Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Ramai, ‘Cukup Aku Saja yang WNI’: Saya Justru Bangga Melepas Status Warga Negara Austria Demi Paspor Indonesia

Katharina Stogmuller oleh Katharina Stogmuller
20 Februari 2026
A A
Ramai, 'Cukup Aku Saja yang WNI': Saya Justru Bangga Melepas Status Warga Negara Austria Demi Paspor Indonesia MOJOK.CO

Ilustrasi Ramai, 'Cukup Aku Saja yang WNI': Saya Justru Bangga Melepas Status Warga Negara Austria Demi Paspor Indonesia. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Secara sadar saya pilih Indonesia, meski dibilang absurd

Saya masih ingat jelas bagaimana Ibuk menangis terharu ketika saya akhirnya bisa mendapatkan kewarganegaraan Indonesia. Mungkin ini bedanya: kalau Mbak yang viral itu menangis karena anaknya dapat paspor Inggris, Ibuk saya menangis karena anaknya akhirnya diakui oleh Indonesia. 

Walaupun harus mengeluarkan biaya lagi untuk mengurusnya, euforianya luar biasa. Ibu langsung menelepon teman-teman organisasinya.

“Akhirnya kita berhasil! Anak kita bisa jadi WNI!”

Jujur, mengingat hari itu membuat saya ingin meneteskan air mata. Perjuangan orang tua saya tidak main-main. 

Bahkan teman-teman Ibuk di Austria segera mengurus kewarganegaraan Indonesia untuk anak mereka. Para ibu itu senang karena akhirnya anak mereka terhubung secara legal dengan tanah kelahiran ibunya.

Ketika berusia 21 tahun, saya secara sadar memilih kewarganegaraan Indonesia. Percayalah, saya kenyang mendengar “pisuhan” atas keputusan yang dianggap absurd itu. 

Namun, saya tidak menyesal. Toh, saya tidak menikmati fasilitas pemerintah Austria, seperti Kinderbeihilfe (tunjangan anak).

Saat gempa Jogja 2006, Kedutaan Austria mengatakan tidak ada warga negara mereka yang tinggal di Jogja. “Asem tenan, og! Padahal jelas-jelas ada Bapak yang tinggal di Sewon, Bantul. 

Kami sekeluarga ikut mengungsi dan tidak meninggalkan Jogja. Apakah pemerintah Austria mengirim bantuan? Tidak. Malah tidak diakui.

Saya tidak merasakan kegunaan paspor Austria itu. Terakhir saya ke negara Bapak saja waktu SD. 

Selebihnya tidak pernah pelesir ke luar negeri; paling jauh tamasya ke Malang, sisanya ke Gantiwarno saja! Bapak juga tidak pernah ke luar negeri selama lebih dari 20 tahun. 

Saya tidak bilang paspor asing bagi anak keluarga perkawinan campur itu tidak berguna, tapi dalam kasus saya, memang benar-benar tidak ada gunanya. Lha nek ra nde dit, kok! (Lha kalau tidak punya uang).

Jadi WNI itu memang mahal dan sulit, tapi jadi WNA bisa buat saya jadi gelandangan

Ketika saya memilih menjadi WNI, diplomat Austria yang mewawancarai saya menyebut pilihan saya sebagai bad decision. Dalam hati saya membatin: lambemu, Cuk! Kowe wae ra ngragati aku! (Mulutmu! Kamu saja tidak membiayai hidupku!). 

Seandainya beliau menawarkan pekerjaan dan rumah di Austria, mungkin saya mempertimbangkannya. Tapi memegang paspor Austria sambil hidup di Indonesia hanya akan menyusahkan saya.

Iklan

Saya tidak bisa memiliki aset atas nama sendiri. Contohnya, jika saya mendapat warisan rumah, rumah itu harus dijual dalam jangka waktu satu tahun. 

Jika tidak, akan jatuh ke tangan negara. Asem, og! Kalau memilih tetap jadi WNA, saya mungkin malah jadi gelandangan di Austria. Maka, saya mantap menjadi WNI.

Sekalipun suatu saat nanti saya ke Austria, saya akan tetap mempertahankan paspor Indonesia saya. Paspor ini saya dapatkan dengan susah payah melalui perjuangan banyak ibu. 

