Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Apapun Masalahnya, Baris-Berbaris dan Tentara-Tentaraan Solusinya

Cepi Sabre oleh Cepi Sabre
5 Agustus 2015
A A
baris-berbaris
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pak Menteri Anies Baswedan mungkin sedang lebay ketika melakukan inspeksi mendadak lalu memerintahkan anak-anak SMA di Tangerang untuk melepas semua atribut ospeknya. Anies Baswedan mungkin tidak tahu kalau sebelum Pak Felix Siauw mengumandangkan ‘khilafah solusinya’ untuk semua masalah, negeri ini dari dulu sudah punya formula yang sama ajaibnya: baris-berbaris. Untuk kasus anak sekolah dan mahasiswa, dia ditambah dengan atribut-atribut bodoh dan tugas-tugas konyol.

Orang boleh saja mengira-ngira kalau ospek ini sudah ada sejak zaman Holanda, dari STOVIA, dan ITB waktu masih  pakai nama Technische Hoogeschool, sebuah kegiatan sinyo-sinyo Belanda untuk mengerjai anak pribumi seperti Soetomo atau Bung Karno, misalnya, walaupun tidak ada catatan yang jelas soal ini. Yang jelas, kegiatan ini sudah dimulai sejak tahun 50-an, yang menjadikan nyaris tidak ada penduduk Indonesia—yang berumur 17 tahun ke atas dan pernah kuliah—yang belum pernah diplonco.

Iklan

Saya malah curiga kalau sebenarnya ospek-ospekan di kampus dan sekolah-sekolah itu justru dipopulerkan sekaligus disponsori oleh Pak Piye-Le-penak-jamanku-tho? Soalnya, waktu Bapak itu mendaki jalannya untuk jadi presiden, baris-berbaris adalah rumus universalnya yang paling ampuh. Dengan bantuan Pak Sarwo Edhie, Bapak itu memaksa ratusan ribu sampai jutaan orang yang dituduh PKI—kader PKI, simpatisan PKI, pernah temenan sama PKI, pernah kepleset nyebut PKI, cuma dikira PKI, sampai yang gak tahu apa-apa soal PKI tapi punya palu-arit di rumahnya—berbaris entah ke mana sampai gak pulang-pulang.

Baris-berbaris yang mengantarkan Pak Jenderal yang murah senyum itu jadi presiden (lama lagi…) ketemu dengan ospek-ospekan kampus. Cocok.

Maka dimulailah era penataran P4 yang satu paket dengan baris-berbaris ospek-ospekan. Tentara mulai rajin ngampus dan sekolah, mulai dari ngasih materi penataran sampai jadi dosen atau guru Pancasila atau Bela Negara, atau jadi pelatih untuk kegiatan apapun yang butuh baris. Sialnya, setelah ditinggal tentara, kakak-kakak senior itu ketularan galaknya. Apesmu, adek-adek junior…

Tapi gini, waktu Anies mengeluarkan instruksi untuk menghentikan kegiatan ospek, beliau pasti juga lagi lupa kalau baris-berbaris, pada tahun 2011, pernah menjadi formula ajaib untuk mengakhiri paceklik juara umum di ajang Sea Games. Para atlet dibina khusus oleh Kopassus di Batujajar. Di sana, atlet-atlet itu diajak main tentara-tentaraan, mulai dari baris-berbaris (baris-berbaris lagi…), halang-rintang, sampai jurit malam. Hasilnya cukup menggembirakan, Indonesia meraup 182 keping medali emas dan jadi juara umum (lupakan fakta bahwa Sea Games 2011 dihelat di Indonesia dan dua tahun kemudian, ketika diadakan di Myanmar, formula yang sama tidak terlalu manjur dan Indonesia cuma menempati posisi keempat).

