Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Dexamethasone Jadi Obat Corona? Hm, Cek Syarat dan Ketentuannya Dulu Dong

Alexander Arie oleh Alexander Arie
19 Juni 2020
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – “Dexamethasone” jadi viral di Indonesia setelah WHO merilis hasil penelitian obat ini. Klaim sebagai obat corona pun bermunculan di grup wasap bapak-bapak.

Mengingat layar televisi saya satu-satunya dijajah oleh tontonan Peppa Pig dan Blippi, mau tidak mau akses berita sehari-hari lebih banyak dari telepon genggam. Cuma, ya, zaman sekarang itu berita-berita di telepon genggam sangat identik dengan judul-judul mengesalkan. Apalagi kalau topiknya sudah tentang (((OBAT CORONA))).

Iklan

Beberapa hari terakhir, saya membaca di LINE Today setidaknya dua judul menggemaskan yaitu “Dexamethasone, ‘Obat Warung’ yang Disebut Ampuh Sembuhkan Covid-19, Sebenarnya Obat Apa?” dan “Mengenal Dexamethasone yang Disebut Ampuh Sebagai Obat Corona”.

Nama Dexamethasone mengemuka sesudah pada 16 Juni 2020, WHO mengeluarkan rilis bahwa mereka menyambut baik hasil penelitian pendahuluan perihal khasiat dexamethasone pada penanganan pasien positif corona yang kritis. Rilis lengkapnya bisa dibaca sendiri di sini.

Iya, sekali lagi: YANG KRITIS. Dalam artian, tentu saja yang sudah pakai oksigen atau ventilator. WHO sendiri juga menulis bahwa khasiat hanya tampak pada pasien berat dan tidak diobservasi pada pasien dengan gejala lebih ringan.

Risetnya sendiri, menurut WHO, dilakukan oleh pemerintah Inggris Raya, University of Oxford, dan rumah sakit di Inggris Raya sendiri. Protokolnya bisa teman-teman baca sendiri di sini. Bahasanya tidak terlalu sulit, masih bisa dipahami bagi orang yang TOEFL-nya 700 tiga kali tes kayak saya.

Kita sudah punya contoh berulang bahwa ketika suatu obat diumumkan memiliki dampak positif pada corona, terus barangnya jadi kosong di pasaran.

Pertama, waktu klorokuin disebut-sebut oleh Presiden yang rajin nge-tweet, Donald J. Trump, serta kemudian diikuti oleh Presiden Jokowi. Kedua, beberapa bulan lalu juga sempat ada periode vitamin C maupun imunomodulator sampai kosong di pasaran karena dianggap dapat membantu mencegah tertular corona.

Pengumuman terapi corona oleh Universitas Airlangga, Badan Intelijen Negara (BIN), dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sejauh ini tidak terlalu menciptakan kondisi orang yang berbondong-bondong memborong.

Mungkin, karena ada beberapa tipe yang diumumkan sekaligus dan obatnya juga bukan obat yang familiar di level rakyat kebanyakan. Untuk kasus ini, posisinya adalah menuju uji klinis alias uji pada manusia. Ini fase paling bikin deg-degan dalam proses riset obat. Jadi, semoga berhasil, yha~

Masalahnya, ini kemarin saya ke apotek untuk beli vitamin—yang stoknya sudah normal di pasaran—eh sebelah saya bapak-bapak yang kayaknya tipe penerima informasi di grup WhatsApp yang baik, tengah membeli dexamethasone. Beliau agak sulit melafalkan nama obat yang agak ribet ini, jadi kepada petugas apotek beliau menunjukkan tulisan di WAG itu.

Dia jadi beli atau nggak? Kurang paham, soalnya saya sudah keluar apotek duluan. Akan tetapi, setidaknya kita bisa paham bahwa ada gap informasi di masyarakat yang pada titik tertentu berpotensi menimbulkan kesalahan.

Oke, jadi mari kita perjelas sedikit.

Dexamethasone adalah obat dari golongan steroid. Indikasinya kalau menurut Informatorium Obat Nasional Indonesia (IONI) adalah antara lain untuk supresi inflamasi dan gangguan alergi, serta beberapa penyakit lainnya.

Sederhananya, sih, kalau menurut Prof. Zullies Ikawati dari UGM dalam status Facebook-nya, dexamethasone digunakan untuk mengobati peradangan dan alergi. Ngomong-ngomong, kita butuh banyak profesor seperti Bu Zullies, mosok laman Facebook kita dikuasai semata-mata Iqbal Aji Daryono?

Nah, pada pasien corona yang parah—dan sudah butuh oksigen serta ventilator—umumnya terjadi peradangan berat. Tampaknya, dexamethasone berperan pada titik ini. Menekan badai sitokin yang meningkatkan risiko kematian.

Maka, kalau bapak-bapak di apotek tadi dalam kondisi baik-baik saja alias belum butuh oksigen apalagi ventilator terus beli dexamethasone, ya tentu saja ora mashoook.

Itulah sebabnya banyak tenaga medis di media sosial langsung bergegas melakukan edukasi ke publik soal klaim obat corona ini, di tengah kesibukan masing-masing dalam mengurus pasien maupun mengurus netizen.

Iklan

Bukan apa-apa sih, soalnya meskipun dalam jangka pendek tidak menyebabkan efek samping yang berarti, tetapi dalam jangka panjang plus dosis yang besar, efek sampingnya juga besar. Sebagai gambaran, pada riset yang dilakukan itu dosis dexamethasone-nya adalah 6 miligram sehari, selama 10 hari, baik oral (sirup atau tablet) maupun sediaan intravena.

