Derita Rumah Pinggir Jalan dan Usaha Bersyukur Udah Nggak di Kontrakan

Derita Rumah Pinggir Jalan dan Usaha Bersyukur Udah Nggak di Kontrakan MOJOK.CO

Derita Rumah Pinggir Jalan dan Usaha Bersyukur Udah Nggak di Kontrakan MOJOK.CO

MOJOK.COPunya rumah di pinggir jalan raya itu memberi banyak derita. Namun, kini, saya bisa bersyukur nggak lagi tinggal di kontrakan.

Zaman sekarang, punya rumah sendiri itu rasanya bikin tenang. Enggak lagi tinggal di kontrakan atau ngekos, tapi di rumah milik sendiri. Meskipun sangat sederhana, tetap saja statusnya punya sendiri. Asalkan cukup nyaman untuk terlelap, mininal beratap dan berjendela.

Yah, meskipun rumah yang sudah bertahun-tahun keluarga saya tinggali ini nggak punya jendela. Iya, serius, rumah kami nggak punya jendela. Rumah pinggir jalan raya Kota Padang, kalau ada jendela, malah repot banget. Debu dan asap kendaraan bakal leluasa berkawan sama perabot di dalam rumah.

Dulu saya pernah bertanya ke ibu, “Kenapa nggak pindah rumah aja? Kita tinggal di rumah seperti kontrakan lama dulu.”

Ibu menjawab dengan penuh kebijaksanaan sekaligus ancaman.

“Ya ini rumah kita, sekaligus tempat mencari uang. Disyukuri saja kita sudah punya rumah sendiri.” (ini kebijaksanaan ibu kala itu)

“Memangnya kamu mau putus sekolah? Kalau uangnya habis untuk pindah balik ke kontrakan, terus nggak cukup buat sekolah bagaimana?” (Nah, ini bagian ancamannya)

Rumah kami yang dulu memang cuma kontrakan di dalam komplek perumahan sederhana. Meskipun sederhana, tapi ada banyak alasan yang menjadikan rumah itu, menurut saya, lebih nyaman suasananya. Jadi, sekarang, punya rumah di pinggir jalan raya persis itu memberi banyak penderitaan.

Rumahku ladangku

Oran tua saya memilih rumah ini karena beberapa pertimbangan. Alasan paling kuat ya karena di sini kami bisa mencari nafkah. Bapak dan ibu membuka sekaligus memberi nama tempat usaha kami kayak gini: “Toko Grosir” biar agak keren padahal ya cuma warung.

Jadi, warung itu jadi bagian depan rumah kami. Sebagian dipakai untuk tempat tinggal, sebagian warung. Spanduk besar bertuliskan nama warung terpampang di luar. Jadi, kadang susah membedakan sapaan “Permisi!” dari orang yang datang. Antara memang tamu atau calon pembeli.

Kalau misal dijawab, “Ya, cari siapa?” Eh dijawab, “Enggak, mau beli rokok. Dua batang saja.” Ah, kadang saya lupa diri karena dulu sering menerima tamu waktu masih di kontrakan. Kalau sekarang, tetangga kiri dan kanan itu nggak ada, tapi tempat usaha juga.

Ada usaha pengobatan alternatif, obat kuat, warung makan, warung pulsa, toko listrik, bengkel, dan lain-lain kalau digabungkan jadi pujasera.

Cuma 1 pintu masuk dan nggak ada jendela

Dulu, waktu masih di kontrakan, saya pengin punya rumah dengan jendela besar. Biar rumah itu sejuk. Eh, ketika pindah rumah, bukannya ada jendela, ini malah nggak ada. Alasannya yang seperti yang saya bilang di awal tulisan.

Pintu masuk pun cuma 1, yaitu lewat depan, lewat bagian warung. Jadi sedikit sesak kalau-kalau ada tamu datang.

Beruntung rumah ini sudah sedikit diperlebar. Bapak membeli tanah di sebelah. Jadi pintu kami ada 2 sekarang. Sebelah untuk tamu, sebelah untuk usaha.

Namun, kalau dilihat dari depan, bangunan tambahan itu malah seprti kurungan. Masih tetap nggak ada jendela, ditambah teralis yang memagari pintu. Pintu-pintu sengaja disekat sangat rapat mengingat maling di sini sangat kreatif ketika beraksi.

Menjadi saksi kecelakaan

Ini risiko paling pertama yang saya temui. Baru pindah dari kontrakan, sudah ada suara motor berdecit diiringi teriakan keras seseorang. Rupanya kecelakan motor terjadi di depan rumah kami. Tidak cuma sekali, tapi rutin dari pagi, siang, sore, dan malam. Semacam hobi atau ada jadwalnya saja.

Jujur saya takut ketika melihat kecelakaan. Namun bagaimana lagi, jelas terjadi di depan rumah. Pernah terjadi, lagi jaga di depan warung, ada motor kecelakaan tunggal. Decit suara rem dan ban keras sekali. Lalu si pengendara jatuh menggelinding di depan saya persis. Saya kira luka parah, tapi dia langsung berdiri dan malah tersenyum ke arah saya. Jagoan.

