Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Awas, Bahaya Kinder Joy!

Erin Cipta oleh Erin Cipta
10 Maret 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kesehatan keluarga terancam oleh jajanan cokelat telur yang selalu dipajang di depan kasir minimarket. Orangtua sedunia, bersatulah melawan Kinder Joy!

Bagi keluarga kami, frasa “bahagia itu sederhana” paling terwakili saat tanggal gajian. Sebagai istri buruh, selain menghafal di luar kepala apa saja pakaian kerja harian suaminya, saya juga tak pernah lupa kapan tanggal gajian jatuh. Saat-saat seperti itulah kami bergembira. Sebab, Baginda, begitu saya menyebut suami, akan menyuruh saya piknik sambil belanja. Tentu saja dengan anak-anak sekalian dibawa.

Jangan membayangkan kami akan pergi di sebuah kota wisata lalu keluar masuk butik dan galeri untuk memborong karya seni (hey, ini bukan keluarga Paris Hilton). Yang kami lakukan hanya pergi ke kota kecamatan, belanja kebutuhan bulanan di toko kelontong, supermarket, atau toserba. Atau bahkan jika pada bulan itu gaji banyak dipotong, belanja bulanan cukup di Alfamart. Itulah cara piknik kami sekeluarga.

Sesederhana itu kami berbahagia. Mudah sekali kan? Kami cukup berangkat dengan catatan panjang kebutuhan bulanan lalu menghibur diri dengan menyusuri rak-rak dagangan. Dua anak saya akan hilir mudik mengambil barang dan menatanya di keranjang, sedangkan saya dan Baginda menyaksikannya dengan senyum lebar.

Sempurna.

Namun, karena mudah membangunnya, kebahagiaan itu menjadi mudah pula runtuhnya. Itulah ketika saat membayar di kasir tiba. Dada saya selalu berdesir saat mengantre dan anak-anak mulai melongok-longok tak sabar ke rak depan kasir yang memajang aneka permen dan cokelat. Butuh keterampilan khusus untuk membuat mereka tidak tiba-tiba mencomot cokelat dalam kemasan bulat sebesar telur soang itu.

“Bu! Aku mau Kinder Joy!”

Lha… rak tenan!

Demi selamatnya anggaran sampai tanggal gajian bulan depan, saya harus mencegah mereka menambah belanjaan. Apalagi tambahan itu berupa Kinder Joy yang harganya setara pewangi pakaian serenteng panjang.

“Oke, Kakak dan Adek janji dulu sama Ibu, tidak boleh minta jajan lagi selain yang sudah dibeli. Deal?” Saya mencoba bernegosiasi meski sebenarnya tahu, bakal kalah oleh rengekan mereka berikutnya.

Tapi Baginda malah merestui kesesatan anak-anaknya.

“Mbok ya dibelikan saja. Orang cuma satu, sebulan sekali saja, kok.”

Oke, ya, Kinder Joy ini memang selalu jadi masalah setiap kali saya ke gerai kelontong modern. Terkadang kami bersidebat, dan anak-anak akan merengek manja yang saya jawab dengan kalimat dimanis-maniskan, meski odol kaku ra karuan. Demi terjaganya citra sebagai ibu penyayang, dongkol di hati harus ditahan.

Sesekali saya diam-diam mengembalikan Kinder Joy ke tempatnya semula ketika belanjaan dihitung kasir. Perkara di rumah nanti anak-anak nangis, itu urusan belakangan. Tapi, trik ini sudah tidak berguna karena biasanya anak-anak memegang erat Kinder Joy sampai kasir memindai barcode dan menghitung harganya.

Iklan

Pernah suatu kali saya mencoba tegas menolak permintaan mereka. Teguh pendirian berkata “tidak” meski mereka merengek sambil menarik ujung baju. Tapi, saya kalah telak ketika jurus pamungkas mereka lancarkan demi mendapat Kinder Joy idaman.

Yap, nangis guling-guling di depan kasir.

Lepas dari segala rumor bahwa jajan tersebut menyebabkan malapetaka kesehatan, saya memang benar-benar merasakan bahaya serius mengintai dari balik kemasan jajanan yang serupa telur unggas itu.