Ketika dexamethasone digunakan sebagai swamedikasi alias pengobatan mandiri dengan maksud untuk pencegahan, dosisnya tentu jadi antah berantah. Hal ini tidak hanya diedukasi di Indonesia. Kalau ngecek Twitter, para dokter di Uganda, Pakistan, India, dan banyak negara lain juga melakukan hal yang sama. Ternyata gap informasi kesehatan terutama soal corona terjadi di begitu banyak negara.

Oke, kalau dexamethasone dikonsumsi secara sembarangan, apa efek sampingnya? Banyak, Kak. Bisa peningkatan kadar gula darah, moon face, keropos tulang, hingga yang paling penting dalam urusan corona: menekan sistem imun.

Jadi, kalau dexamethasone dibeli dan dikonsumsi secara sembrono bermodal kabar di WAG maka hasilnya salah-salah malah menurunkan sistem imun yang berarti membuka lebar-lebar gerbang tubuh kita pada kehadiran SARS-CoV-2 dengan segala ekspansinya.

Ibaratnya, tanpa minum dexamethasone tentara kita sudah siap-siap di posisinya. Terus muncul obat itu yang justru menyuruh sebagian tentara untuk istirahat saja. Walhasil, sistum imun tubuh jadi menurun dan tubuh lebih rentan tertular Covid-19.

Satu hal penting kalau sudah membaca tentang (((OBAT CORONA))) di media adalah turunkan ekspektasi serendah-rendahnya terlebih dahulu, sebab meriset obat (khususnya obat corona) itu bukanlah semudah merebus air atau mengkritik dokter Tirta di Twitter. Dengan demikian, kita bisa sedikit lebih kritis dalam menyikapi informasi yang muncul.

Jadi kalau ada berita bilang obat A berkhasiat jadi obat corona, cek dulu penelitiannya sudah sampai uji klinis atau belum. Kalau sudah, ujinya dilakukan pada pasien bergejala berat, ringan, atau malah tanpa gejala.

Hal ini penting agar kita tidak kebanyakan berharap. Bukan apa-apa, di politik soalnya harapan kita sebagai rakyat sudah terlalu tinggi dan ujung-ujungnya kan ambyar. Janganlah hal yang sama terjadi di urusan kesehatan juga~

BACA Klaim BPOM Obat Corona Ningsih Tinampi dan Hal Yang Perlu Diluruskan atau tulisan Alexander Arie lainnya.

Terakhir diperbarui pada 24 Februari 2021 oleh

Tags: COVID-19obat coronaWHO
Alexander Arie

Alexander Arie

Universitas Indonesia. Tinggal di Jakarta. Asli Bukittinggi.

Artikel Terkait

Kisah pengusahaan binaan program UMiMAX dari Pertamina. MOJOK.CO

Kisah Para Ibu Jual Kopi Keliling usai Suami Kena PHK, Relakan “Cincin Terakhir” agar Anak Bisa Sekolah

26 Juni 2026
Z sarjana ekonomi di Undip. MOJOK.CO

Apesnya Punya Nama Aneh “Z”: Takut Ditodong Tiba-tiba Saat Kuliah, Kini Malah Jadi Anak Emas Dosen di Undip

27 November 2025
Naik Kereta Api di Jogja Tak Harus Gunakan Masker Lagi. MOJOK.CO

Naik Kereta Api di Jogja Tak Harus Gunakan Masker Lagi

13 Juni 2023
Kritik untuk Jogja Sebuah Cinta yang Tidak akan Kita Menangkan MOJOK.CO

Kritik untuk Jogja: Sebuah Cinta yang Tidak akan Kita Menangkan

7 Juni 2023
KTR Malioboro.MOJOK.CO

Kasus Covid-19 di DIY Meningkat Tajam, Segera Vaksinasi Masyarakat Berisiko Tinggi

2 Mei 2023
vaksin booster kedua mojok.co

Pemerintah Stop Kirim Vaksin ke DIY karena Capain Booster Kedua Rendah Selama Ramadan

30 Maret 2023
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Sisi lain blusukan kampung di Surabaya Pusat. MOJOK.CO

Sisi Lain Tren Blusukan Kampung: Nggak Seru seperti di Medsos, Malah Dicurigai Pencuri dan Dianggap Tak Tau Adab

20 Agustus 2026
Shifana, pemain Timnas U-16 Indonesia dibayangi pemain Yordania, Alma Odai di pertandingan semifinal Srikandi Merdeka Cup 2026. Indonesia menang dengan skor 3-0 di laga semifinal, Jumat (21/8).

Timnas Putri U-16 Indonesia Bungkam Yordania 3-0, Thailand Menanti di Final Srikandi Merdeka Cup

22 Agustus 2026
Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
ilustrasi - pekerja (Ega Fansuri/Mojok.co)

Pelarian Laki-laki Burnout usai Dihantam Pekerjaan tapi Dipaksa Kuat karena Tuntutan Kepala Keluarga Ideal

20 Agustus 2026
Garuda Pertiwi Menantang Thailand di Final Srikandi Merdeka Cup 2026, Pertarungan 2 Raksasa Tanpa Cela

Garuda Pertiwi Menantang Thailand di Final Srikandi Merdeka Cup 2026, Pertarungan 2 Raksasa Tanpa Cela

22 Agustus 2026
Jangan remehkan antrean Stasiun Lempuyangan, Jogja, di jam pagi untuk keberangkatan Kereta Api (KA) Ekonomi Sri Tanjung MOJOK.CO

Antrean Pagi Stasiun Lempuyangan Jogja Selalu “Keos” dan Bikin Tegang, Datang Lebih Awal Tak Jadi Solusi

21 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.