Sering terjadi korbannya kecelakaan itu dibawa ke depan warung untuk diobati. Kadang ibu lari-larian membawa kapas dan obat merah. Sesekali warga yang membantu juga meminta air untuk diberikan kepada korban dan ibu memberinya secara cuma-cuma.

Nggak punya tetangga

Rumah di pinggir jalan besar, risikonya nggak punya jendela… dan tetangga. Iya, kami benar-benar nggak punya tetangga yang bisa rutin ditemui kala libur seperti dulu di kontrakan.

Bagaimana mau bertamu. Mau silaturahmi ke sebelah kanan, yang ada toko obat. Mau beli paracetamol? Kalau ke kiri, bengkel. Mau jajan spion dan ganti oli?

Hari Minggu? Nah, ini hari paling baik untuk bertetangga dan silaturahmi. Tapi, mau ke kanan atau kiri, sepi semua. Hari libur, tetangga kami nggak ada. Bagaimana ada, mereka hanya menjadikan hunian tersebut sebagai ladang mencari nafkah. Hari libur ya balik ke rumah masing-masing.

Bising

Jalan raya, jalan besar Kota Padang itu tiada matinya. Jarang sekali sepi. Bahkan sampai dini hari, masih ramai itu lalu-lintas. Kalau pagi sampai malam, ramai motor dan mobil. Ramai juga orang yang susah payah mau menyeberang. Kalau tengah malam, truk dan tronton. Depan rumah saya seperti arena pawai saja. Ramai. Ya maklum kalau jadi bising.

Beberapa bulan pindah dari kontrakan, rasanya nggak betah. Dulu, kontrakan kami masih terbilang tenang dan nyaman. Bapak dan ibu, sih, tahu saya sempat tidak betah. Keduanya selalu bilang: “Sabar, beryukur, sekarang punya rumah sendiri, sudah tidak di kontrakan yang bukan milik kita.”

Maling

Ibu saya sangat suka menanam. Seingat saya, waktu pindah rumah, ibu cuma bawa satu pot tanaman. Nggak lama, ibu kembangkan jadi beberapa. Saya kebagian tugas menyiram di pagi dan sore. Saat Matahari belum naik dan saat sinarnya sudah tidak lagi terik.

Tanaman ibu, sebagian besar, memang tanaman hias. Mengingat bagian belakang rumah kami yang tertutup, alias tidak ada teras belakang, sudah pasti menanam ya di depan. Di pinggiran jalan raya persis. Mau di mana lagi.

Ada daun sirih, timun tikus, lidah buaya, daun bawang, daun ruku-ruku, daun serai adalah sedikit tanaman yang saya tahu memang bermanfaat. Namun sayang, karena tahu manfaat ini, orang-orang tanpa sungkan mengambilnya tanpa izin. Serasa kebun miliknya sendiri.

Pernah sekali saya perhatikan. Ada seorang ibu melintas depan rumah. Usai bisik-bisik dengan temannya, dia memotong tanaman ibu lalu memasukannya ke dalam tas belanja. Ketika dia pergi, saya tengok tanaman itu sudah rusak karena dipatahkan dengan paksa. Padahal kalau mau, tinggal bilang ke ibu pasti dikasih cuma-cuma.

Pot-pot tanaman yang tersisa satu per satu malah berkurang. Hilang tanpa jejak. Ada juga yang diambil tanamannya, potnya ditinggalkan. Ada yang suka potnya, tanamannya yang ditinggal. Aih, repot sekali jadi orang.

Baralek, melipir ke jalan besar

Di Kota Padang, sebagian besar hajatan pasti di rumah masing-masing. Cuma bagaimana jadinya kalau rumahnya seperti rumah saya di pinggir jalan raya?

Pertama, ya mohon maaf kalau pasang tenda itu melipir ke jalan. Ini sudah sama-sama tahu antara pengendara dan yang punya Baralek atau pesta orang Minangkabau. Sama-sama tahu pasti menimbulkan kemacetan.

Kedua, keluarga yang pesta selalu menyiapkan petugas parkir dan pengatur lalu-lintas. Ini juga sama-sama tahu. Yang punya pesta tahu diri menjadi penyebab kemacetan sehingga harus menjaid pengurai juga. Meskipun pada akhirnya tetap semrawut.

Yah, demikian derita hidup di rumah pinggir jalan raya. Seiring waktu, saya bersyukur tidak lagi tinggl di kontrakan. Orang seangkatan saya sampai sekarang kesulitan punya rumah sendiri. Mengingat harga tanah dan rumah semakin mahal dan tidak terjangkau. Iya, ini bukan masalah milenial miskin dan Gen Z saja, ya.

BACA JUGA Cara agar Milenial Miskin Bisa Punya Rumah dan tulisan lainnya di rubrik ESAI.

Exit mobile version