Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Kita Wajib Skeptis dengan Angka Pertumbuhan Ekonomi 5% dari BPS karena Hanya Kosmetik yang Mempercantik Tampilan Luar tapi Tidak Menggambarkan Kesehatan Ekonomi Dalam Negeri

Muhamad Iqbal Haqiqi Maramis oleh Muhamad Iqbal Haqiqi Maramis
13 Agustus 2025
A A
BPS dan Angka Pertumbuhan Ekonomi yang Mencurigakan MOJOK.CO

Ilustrasi BPS dan Angka Pertumbuhan Ekonomi yang Mencurigakan. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Angka pertumbuhan ekonomi 5% seperti data BPS itu cuma kosmetik. Ia menutupi kondisi sebenarnya yang menyiksa rakyat Indonesia.

Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis laporan pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II 2025, yaitu tumbuh sebesar 5,12%. Laporan ini meleset dari banyak prediksi para ekonom dan lembaga keuangan dunia seperti IMF. Masing-masing dari mereka memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia gak lebih dari 4 persenan.

Bagi sebagian kalangan, terutama pemerintah dan pendukungnya, laporan BPS menjadi kabar menggembirakan. Pasalnya, ketika situasi ekonomi sulit, mulai dari ketidakpastian global, turunnya harga komoditas ekspor, hingga konsumsi rumah tangga makin tertekan, laporan ini seolah membantah segala skeptisme para ekonom soal ekonomi Indonesia.

Data BPS ini sekaligus memberikan kesan positif bagi global, khususnya investor, agar tidak segan untuk melakukan investasi. Harapannya, persentase atau volume Penanaman Modal Asing (PMA) akan meningkat.

Kita harus skeptis dengan laporan BPS ini

Begini, melihat realita di sektor riil saat ini, saya rasa kita memang perlu skeptis dengan laporan pertumbuhan ekonomi BPS. Sebelumnya, BPS memberikan pernyataan agak konyol dengan menetapkan garis kemiskinan nasional sebesar Rp609.160 per kapita per bulan atau setara dengan Rp20.305 per hari.

Angka tersebut itu sangat konyol. Bayangkan, ketika pengeluaran sehari mencapai Rp30ribu, artinya kamu udah dianggap nggak miskin. Bandingkan dengan garis kemiskinan menurut Bank Dunia. Mereka menetapkan negara berpendapatan menengah atas seperti Indonesia, ditetapkan sebesar USD8,30 per orang per hari atau sekitar Rp1.512.000 per bulan.

Oleh karena itu, kita harus menyikapi laporan BPS ini perlu dengan sikap skeptis dan kritis. Bukan dari metode perhitungan atau potensi manipulasi data (yang sebagian ekonom beranggapan telah dilakukan oleh BPS), tapi lebih kepada cara menginterpretasikan persentase pertumbuhan ekonomi ini. Kita perlu melihatnya secara holistik dan membandingkannya dengan fakta secara empirikal.

Membandingkan data BPS dengan fakta 

Misalnya, sesaat setelah BPS merilis capaian pertumbuhan ekonomi, Menteri Koordinator Ekonomi, Airlangga Hartarto mengklaim, pertumbuhan ekonomi 5,12 % ini didukung oleh dua hal. Pertama, dalam pendekatan pengeluaran, terlihat dari konsumsi rumah tangga yang masih stabil dan kuat yaitu mencapai lebih dari 54%.

Kemudian, dari pendekatan sektoral atau produksi, maka diperlihatkan pada penguatan sektor manufaktur yang punya kontribusi 18,67% terhadap pertumbuhan ekonomi. Catatan ini diklaim jadi yang tertinggi dari 5 sektor utama, yaitu terdiri dari industri pengolahan (manufaktur), pertanian, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan. Kelima sektor ini berkontribusi setidaknya 63% lebih terhadap pertumbuhan ekonomi.

Kita tidak boleh menelan pernyataan ini secara mentah. Mari melihatnya dengan landscape yang lebih luas. Pertama, klaim konsumsi yang stabil dan tetap kuat. Didukung dengan inflasi inti (keseluruhan yang masih rendah yaitu 2,8%). Yah, dengan begitu jelas tetap kuat karena komposisi volume pembelian masyarakat terhadap kebutuhan pokok tetap tinggi bahkan bertambah.

Beras, minyak goreng, dan pengeluaran pokok lainnya tetap jadi pengeluaran rutin oleh masyarakat. Terlebih, realisasi bansos atau bantuan tunai tetap tinggi di kuartal II sehingga menopang konsumsi menengah-bawah. 

