Evolusi Meme Mas Bahlil Ganteng: Saat Algoritma Menyelamatkan Citra Kanda Buahlil

Evolusi Meme Mas Bahlil Ganteng: Saat Algoritma Menyelamatkan Citra Kanda Buahlil MOJOK.CO

Ilustrasi Evolusi Meme Mas Bahlil Ganteng: Saat Algoritma Menyelamatkan Citra Kanda Buahlil. (Ega Fansuri/Mojok.co)

MOJOK.COTujuan awal dari meme Mas Bahlil Ganteng mungkin untuk menelanjangi ego Kanda Bahlil, eh malah jadi lucu dan menggemaskan.

“M B G, Mas Bahlil Ganteng…” adalah puncak komedi satire terhadap elite politik yang belakangan ini sukses mengoyak kewarasan warga republik TikTok, Instagram Reels, dan Youtube Shorts.

Lebih dari itu, himpunan meme Bahlil Lahadalia agaknya telah sampai pada titik paling kronis. Tapi ini menurut saya yang nyaris saban hari mendapat DM yang sangat meme-Bahlil-kan.

Pertanyaannya, “buah apa yang paling manis? Buahlil!!”

Jika kamu membaca pertanyaan itu sambil nyanyi, walau dalam hati, maka kamu telah sah menjadi salah satu konsumen aktif dari sesuatu yang bahkan kamu sendiri tak pernah memilihnya, menghendakinya, apalagi membutuhkannya.

“My little bolu ketan…”

Dah, hop!

Gara-gara Kanda Bahlil, warganet kalah telak melawan algoritma

Sebagai masyarakat sipil, kita harus mengakui kenyataan bahwa warganet Indonesia baru saja kalah telak melawan klenik algoritma. Niat hati ingin melakukan perlawanan lewat jalur shitposting, eh malah berujung memberikan kampanye branding gratisan paling sukses abad ini untuk sang menteri cum politisi.

Sebelum lagu yang disinyalir buatan akal imitasi (AI) itu viral, media sosial kita telah lebih dulu dihujani konten atau tren “Ups kanda suka, dinda punya gaya.” Di TikTok, konten “Kanda-Dinda” ini sempat menjadi tren.

Sejauh yang saya amati di media sosial, tragedi kultural fenomena Kanda Bahlil ini bermula dari wawancara di Youtube, waktu sang Menteri ESDM sekaligus Ketua Umum Golkar ini dengan luwesnya menggunakan sapaan “Kanda-Dinda”.

Warganet, dengan kelincahan jemarinya yang terlanjur muak dengan elitisme berbondong-bondong membanjiri kolom komentar. Mereka menganggit puja-puji hiperbolis dan absurd.

Komentar apapun tentang Bahlil akhirnya memberikan nuansa hiburan. Sosok Bahlil pun tampak lebih energik daripada pencapaian kebijakan yang dia hasilkan di kursi eksekutif.

Apa yang dilakukan warganet secara sporadis itu adalah sebentuk praktik oppositional reading.

Mesin membuat Kanda Bahlil lucu dan menggemaskan

Dalam disiplin cultural studies, ini berarti publik secara sadar menolak pesan dominan dari seorang figur penguasa, memelintirnya menjadi lelucon satire untuk menelanjangi ego pejabat tersebut. Singkatnya, itu adalah sebentuk perlawanan kultural.

Namun, Stuart Hall, penggagas konsep oppositional reading, mungkin akan emosional melihat kelanjutan ceritanya. Komentar-komentar satire itu kini dipungut oleh kreator, dilempar ke dalam kuali generator musik AI, dan disulap menjadi irama yang, brengseknya, kelewat catchy.

Saat lagu itu masuk ke pusaran algoritma dan dipakai ratusan ribu kali untuk joget dan lip-sync, maknanya berputar 180 derajat. Generasi baru yang mengonsumsi sound tersebut barangkali tak lagi membacanya sebagai satire.

Mereka kini tampaknya melakukan dominant reading: menerima lagu itu secara harfiah sebagai sesuatu yang imut, lucu, dan menggemaskan. Ruang kritis dibajak oleh mesin. Niatnya nge-troll, hasilnya justru glorifikasi.

Celakanya, lagu My Little Bolu Ketan bukan satu-satunya glitch dalam matriks kewarasan politik kita saat ini. Jika dilihat lebih jeli, reproduksi citra sang menteri menjadi komoditas cringe itu telah beroperasi secara sistematis dan masif.

Masih ingat meme “matikan kompor” awal tahun 2026 ini?

Alih-alih menciptakan kepatuhan, petuah Kanda Bahlil kepada warga pengguna gas tabung (subsidi) LPG justru berujung pada reduksi wacana: dari transisi energi menjadi guyonan slapstick di ruang media.

Agak lawas, medio 2025, linimasa media sosial kita sempat dipenuhi rentetan parodi “Kajian Agama Bersama Ust. Bahlil” yang memosisikan dirinya seolah-olah figur pop-religius yang jenaka.

