Dakwah Kok Masuk Roblox! Memangnya Anak Muda Hari Ini Masih Ngumpul di Masjid?

Dakwah Kok Masuk Roblox! Memangnya Anak Muda Hari Ini Masih Ngumpul di Masjid? MOJOK.CO

Ilustrasi Dakwah Kok Masuk Roblox! Memangnya Anak Muda Hari Ini Masih Ngumpul di Masjid? (Ega Fansuri/Mojok.co)

MOJOK– Ketika anak muda menghabiskan waktunya di Discord dan Roblox, mungkin justru di sanalah pintu masuk ke dalam masjid.

Dulu, ketika mendengar kata pengajian, yang terbayang biasanya adalah masjid, majelis taklim, kitab, mikrofon yang sesekali mendenging, jamaah duduk rapi, dan seorang ustaz yang menyampaikan materi dari depan. Kalau tidak di masjid, ya di rumah warga. Kalau tidak malam Jumat, ya Ahad pagi. Begitulah format yang akrab di kepala banyak orang.

Kini, pemandangannya mulai berubah. Ada anak muda yang belajar agama lewat Discord. Ada yang mengikuti kajian sambil memakai avatar di Roblox. Ada pula yang menemukan potongan ceramah di TikTok, lalu bergabung ke komunitas Instagram. 

Sebelum akhirnya aktif berdiskusi tentang fikih, akhlak, hingga keresahan hidup sebagai muslim muda di zaman ketika notifikasi tidak pernah benar-benar tidur.

Bagi sebagian orang, semua ini mungkin terdengar janggal. Pengajian kok di Discord? Dakwah kok lewat Roblox? Masjid kok virtual? Jangan-jangan nanti sedekah juga pakai Robux?

Kita boleh tertawa sebentar. Setelah itu, mungkin sudah waktunya berpikir lebih serius.

Sebab, suka atau tidak, anak muda hari ini memang hidup di ruang digital. Mereka berteman di sana, bercanda di sana, curhat di sana, jatuh cinta di sana, bahkan kadang bertengkar dengan orang asing yang foto profilnya anime. Kalau kehidupan sosial mereka sudah berlangsung di dunia virtual, mengapa dakwah harus berpura-pura tidak melihatnya?

Ketika Roblox berubah menjadi ruang belajar agama

Salah satu contoh menarik adalah munculnya komunitas seperti Roblox Muslim Community (RMC). Komunitas ini mempertemukan tiga dunia yang selama ini seolah berjalan sendiri-sendiri: game, media sosial, dan kajian Islam.

Discord dipakai sebagai pusat koordinasi, pengumuman, ruang diskusi, sekaligus tempat kajian. Roblox menghadirkan ruang visual berupa avatar, masjid virtual, dan suasana komunitas yang terasa akrab. Sementara TikTok dan Instagram menjadi etalase untuk memperkenalkan aktivitas mereka kepada publik.

Dalam cara pandang lama, game sering dicurigai sebagai penyebab anak lupa belajar, lupa waktu, bahkan lupa salat. Kalimat “Main game terus, kapan ngajinya?” mungkin menjadi salah satu omelan paling legendaris yang pernah didengar banyak anak.

Namun kini pertanyaannya berubah. Bagaimana kalau justru sebagian anak menemukan pintu masuk menuju pengajian melalui game?

Tentu saja, ini bukan berarti Roblox mendadak naik kelas berubah menjadi pesantren digital. Tidak sesederhana itu. Namun, kita juga tidak perlu buru-buru menertawakan setiap bentuk dakwah digital hanya karena medianya tidak sesuai dengan bayangan kita tentang majelis ilmu.

Sejarah dakwah sendiri selalu mengikuti perubahan ruang sosial masyarakat. Ketika masyarakat berkumpul di pasar, dakwah hadir di pasar. 

Ketika pesantren menjadi pusat pendidikan, dakwah tumbuh di sana. Ketika radio dan televisi menjadi media utama, ceramah ikut berpindah ke udara.

