulan masih terdengar berseliweran. Mereka menjemput korban, mengantar relawan, membawa logistik, dan lain sebagainya tanpa peduli siapa dan untuk apa semua dilakukan. Mereka melakukannya sebab memang kegiatan itu perlu dilakulan.

Ini bukan lagi soal politik, bukan lagi soal agama, ini murni soal kemanusiaan. Suara sirine tersebut seolah mengejek orang-orang tidak berperasaan yang masih memainkan fitnah keji, menyalahkan kelompok politik tertentu sebagai penyebab gempa Lombok.

Sebab untuk peduli kepada korban dari gempa Lombok memang tak perlu susah-susah, hanya dengan menjadi manusia saja. Itu sudah cukup.

Terakhir diperbarui pada 10 Agustus 2018 oleh

Tags: 20042006AcehAgamaambulansazabBMKGgempagempa Jogjagempa LombokJogjajokowikemanusiaanLombokmanusiaOdel-odelpolitikSajangSambeliaSambi Elentgbtsunami
Irwan Bajang

Irwan Bajang

Tukang nulis dan tukang masak. Tinggal di Yogyakarta.

Artikel Terkait

Biaya kos, kisah mahasiswa.MOJOK.CO
Sekolahan

Bertahan di Kos Tanpa Jendela yang Berisik dan Sepanas Oven, Semua Demi Ngirit dan Lolos Ancaman DO Kampus

30 Juli 2026
Kos 150 Ribu di Jogja Saksi Perjuangan Lolos SNBT, Rela Mandi Air yang Bikin Gatal Demi PTN Impian.MOJOK.CO
Sekolahan

Kos 150 Ribu di Jogja Saksi Perjuangan Lolos SNBT, Rela Mandi Air yang Bikin Gatal Demi PTN Impian

29 Juli 2026
Usaha jasa kebersihan, Ready Clean Jogja sampai ke Turki. MOJOK.CO
Sosok

Berawal dari Kegabutan dan UMK Jogja yang “Ngenes”, Kini Mampu Kirim Pegawai ke Turki agar Gelar Sarjana Tak Sia-sia

28 Juli 2026
Nikahkan anak di Lapas Wirogunan Yogyakarta. MOJOK.CO
Kabar

Penuhi Tanggung Jawab sebagai Ayah, Seorang Napi Nikahkan Putrinya di Lapas Wirogunan Jogja

28 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Korupsi makin parah, MUI dorong hukuman mati bagi koruptor MOJOK.CO

Kasus Korupsi di Indonesia Kian Mengkhawatirkan, MUI Dorong Hukuman Mati bagi Koruptor

28 Juli 2026
cut off pertemanan. MOJOK.CO

10 Tahun Persahabatan Berujung Cut Off Mengajari Saya Satu Hal: Kita Bukan Jahat, tapi Memang Sudah Tak Sejalan

31 Juli 2026
Wonogiri Jadi Wilayah dengan Penutupan Perlintasan Liar Terbanyak di Daop 6 MOJOK.CO

Wonogiri Jadi Wilayah dengan Penutupan Perlintasan Liar Terbanyak di Daop 6

27 Juli 2026
Hal-hal yang bisa ditemukan di warung madura tapi tidak dimiliki di Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih MOJOK.CO

Hal-hal yang Bisa Ditemukan di Warung Madura tapi Tidak Ada di Koperasi Desa (Kopdes), Cukup “Berlainan” jika Disandingkan

28 Juli 2026
Nikahkan anak di Lapas Wirogunan Yogyakarta. MOJOK.CO

Penuhi Tanggung Jawab sebagai Ayah, Seorang Napi Nikahkan Putrinya di Lapas Wirogunan Jogja

28 Juli 2026
Peserta Pekan Budaya Difabel di Jogja. MOJOK.CO

Pekan Budaya Difabel 2026: Saat Anak-anak Terbebas dari Stigma lewat Seni dan Terapi di Ruang Inklusif

29 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.