Kritik rasional lumpuh oleh hegemoni politik cringe

Ironisnya, di balik gelak tawa warganet, ada manuver depolitisasi yang cukup mengerikan.

Misalnya, di dunia nyata Kanda Bahlil bisa saja berpidato dengan ngeri-ngeri sedap soal “Raja Jawa” yang, katanya, tak boleh dianggap remeh. Saat itu, orasinya bahkan menjadi metafora feodal paling telanjang yang sukses bikin bulu kuduk para aktivis demokrasi merinding.

Di dunia nyata pula, Kanda Bahlil bisa meraih gelar doktor dari kampus kuning dalam waktu yang, saking kilatnya, membuat para pejuang disertasi berdarah-darah merasa seperti remah-remah rengginang. Publikasi ilmiah dikorbankan demi lulus cepat, etik akademik dipertanyakan habis-habisan oleh publik hingga guru besar.

Tapi, media sosial membentangkan citra Kanda Bahlil yang sama sekali berbeda. Semua horor neo-feodalisme dan keajaiban akademik itu menguap begitu saja. Publik di platform digital segan mendebat etika publikasi atau bahaya oligarki. Kita kini asyik bikin konten “aku tim harta, takhta, kakanda.” Kritik rasional lumpuh total oleh hegemoni politik cringe.

Baca halaman selanjutnya

Gara-gara, “Ups kanda suka”, kita lupa siapa Bahlil Lahadalia

Gara-gara, “Ups kanda suka”, kita lupa siapa Bahlil Lahadalia

Dan, di sinilah kengerian sesungguhnya mencapai klimaksnya. Kengerian yang membuat almarhum Jean Baudrillard mungkin tersenyum sinis sambil bergumam, “Kan sudah kubilang…”

Kita dibuat seolah lupa siapa Bahlil Lahadalia di alam material. Sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), tanda tangannya adalah restu bagi alat berat untuk mengeruk isi perut bumi.

Sementara itu, jempol kita masih asyik menyuplai tanda hati pada bejibun video imut Kanda Bahlil. Padahal, realitas material institusi yang dia pimpin sedang bergerak tanpa ampun mengeruk isi bumi. 

Saat telinga kita dijejali lirik “Ups kanda suka”, di luar sana ada bianglala perizinan tambang dan bisnis ekstraktif lainnya.

Algoritma media sosial akhirnya sukses mengorkestrasi simulakra dengan paripurna. Ia membunuh citra seorang menteri yang memegang kendali penuh atas eksploitasi alam Indonesia, dan menggantinya dengan entitas Zayn Malik versi bolu ketan.

Dengan kata lain, sang menteri telah teralienasi dari kebijakan tambangnya sendiri di kepala audiens muda. Lagi pula, sulit sekali menuntut akuntabilitas soal lubang tambang yang menganga dari seseorang yang secara kultural sudah disepakati sebagai badut digital yang lucu.

Bekal literasi kritis untuk memahami meme

Jangan salah sangka, saya sama sekali tidak sedang mengajak siapa pun menjadi kaum puritan yang mengharamkan meme. Dalam demokrasi, kritik satire itu sah, penting, dan saya sendiri amat menikmatinya sebagai coping mechanism agar kewarasan tetap terjaga di tengah karut-marut negara ini.

Masalahnya, satire hanya akan menjadi pukulan telak jika audiensnya telah dibekali literasi kritis untuk membongkar makna tersirat (mafhum mukhalafah) di balik lelucon tersebut. Dalam Carnivalesque (karnavalesk), Mikhail Bakhtin bilang bahwa melalui parodi dan kejenakaan, rakyat menemukan ruang subversif untuk menelanjangi kesakralan dan menertawakan elitisme sang penguasa. 

Jadi secara teori, satire adalah senjata oposisi yang mematikan. Di sini, hierarki kekuasaan di ruang sosial dijungkirbalikkan. 

Tanpa literasi itu, komedi gagal menjadi alat perlawanan dan justru berbalik menjadi kepatuhan tak sadar yang melanggengkan status quo. Dan ironisnya, di titik inilah kita tampak kepayahan.

Kita bahkan masih harus berlari sangat jauh menuju garis start literasi kritis. Tak heran jika sarkasme politik berlapis tentang oligarki justru ditelan mentah-mentah sebagai keimutan Bolu Ketan yang 100% menggemaskan.

Saya sadar bahwa di era hiperrealitas, tak ada yang lebih menyeramkan dari menertawakan penguasa. Kita terlalu percaya diri bahwa sarkasme kita kebal terhadap mesin kapitalisme digital. Padahal, kita sedang asyik menari di atas genderang yang algoritmanya mereka kuasai, sementara bumi tempat kita berpijak perlahan-lahan dikeruk habis tanpa kita sadari.

Penulis: Anwar Kurniawan
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Sisi Lain Lagu “Kicau Mania” Ndarboy Genk: Berbahaya dan Bukan Perkara Remeh dan tulisan menarik lainnya di kanal Esai.

 

Exit mobile version