Maka ketika anak muda kini berkumpul di ruang digital, dakwah yang cerdas tidak cukup hanya menunggu mereka datang ke mimbar. Dakwah juga perlu hadir di tempat mereka berada.

Salah memahami platform, dakwah digital kalah sama video kucing

Masalahnya, hadir di ruang digital tidak cukup hanya membuat akun, memasang logo Islami, lalu mengunggah poster kajian yang ornamen bulan sabitnya justru lebih mencolok daripada tanggal acaranya.

Dakwah digital membutuhkan pemahaman terhadap budaya setiap platform.

Discord memiliki cara komunikasi yang berbeda. Roblox mempunyai dunia visualnya sendiri. 

TikTok bergerak dengan ritme yang sangat cepat. Instagram memiliki logika tampilannya sendiri. 

Salah memahami karakter platform, konten dakwah bisa lewat begitu saja, kalah oleh video kucing, gosip artis, atau orang berjoget dengan tingkat percaya diri yang sulit dijelaskan.

Di sinilah tantangan terbesarnya.

Dakwah digital bukan sekadar memindahkan ceramah dari masjid ke internet. Yang berubah bukan hanya medianya, tetapi juga cara hadir, cara berkomunikasi, dan cara membangun kedekatan.

Dalam majelis fisik, jamaah hadir dengan tubuhnya. Mereka duduk bersama, mendengar suara pemateri secara langsung, melihat ekspresinya, sekaligus merasakan suasana tempat. 

Dalam majelis virtual, kehadiran dibangun melalui suara, teks, avatar, emoji, kanal percakapan, dan berbagai bentuk interaksi digital.

Bagi generasi yang lebih tua, bentuk kehadiran seperti ini mungkin terasa kurang utuh. Namun bagi mereka yang tumbuh bersama internet, semua itu justru terasa wajar. Mereka bisa merasa menjadi bagian dari komunitas tanpa harus berada di ruangan yang sama.

Mereka bisa bertanya tanpa terlalu canggung. Mereka bisa mengikuti kajian dari rumah, kamar kos, atau sela-sela aktivitas, selama sinyal tidak mendadak hilang seperti harapan melihat saldo rekening di akhir bulan.

Bagaimana menerapkan adab digital di Roblox, Discord, dan TikTok

Namun kita juga perlu jujur. Tidak semua yang digital otomatis membawa kebaikan.

Ruang virtual memang bisa menjadi tempat belajar, tetapi juga bisa menjadi tempat gaduh. Discord bisa dipakai untuk kajian, tetapi juga dipenuhi obrolan yang tidak jelas arahnya. 

Roblox dapat menghadirkan masjid virtual, tetapi juga membuat orang lebih sibuk mempercantik avatar daripada memahami isi materi. TikTok mampu menyebarkan pesan kebaikan, tetapi juga bisa memotong penjelasan agama menjadi klip singkat yang kehilangan konteks.

Karena itu, dakwah digital membutuhkan adab digital. Meski istilahnya terdengar seperti judul seminar yang biasanya ditemani sertifikat elektronik.

Dalam majelis luring, adab tampak dari cara berpakaian, duduk, berbicara, dan menghormati guru. Dalam majelis daring, bentuknya bisa berbeda. Tidak menyalakan mikrofon sembarangan. 

Tidak memotong pembicaraan. Tidak mengirim stiker aneh ketika pemateri sedang menjelaskan hal serius. Tidak menyebarkan tautan yang tidak relevan. 

Tidak menjadikan kolom komentar sebagai arena perang dalil, apalagi jika rujukannya hanya potongan video yang belum jelas asal-usulnya.

Di sisi lain, admin dan moderator juga memegang peran penting. Mereka bukan sekadar penjaga kanal atau pengingat jadwal kajian. Mereka adalah penjaga suasana.

Mereka mengatur ritme percakapan, membatasi diskusi yang melenceng, mengarahkan pertanyaan, sekaligus memastikan forum tetap nyaman bagi semua peserta. Dalam konteks ini, keberhasilan kajian digital tidak hanya bergantung pada pemateri, tetapi juga pada tata kelola komunitas.