Ini yang membuat secara persentase terlihat positif, tapi perlu diperhatikan bahwa persentase ini menghitung volume atau jumlah barang/jasa yang dikonsumsi. Bukan nominal riil yang dikeluarkan. Jadi di sini nggak mempertimbangkan tentang efek kenaikan harga secara empiris. Makanya, kita kudu skeptis sama data BPS.

Pada kenyataannya, harga bahan pokok, terutama pangan mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Data inflasi agregatnya memang 2,8%, tapi khusus untuk pangan, inflasi nyatanya mencapai 3,75 persen sekian. Artinya masyarakat mengeluarkan uang lebih banyak untuk kebutuhan pokok.

Baca halaman selanjutnya: Angka BPS yang mencurigakan.

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 14 Agustus 2025 oleh

Tags: 5 persen BPSBadan Pusat StatistikBPSefisiensilaporan pertumbuhan ekonomilaporan pertumbuhan ekonomi BPSPDBPHK
Muhamad Iqbal Haqiqi Maramis

Muhamad Iqbal Haqiqi Maramis

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.

Artikel Terkait

nelangsa korban PHK Michelin dan Blibli. MOJOK.CO
Ragam

Ekonomi Masyarakat Belum Pulih Sejak Pandemi Covid, Kini Makin Menderita karena PHK di “Negeri Konoha”

5 November 2025
Wali Kota Semarang Agutsina tegaskan upaya Pemkot Semarang membuat daerah mandiri di tengah efisiensi MOJOK.CO
Kilas

Strategi Kota Semarang Mandiri di Tengah Efisiensi, Biar Tak Selalu Tergantung pada Dana Pusat

18 Oktober 2025
Realitas pekerja swasta di Jogja: sudah gaji kecil, resign kena denda, bertahan malah kena PHK tanpa pesangon MOJOK.CO
Ragam

Risiko Dobel-dobel Jadi Pekerja Swasta di Jogja: Gaji Kecil untuk Kerjaan Nggak Ngotak, Resign Kena Denda kalau Bertahan Malah Di-PHK

14 Oktober 2025
Kelangkaan BBM di SPBU Shell: bayang-bayang PHK bikin nelangsa pikirkan nasib ibu, berat pindah merek lain karena ragu MOJOK.CO
Aktual

Kondisi SPBU Shell bikin Nelangsa Pikirkan Nasib Ibu, Takut “Risiko” kalau Pindah Pertamina

18 September 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Operasi Modifikasi Cuaca dari BMKG Difitnah Jadi Pemicu Banjir. MOJOK.CO

Operasi Modifikasi Cuaca Mustahil Bikin Banjir, Teknologi Manusia Saja Belum Mampu Mengatasi Semesta Bekerja

28 Januari 2026
Sasar Sekolah, Ratusan Pelajar di Bantul Digembleng Kesiagaan Hadapi Gempa Besar.MOJOK.CO

Sasar Sekolah, Ratusan Pelajar di Bantul Digembleng Kesiagaan Hadapi Gempa Besar

30 Januari 2026
Honda Scoopy, Bukti Perempuan Beli Motor Berdasarkan Warna Lipstik MOJOK.CO

Honda Scoopy Adalah Bukti Bahwa Perempuan Memilih Motor Berdasarkan Kode Warna Lipstik, Bukan Berdasarkan Kemampuan Mesin

27 Januari 2026
main gim daring.MOJOK.CO

Saat Healing Malah Jadi Toxic: Kecanduan Gim Bisa Bikin Mental dan Fisik Anak Muda Awut-awutan

28 Januari 2026
Kuliah, Lulus S1, Kebayoran Baru Jakarta SelatanMOJOK.CO

Lulus S1 di Usia 25 adalah Seburuk-Buruknya Nasib: Terlalu Tua di Mata HRD, tapi Juga Dianggap Minim Pengalaman Sehingga Sulit Dapat Kerja

28 Januari 2026
Sungai Progo, Tragedi Sungai Sempor Tak Perlu Terjadi Jika Manusia Tidak Meremehkan Alam dan Menantang Takdir MOJOK.CO

Izin Tambang Sungai Progo Masih Mandek dengan “Aturan Jadul”

28 Januari 2026

Video Terbaru

Kebun Durian Warso Farm di Bogor, Agrowisata Edukatif dengan 16 Varietas Durian

Kebun Durian Warso Farm di Bogor, Agrowisata Edukatif dengan 16 Varietas Durian

28 Januari 2026
Sigit Susanto: Membaca Dunia lewat Perjalanan Panjang dan Sastra

Sigit Susanto: Membaca Dunia lewat Perjalanan Panjang dan Sastra

27 Januari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Tawa yang Tidak Sepenuhnya Bercanda

Roasting Zainal Arifin Mochtar (Bagian 2): Strategi Biar Bisa Jadi Guru Besar

24 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.