MOJOK.CO – Surat terbuka untuk KUA dan marketer-nya dari generasi cemas yang selalu dihantui pertanyaan, “Kapan nikah?” setiap momen Lebaran.
Satu-satunya yang membuat saya malas menghadapi momen kumpul keluarga seperti Lebaran adalah teror klasik dari pertanyaan Om dan Tante tentang, “Kapan nikah?”
Sebenarnya, saya punya jawaban yang cukup baik untuk Lebaran tahun ini. Misalnya, “Setelah Donald Trump meninggal,” atau, “Waktu dapur MBG tutup.”
Mungkin terdengar asal bunyi (asbun), tetapi saya tidak berbohong. Saya mulai ragu melihat banyak hal di tengah kondisi negara dan dunia yang kacau saat ini, tidak terkecuali pernikahan.
Maka dari itu, dengan kerendahan hati, saya ingin menuliskan ini, terkhusus untuk Bapak/Ibu KUA (Kantor Urusan Agama). Selain lembaga yang menjadi poros dalam bimbingan pernikahan dan keluarga sakinah, saya lihat belakangan KUA punya reputasi gemilang lewat pemasarannya.
Siapa tahu, ini bisa memantik diskusi agar tren pernikahan yang menurun drastis pada 2025 bisa kita bahas lebih mendalam. Bukan sekadar menyalahkan karakter generasi sekarang yang makin individualistis.
Konten KUA, pernikahan, dan kisah cinta yang paradoks
Sebelumnya, saya ingin mengapresiasi konten-konten menghibur yang dikeluarkan oleh KUA dengan tujuan mengingatkan para “generasi cemas” seperti kami untuk menikah.
Kami diberi asupan tentang indahnya pernikahan, hidup berpasangan dengan orang yang dicintai. Ini adalah sebuah evolusi besar.
Dahulu, pernikahan punya banyak motif yang mendahuluinya; entah keturunan, ekonomi, martabat keluarga, hingga alienasi politik. Sekarang, pernikahan identik dengan cinta.
Namun, sebagaimana yang dituliskan Eva Illouz dalam Consuming the Romantic Utopia, saya percaya bahwa wacana tentang cinta ini dikonstruksi. Film romantis yang menampilkan kisah cinta tanpa syarat, misalnya, turut menopang bangunan ini—familiar dengan cerita perempuan miskin menikah dengan CEO? Itu contohnya.
Para ahli kesehatan mental juga aktif mengampanyekan kesejahteraan emosional selama menikah. Sehingga tidak aneh jika dalam ekspektasi kami, cinta dalam pernikahan hukumnya fardu.
Namun, saat ini kami sudah terpapar banyaknya informasi yang memperlihatkan pernikahan tidak sehat karena “hanya” mengandalkan cinta. Sebut saja KDRT, perselingkuhan, hingga penghilangan nyawa. Dari sini kami sadar butuh kekuatan logika agar cinta tadi tidak buta dan lupa arah.
Kontrak pranikah dianggap sesangsian pada takdir Tuhan?
Saya ingat dahulu sempat ramai dibahas tentang “kontrak pranikah”. Isinya semacam perjanjian yang mengatur konsekuensi yang terjadi selama pernikahan. Utamanya ini menyangkut harta, meski ada yang menambahkan aspek-aspek nonmaterial lainnya. Namun, pada dasarnya, otoritas individu juga penting meski sudah hidup bersama.
Memang, tidak semua dari kami menganggap perjanjian ini ideal. Masih banyak yang percaya bahwa pernikahan itu sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa, termasuk rezeki. Adanya kontrak ini seakan menjadi wujud kesangsian terhadap takdir Tuhan.
Namun percayalah, Bapak/Ibu, kami saat ini kebingungan. Saya akan coba menjelaskannya dengan sedikit melebarkan pembahasan kita. Semoga Bapak/Ibu marketer KUA masih sabar membacanya.
Bapak/Ibu KUA, kondisi kita sedang kacau, bagaimana caranya pernikahan membuatnya stabil?
Sebagai perempuan, saya pernah beranggapan bahwa menikah membuat saya berhak dinafkahi sepenuhnya oleh suami. Namun, belakangan saya melihat ada banyak pernikahan yang mengharuskan kedua belah pihak mencari nafkah bersama. Belum lagi para sandwich generation yang dituntut untuk menghidupi orang tua mereka juga.