Ada yang bilang kalau baris-berbaris adalah pelajaran dasar membunuh. Agak lebay juga sih, kan latihan militer bisa menumbuhkan karakter yang kuat dan nasionalisme. Tidak kurang Pak Joko, presiden kita yang sekarang, juga bilang gitu, “Jangan hanya tahunya cuma FB, Twitter, Instagram, dan Path,” kata beliau. Walaupun menurut saya, baris-berbaris itu tidak ada hubungannya dengan nasionalisme, dia cuma ajang pelampiasan supaya orang bisa kelihatan kayak tentara.

Sepertinya ada cinta yang tidak tuntas antara kita dengan tentara. Semacam gejala kesulitan untuk move-on. Semua orang, dari Pasar Turi sampai Turki, tahu kalau cinta bukan ilusi. Cita-cita reformasi yang mengusung jargon supremasi sipil yang nyatanya tidak seindah musim cherry membuat cinta lama orang-orang kepada tentara dan hal-hal yang berbau militer bersemi kembali. Yang paling jelas ya waktu Pak Prabowo saingan sama Pak Jokowi pas pilpres kemarin. Berapa banyak orang yang tadinya memuji Ahmadinejad dan memuja Jose Mujica, presiden yang katanya termiskin di dunia itu, yang lalu berpaling pada sosok dengan baret, kuda, dan emblem-emblem kemiliteran?

Tapi tenang saja, bukan cuma Pak Prabowo yang masih kepingin jadi tentara, waktu KPK berkonflik dengan polisi, orang-orang juga sempat ramai mewacanakan untuk merekrut penyidik dari korps baju hijau. Itu, Ahok, gubernur jagoan semua orang, malah mau mengganti satpol PP sama tentara. Bahkan komandan polisi seluruh Indonesia pun tidak percaya dengan kemampuan anak buahnya sendiri, sampai-sampai minta anak buahnya dilatih tentara juga. Jangan-jangan, MUI, kalau terus bikin bingung masyarakat dengan fatwa-fatwanya, bisa-bisa nanti diganti sama tentara juga.

Begini, Mas dan Mbak senior, jangan sewot dulu. Jadi tentara tentu bukan dosa. Yang dosa itu kalau bukan tentara tapi sok-sokan jadi tentara. Lha wong yang tentara saja kalau sok-sokan juga dosa kok. Apa nggak aneh, di negara yang katanya pancasilais, Penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila-nya bisa dihapus, tapi kok ospek-ospekannya gak bisa? Mungkin begitu pertanyaan lebay Pak Menteri Anies waktu nyuruh anak-anak SMA melepas atribut ospeknya.

Yang jelas begini, Anies Baswedan mungkin memang lupa kalau main tentara-tentaraan pernah bikin Indonesia juara umum Sea Games, atau baris-berbaris pernah membawa seseorang jadi presiden selama 32 tahun, tapi Pak Menteri pasti tidak lupa pada Awaluddin, mahasiswa Unhas; Dwi Yanto, mahasiswa ITB; Cliff Muntu di STPDN, Fikri Dolasmantya Surya di ITN, bahkan pada Anindya Ayu Puspita, siswi SMK di Bantul—untuk menyebut beberapa saja—yang semuanya meninggal dunia ketika atau beberapa hari sehabis ospek.

Ya, yang bersalah memang sudah dihukum. Tapi apa nggak brengsek kalau guru-gurunya, dosen-dosennya, kepala sekolahnya, rektornya, yang cuma bermodal alibi-tidak-tahu bisa bebas dari hukuman? Brengseknya dua kali malah: membuat anak orang tidak bisa lagi nonton sambil nyanyi soundtrack-nya Cinta di Musim Cherry, sinetron impor dari Turki—negeri Om Erdogan, presiden idola baru kader PKS—sekaligus membikin yang lain dikeluarkan dari sekolah atau meringkuk di dalam bui.

Sudahlah, Mas dan Mbak senior, Pak Kepala Sekolah dan Pak Rektor, membangun karakter dan nasionalisme tidak mesti pakai baris-berbaris, menjalin kemesraan senior dan junior juga tidak perlu pakai mengukur pisang sampai segitunya. Yang penting ada dua hati yang saling isi, maka dengan begitu daun bisa menari dan alam jadi saksi kalau sekolah atau kuliah memang seindah musim cherry.