Kinder Joy jelas penyebab kanker. Kanker yang kantong kering. Harga belasan ribu untuk dua blindi cokelat dan sebuah mainan kecil sungguh tidak masuk akal. Untuk kami yang menganut falsafah murah, waras, wareg, Kinder Joy benar-benar menyalahi ketentuan standar pengelolaan keuangan rumah tangga. Uang sebanyak itu bisa kami belikan sepapan tempe, seikat daun singkong, dan bumbunya. Lalu kami sekeluarga bisa makan kenyang sepanjang hari. Lha kalau cokelat Kinder Joy? Jangankan kenyang, dimakan satu anak saja cuma jadi selilit.

Kinder Joy juga menyebabkan keributan tak perlu dalam rumah tangga. Inilah yang sering terjadi ketika kami sekeluarga pergi belanja bersama. Ini terjadi manakala Baginda memilih mendukung keinginan sesat anaknya jajan Kinder Joy, sedangkan saya berusaha mencegahnya. Pertentangan suami istri akan terbawa sampai rumah. Saat menghitung pemakaian dana, pos untuk Kinder Joy saya tulis tebal-tebal dan saya tunjukkan dengan disclaimer, “Jika uang belanja ini tidak cukup sampai bulan depan, maka mohon perhatikan pos ini!”

Para pembaca yang belum menikah dan beranak mungkin tidak menemukan signifikansi masalah ini, tapi percayalah, makanan setengah mainan ini sesungguhnya problem besar. Di Sulawesi Selatan, seorang bapak  bahkan sampai menulis surat terbuka di Facebooknya. Isinya begini.

KEPADA,

SEMUA SUPERMARKET, MINIMARKET.

Indonesia.

PERMOHONAN UNTUK TIDAK MELETAKKAN JUALAN INI DI DEKAT KASIR

Berdasarkan pada hal di atas, saya mewakili bapak-bapak diseluruh Indonesia memohon agar pihak minimarket, supermarket untuk meletakkan barang (spt dlm gambar) ke tempat lain selain dikasir.

1.Ini dikarenakan kami bapak2 tidak mampu untuk melayani kecengengan anak yg sangat menginginkan jualan ini sehingga terjadilah episode guling2 didepan kasir yg juga menyebabkan kami malu.

2.Selain daripada itu, harga yg sangat mahal (sama dengan 1 liter minyak goreng), jualan ini juga tidak memberi manfaat kpd anak2 kami. Orang lain bolehlah sudah kaya dan bisa beli banyak barang ini, Saya ini cuma pegawai yg bergaji rendah yg hanya mampu membeli mainan seharga Rp2000 itupun tangan bergetar saat bayar) di pnjual mainan keliling yang datang tiap sabtu minggu tanpa putus asa membunyikan klakson spesialnya

3. Pihak toko berfikirlah, setiap kali saya berbelanja, anak saya pasti beli jualan ini dan anak saya ada 2, kalau beli 2 hilang lagi 30ribu, itu sudah dapat beras 5 kg, sudah bisa buat makan sebulan.

Sehubungan dengan itu saya berharap pihak toko dapat mempertimbangkan serta merealisasikan impian saya juga impian setiap bapak2 di negara ini. Atas perhatian dan kerjasamanya, saya ucapkan terima kasih.

sekian,

Sebagai informasi, status tersebut dibuat akun Alice Pramac pada 3 Maret 2018, dan pagi ini sudah di-like 49 ribu kali dan dibagikan 36 ribu kali. Ini bukti bahwa Kinder Joy adalah masalah bangsa.

Karena kebiasaan anak yang sulit dicegah jajan Kinder Joy, saya sering terpaksa diam-diam ketika hendak pergi ke Alfamart. Pergi sambil sembunyi-sembunyi jelas membutuhkan nyali. Apalagi jika yang dikendarai adalah matic butut yang bunyi starternya mirip tarikan odong-odong. Benar-benar memacu adrenalin.

Anak saya sering muncul tiba-tiba dan melompat begitu saja ke atas motor yang siap jalan. Jantung saya selalu melompat lalu ndlosor seketika. Perjalanan ke Alfamart menjadi muram dan pesimistis.