Dakwah digital bukan sekadar likes dan views

Dakwah melalui game sebenarnya menyimpan peluang besar.

Game sudah menjadi bagian dari keseharian banyak anak muda. Ia interaktif, visual, dan terasa lebih cair dibanding forum resmi. 

Anak yang mungkin malu datang ke majelis fisik bisa mulai mengenal kajian melalui komunitas virtual. Mereka yang awalnya hanya tertarik melihat desain masjid di Roblox, bisa saja perlahan ikut berdiskusi. Dari rasa penasaran, tumbuh kebiasaan belajar.

Namun, peluang ini harus dijaga agar tidak berubah menjadi sekadar gimmick.

Jangan sampai dakwah digital hanya sibuk mengejar keramaian, likes, views, dan komentar “Masyaallah keren banget, Min”, tetapi lupa memperhatikan kualitas isi, kejelasan rujukan, dan pembinaan jangka panjang.

Dakwah tidak boleh berhenti pada viralitas. Sebab, yang viral belum tentu benar, dan yang ramai belum tentu mendalam. Internet sudah terlalu sering membesarkan sesuatu hanya karena lucu, bukan karena bermutu.

Karena itu, komunitas dakwah digital perlu menjaga kualitas pemateri, kejelasan tema, kekuatan referensi, serta suasana diskusi. Anak muda memang membutuhkan ruang yang ramah dan sesuai dengan bahasa mereka. 

Namun, ramah bukan berarti asal-asalan. Santai bukan berarti dangkal. Kreatif pun tidak boleh menghilangkan adab.

Roblox bukan pengganti masjid, melainkan pintu masuknya

Pengajian di Discord dan Roblox tidak perlu dipertentangkan dengan masjid, pesantren, ataupun majelis taklim. Ruang digital sebaiknya dipahami sebagai perluasan medan dakwah, bukan pengganti seluruh bentuk perjumpaan fisik.

Majelis luring tetap memiliki keunggulan yang sulit digantikan layar: kedekatan, keteladanan, dan pengalaman spiritual yang lahir dari kebersamaan. Sebaliknya, majelis daring menawarkan akses yang jauh lebih luas. Ia dapat menjangkau anak muda yang tinggal jauh, sibuk, pemalu, atau baru mulai tertarik belajar agama.

Karena itu, dakwah digital dan dakwah konvensional tidak perlu saling mencurigai seperti dua kubu yang berebut jamaah.

Ruang digital bisa menjadi pintu masuk. Ruang fisik menjadi tempat pendalaman. Kajian daring membangkitkan minat. Pertemuan langsung memperkuat pembinaan.

Pada akhirnya, fenomena dakwah di Discord dan Roblox mengingatkan kita bahwa dakwah selalu membutuhkan kemampuan membaca zaman. Platform boleh berganti. 

Hari ini Discord dan Roblox, besok mungkin platform lain yang bahkan belum kita kenal.

Namun, tujuan dakwah tetap sama: mengajak kepada kebaikan, memperkuat iman, memperindah akhlak, dan membantu manusia menjadi pribadi yang lebih baik.

Jadi, kalau suatu hari ada anak muda berkata bahwa ia mengikuti kajian di Roblox, mungkin reaksi terbaik bukan langsung mengernyitkan dahi. Bisa jadi, dari avatar yang tampak lucu itu sedang terbuka pintu kecil menuju kesadaran beragama.

Dan siapa tahu, justru dari ruang yang selama ini kita anggap sekadar tempat bermain, ada anak muda yang perlahan belajar menjadi manusia yang lebih baik.

Penulis: Febrian Arief Pratama
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Kelihatan Sepele dan Menggemaskan, tapi Ternyata Roblox Menyimpan Risiko yang Sangat Berbahaya dan tulisan menarik lainnya di Esai Mojok.co

 

Exit mobile version