Baris-berbaris dan main tentara-tentaraan bukan satu-satunya solusi, malah bukan solusi sama sekali.

Terakhir diperbarui pada 18 Februari 2021 oleh

Tags: Anies BaswedanBaris-berbarisOspekPerploncoan
Cepi Sabre

Cepi Sabre

Artikel Terkait

Mens Rea, Panji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme MOJOK.CO

Mens Rea, Pandji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme

12 Januari 2026
PKKMB, PTN.MOJOK.CO

Penderitaan Orang Tua Saat Anaknya Ikut PKKMB, Terpaksa Utang Tetangga karena Kebutuhan Banyak

6 Agustus 2025
Ospek di Universitas BSI (UBSI), Mahasiswa Baru Disambut bak Tamu Kehormatan MOJOK.CO

Ospek di Universitas BSI: Mahasiswa Baru Disambut bak “Tamu Kehormatan”, Tak Ada Bentakan Adanya Konser Seru-seruan

30 Agustus 2024
4 Tradisi Ospek Kampus yang Dianggap Mahasiswa Surabaya dan Semarang Sudah Tidak Perlu Ada Lagi MOJOK.CO

4 Tradisi Ospek yang Dianggap Tak Perlu Ada Lagi bagi Mahasiswa Baru, Tak Nemu Apa Pentingnya

7 Agustus 2024
PKKMB, PTN.MOJOK.CO

Nekat 2x Tak Ikut Ospek Saat Kuliah di Purwokerto dan Jogja, Anggap Acara Tak Penting dan Tetap Bisa Lulus Kuliah

6 Agustus 2024
Cerita Kakek Tua Sudah 40 Tahun Jualan Atribut Ospek di Pinggir Jalan, Bantu Banyak Mahasiswa UGM-UNY Tak Berduit yang Diplonco Senior.MOJOK.CO

Cerita Kakek Tua Penjual Atribut Ospek Pinggir Jalan Sejak 1984, Bantu Banyak Mahasiswa UGM-UNY Tak Berduit yang Diplonco Senior

25 Juli 2024
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Garuda Pertiwi Menantang Thailand di Final Srikandi Merdeka Cup 2026, Pertarungan 2 Raksasa Tanpa Cela

Garuda Pertiwi Menantang Thailand di Final Srikandi Merdeka Cup 2026, Pertarungan 2 Raksasa Tanpa Cela

22 Agustus 2026
Peserta dalam ajang Klaten International Motocross di Sirkuit Bokong Semar, kawasan Rowo Jombor. MOJOK.CO

Anak Muda Asal Jawa Barat Kalahkan Crosser dari Australia di Ajang Klaten International Motocross

25 Agustus 2026
Warga Yogyakarta Bisa Perbarui Desil yang Tak Sesuai Data secara Mandiri Lewat Aplikasi. MOJOK.CO

Warga Yogyakarta Bisa Perbarui Desil yang Tak Sesuai Data secara Mandiri Lewat Aplikasi

21 Agustus 2026
ilustrasi ketua pemuda

Jabatan Ketua Pemuda di Kampung itu Gagah, Tapi Ngenes Karena Dianggap Bisa Menyelesaikan Semua Masalah

20 Agustus 2026
Jangan remehkan antrean Stasiun Lempuyangan, Jogja, di jam pagi untuk keberangkatan Kereta Api (KA) Ekonomi Sri Tanjung MOJOK.CO

Antrean Pagi Stasiun Lempuyangan Jogja Selalu “Keos” dan Bikin Tegang, Datang Lebih Awal Tak Jadi Solusi

21 Agustus 2026
ilustrasi - pekerja (Ega Fansuri/Mojok.co)

Pelarian Laki-laki Burnout usai Dihantam Pekerjaan tapi Dipaksa Kuat karena Tuntutan Kepala Keluarga Ideal

20 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.