Begini ya, seenak-enaknya mengulek sambal di Austria, tidak akan pernah seenak mengulek sambal di Indonesia. Itulah mengapa saya miris setiap kali ada yang bilang, “Cukup aku saja yang WNI, anakku jangan.”

Saya percaya kita akan selalu mempertahankan sesuatu yang didapat dengan susah payah. Bagi saya, menjadi WNI itu sulit dan mahal harganya. Namun bagi sebagian orang… ah, sudahlah.

Penulis: Katharina Stogmuller
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Kuliah S2 Luar Negeri Berkat Beasiswa LPDP: Dibanggakan malah Berakhir Melukai Orangtua karena Lupa Diri dan catatan menarik lainnya di rubrik ESAI.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 20 Februari 2026 oleh

Tags: LPDPpaspor indonesiapilihan redaksiwnaWNI
Katharina Stogmuller

Katharina Stogmuller

Numpang lahir di Vocklabruck, Austria. Akrab disapa Mbak Bul, warga Sewonderland. Saat ini masih berusaha mewujudkan mimpinya untuk berenang bersama lumba-lumba

Artikel Terkait

Lebaran, mudik, s2.MOJOK.CO
Edumojok

Bawa Pulang Gelar S2 Saat Mudik ke Desa Dicap Gagal, Bikin Tetangga “Kicep” Usai Buatkan Orang Tua Rumah

13 Maret 2026
Orang Minang Merantau ke Jogja: Iman Kuliner Saya Runtuh karena Gula Jawa Membuat Rendang Asli jadi Terasa Asin Saja MOJOK.CO
Esai

Orang Minang Merantau ke Jogja: Iman Kuliner Saya Runtuh karena Gula Jawa, Rendang Asli jadi Terasa Asin Saja

13 Maret 2026
Pendidikan karakter Sunan Ampel di Pesantren Ampeldenta Surabaya melalui halal food dan halal living MOJOK.CO
Lipsus

Rasa Sanga (6): Melalui Halal Food dan Halal Living, Sunan Ampel Membentuk Karakter Generasi Islam Berkualitas

13 Maret 2026
mahasiswa penerima beasiswa KIP Kuliah ISI Jogja dihujat. MOJOK.CO
Edumojok

Sisi Lain Penerima KIP Kuliah yang Tak Dipahami Para Mahasiswa “Polisi Moral”, Dituntut Untuk Selalu Terlihat Miskin dan Menderita

12 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Rasa Sanga (5): Docang, “Makanan Orang Susah” yang Lekat dengan Ajaran Rendah Hati Sunan Gunung Jati di Cirebon.,MOJOK.CO

Rasa Sanga (5): Docang, “Makanan Orang Susah” yang Lekat dengan Ajaran Rendah Hati Sunan Gunung Jati

9 Maret 2026
Perantau Minang di kantin kereta api Indonesia (KAI) dalam perjalanan mudik Lebaran

Perantau Minang Gabut Mudik Bikin Tanduk Kerbau dari Selimut KAI, Tak Peduli Jadi Pusat Perhatian karena Suka “Receh”

13 Maret 2026
Mudik Lebaran dengan pesawat

Saya Tidak Peduli Keluar Duit Lebih Banyak demi Tak Mengorbankan Kenyamanan, Pilih Mudik dengan Pesawat daripada Mode Apa Pun

11 Maret 2026
Mudik Lebaran naik bus murah berujung menyesal. MOJOK.CO

Habiskan Waktu 78 Jam di Bus untuk Mudik Berujung Kapok dan Frustrasi: Harus Tahan Bau Badan, BAB, hingga “Ditakuti” Teman Sebangku

11 Maret 2026
Anselmus Way, lulusan FISIPOL Universitas Gadjah Mada (UGM) pilih usaha keripik singkong hingga ayam geprek, tapi sukses MOJOK.CO

Lulusan FISIPOL UGM Jualan Keripik dan Ayam Geprek, Tapi Jadi Penopang Ekonomi Keluarga usai Nyaris Putus Asa

7 Maret 2026
Orang "Gagal" yang Dihina Hidupnya, Buktikan Bisa Lolos CPNS hingga PNS. MOJOK.CO

Dulu Kerap Dihina, Ditolak Kampus Top hingga Nyaris DO dan Beasiswa Dicabut, Kini Buktikan Bisa Lolos Seleksi CPNS

10 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.