“Janji, ya, di sana tidak boleh jajan yang mahal-mahal, tidak boleh ngambek kalau Ibu bilang jangan, tidak….” Segala larangan terus berkumandang di sepanjang perjalanan meskipun tahu semuanya akan segera dilupakan begitu sapaan ramah kasir Alfamart kami terima.

Ketika sudah seperti itu, ingin rasanya saya demo di depan toko kelontong modern sambil membawa papan berisi tulisan: TURUNKAN KINDER JOY DARI RAK PAJANG DEKAT KASIR!!!

Terakhir diperbarui pada 17 Maret 2018 oleh

Tags: anakkinder joyKinderjoyorang tuasnacksurat terbuka
Erin Cipta

Erin Cipta

Ibu dua anak yang menggembirakan diri dengan membaca, menulis, dan mengelus-elus kucing. Menulis novel berjudul CARLOS (Divapress 2017).

Artikel Terkait

Berkaca dari Kasus Yurizal, Kita Sibuk Mengajari Anak Menjadi Pintar sampai Lupa Mengajarinya punya empati MOJOK.CO
Esai

Berkaca dari Kasus Yurizal: Kita Sibuk Mengajari Anak Menjadi Pintar sampai Lupa Mengajarinya Berempati

7 Agustus 2026
Sudah Berani Menyapa Teman-temannya, Murid ABK Malah Dianggap Tak Ada meski Berada di Sekolah Inklusif MOJOK.CO
Esai

Sudah Berani Menyapa Teman-temannya, Murid ABK Malah Dianggap Tak Ada meski Berada di Sekolah Inklusif

21 Juli 2026
Orang tua, ibu.MOJOK.CO
Urban

Sulitnya Menjadi Ibu Muda Tanpa Cela di Ibu Kota: Parenting Dituntut Sempurna, tapi Sudah Digempur Stres Kerja

10 Juli 2026
Sisi Gelap Orang Tua Hebat: Hasilkan Generasi Rapuh yang Lembek Hadapi Kerasnya Dunia MOJOK.CO
Esai

Sisi Gelap Orang Tua Hebat: Hasilkan Generasi Rapuh yang Lembek Hadapi Kerasnya Dunia

8 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Derita jadi topping tongkrongan: niat bergaul biar tidak dicap nolep, tapi sering tidak dianggap saat nongkrong MOJOK.CO

Serba-serbi Jadi Topping Tongkrongan: Ikut Nongkrong biar Tak Dicap Nolep, Cuma Jadi Pelengkap dan Tak Dianggap

4 Agustus 2026
Karnaval sound horeg getarkan Jawa Timur tiap Agustusan. Dosa jariah di balik gengsi antardesa, dalih selawatan, hingga perputaran ekonomi di bawah MOJOK.CO

Jatim Bergetar Tiap Agustusan: Dosa Jariah Sound Horeg di Balik Gengsi Antardesa hingga Selawatan Sambil Berjoget Seksi

3 Agustus 2026
Cinta yang Tak Berbalas Bikin Perempuan Crush Recession hingga Belum Menikah. MOJOK.CO

Crush Recession: Jatuh Cinta Terasa Melelahkan, bikin Perempuan Malas Pacaran

4 Agustus 2026
Tangan-tanga pembuat apem ya qowiyyu: alasan kue tradisional khas Jatinom, Klaten, tak lekang waktu MOJOK.CO

Tangan-tangan Pembuat Apem Ya Qowiyyu: Alasan Kue Tradisional Jatinom Klaten Tak Lekang Waktu

4 Agustus 2026
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X bertemu dengan tim KKP membahas program budi daya ikan tematik. (Sumber: Humas Pemda DIY)

64 Lokasi di Kalurahan DIY Kecipratan Jatah Program Budi Daya Ikan Tematik dari KKP

5 Agustus 2026
Saat cerita/sambat ke teman berujung adu nasib dengan kalimat maut "Kamu masih mending". Meresponsnya dengan pura-pura tolol ternyata menyenangkan MOJOK.CO

Niat Cerita ke Teman Berujung Adu Nasib: Pura-pura Tolol saat Teman Bilang “Kamu Masih Mending” Ternyata Menyenangkan

6 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.