Saya coba berefleksi: apakah ini ada hubungannya dengan tingginya angka pengangguran di negara kita?
Di lingkaran terdekat saja, ada banyak teman saya yang masih luntang-lantung mencari pekerjaan yang layak. Termasuk teman-teman saya yang lulusan S-2, harus bertarung dengan kondisi yang menempatkan mereka seakan overqualified karena pendidikan, tetapi juga underqualified karena minim pengalaman.
Membaca fenomena ini membuat saya jadi jauh lebih pintar dalam menyelamatkan diri. Kemandirian dibungkus dalam ambisi mengenali nilai diri, dan bekerja adalah pilihan paling realistis.
Dalam kondisi ini, rasanya sah kalau saya mulai meningkatkan standar dalam memilih pasangan. Saya tidak lagi mencari orang yang memenuhi diri secara materi. Namun, di sisi lain, saya juga tidak mau dengan laki-laki yang memanfaatkan ini untuk ongkang-ongkang kaki di rumah.
Hanya saja, lagi-lagi, ini jadi masalah. Perempuan yang terlalu pemilih ternyata dilihat tidak baik dalam masyarakat kita. Setidaknya itu yang dikatakan Ibu, Tante, Nenek, dan tetangga-tetangga saya.
Kalau boleh jujur, saya juga capek jadi pemilih. Pasti seru kalau bisa tinggal menikah saja dan membiarkan ombak menghantam seperti batu di pantai. Hanya saja, Bapak/Ibu yang terhormat, sayangnya kami hidup di negara yang tidak memberikan kami tempat untuk gagal.
Kami butuh jawaban, bukan sekadar hiburan
Teman saya membagikan cerita di unggahan Instagram. Dia baru saja mendaftarkan anaknya yang baru berumur dua tahun di sekolah dasar (SD) swasta unggulan di daerahnya. Saya juga pernah mendengar ada suatu sekolah di Jogja yang pendaftaran muridnya sudah penuh hingga tiga tahun ke depan.
Persaingan di sektor pendidikan ini bukan tanpa sebab. Kualitas pendidikan yang belum merata membuat orang tua terdorong untuk memasukkan anak-anak ke sekolah terbaik. Bukan tidak mungkin kelak itu juga yang akan kami hadapi.
Akan lebih mudah menyalahkan orang tua yang tidak bisa mendidik anaknya di rumah karena sibuk bekerja. Namun, sedikit yang mau peduli sulitnya mereka bertahan untuk bisa hidup layak saat harga barang semakin mahal.
Entah apa yang terjadi ke depan, entah perang dunia ketiga benar-benar meledak, yang jelas saya tidak merasa aman. Tidak ada lahan warisan yang bisa digarap; yang paling mungkin adalah menggarap KPI (Key Performance Indicator) agar tetap bertahan sebagai pekerja.
Mempercayakan hidup pada belas kasih negara juga terdengar tidak masuk akal. Ada banyak kebijakan yang tidak berpihak pada masyarakat kalangan menengah ke bawah.
Ini terdengar sangat skeptisisme, iya saya paham. Namun, saya harap ini bisa memberi gambaran Bapak/Ibu marketer KUA bagaimana ketakutan terhadap pernikahan ini bisa terbangun.
Kami tidak ujug-ujug takut menikah karena fomo (fear of missing out) atau terlalu egois karena makin mengerti kesehatan mental. Dunia di sekeliling kami berputar dengan cepat dan kami tidak tahu harus berpegang pada apa.
Sebenarnya, Bapak/Ibu KUA adalah tempat ideal bagi kami untuk mencari jawaban dari semua kegelisahan.
Kami adalah penyintas media sosial yang paham akal bulus pemasaran digital. Jari-jari kami bergerak secepat pikiran. Konten-konten hiburan yang menyentil “remaja tua” untuk menikah hanya menyentuh tombol like, bukan insecurity kami.
Semoga tulisan ini tidak dianggap sekadar yapping dari Gen Z yang belum dewasa. Kami juga menginginkan cinta yang aman dan terbebas dari rasa cemas. Kami juga ingin cerita pernikahan yang membuat kami merasa dirangkul, bukan dikejar-kejar target.
Penulis: Khairani Fitri Kananda
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA Lebaran adalah Neraka bagi Pekerja Usia 30 tapi Belum Menikah, Sudah Mapan pun Tetap Kena Mental dan kisah seru lainnya di rubrik ESAI.
