Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Enak Aja, Bahasa Kebumen itu Bukan Jawa Ngapak Ya!

Dewi Kustati oleh Dewi Kustati
16 April 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Ada perbedaan mencolok antara logat Jawa Ngapak dan logat Jawa Medok. Hal-hal yang tidak disadari—bahkan—oleh penutur bahasa Jawa sendiri.

Indonesia dikenal dengan keberagaman budaya, suku, dan bahasanya. Menurut sensus BPS tahun 2010 terdapat 1340 suku bangsa dan 1158 bahasa daerah di Indonesia. Jadi kalau ngomongin toleransi harusnya negara Indonesia sudah khatam.

Iklan

Suku Jawa yang mendominasi populasi masyarakat Indonesia yaitu sebanyak 40% pun masih memiliki keragaman dalam berbagai dimensi.

Salah satu hal mencolok yang bisa menggambarkan orang Jawa bagian mana adalah logat bahasanya. Teman saya yang dari Sumatra—meskipun nggak ngerti bahasa Jawa—tahu persis kalau logat saya dengan logat teman saya yang dari Jawa Timur itu beda.

Secara kasar, jenis bahasa Jawa yang dikenal masyarakat pada umumnya adalah logat Jawa Ngapak dan logat Jawa Medok (dalam bahasa Jawa: medhok). Logat Jawa Ngapak identik dengan bahasa masyarakat Jawa Tengah bagian barat, sedangkan bahasa Jawa Medok identik dengan bahasa masyarakat Jawa Tengah bagian timur sampai ke Jawa Timur.

Meskipun masih sama-sama menggunakan logat medok, logat medok orang Jawa Tengah dan logat medok orang Jawa Timur berbeda. Namun perbedaan keduanya masih terdengar wajar ketika ngobrol, masih sama “iyo”-nya.

Lalu di mana letak pembauran antara logat ngapak dan medok yang bagaikan air dan minyak ini?

Terlepas dari penelitian budaya secara keilmuan, melihat dari letak geografis, pembauran bahasa ini ada di daerah Jawa Tengah. Kalau Cilacap adalah penutur logat ngapak sedangkan Purworejo menggunakan logat medok, Kebumen adalah pertemuan antara keduanya.

Sebagian besar orang mungkin mengira Kebumen adalah penutur logat ngapak. Namun pada kenyataannya ada sebagian kecil dari wilayah Kebumen yang dihuni oleh orang-orang yang juga menuturkan bahasa Jawa dengan logat medok, dan sebagian kecilnya lagi menggunakan bahasa yang tidak medok dan sedikit ngapak.

Daerah pembauran atau asimilasi budaya ini menuturkan banyak sekali kata dalam bahasa Jawa dengan logat yang orang dengan logat medok maupun ngapak sendiri akan merasa asing.

Di Kebumen bagian selatan terdapat sebuah desa bernama Kembangsawit. Di desa ini logat Jawa yang digunakan tidak terlalu ngapak bagi penutur logat ngapak, dan tidak medok bagi orang medok.

Adalah hal biasa bagi saya dan keluarga terdengar geli saat ngobrol dengan sepupu yang tinggal di Kebumen kota, begitu pula sebaliknya yang dirasakan mereka. Nggak jarang kami pun saling menirukan karena oleh masing-masing dari kami merasa logat penutur lawan terdengar lucu.

Emangnya seperti apa logat peralihan ini?

Kalau logat medok identik dengan penuturan vokal O dan logat ngapak identik dengan penuturan vokal A, di daerah peralihan ini kata-kata dengan vokal O dan A tadi menjadi E. Vokal E di sini diucapkan seperti mengucapkan “e” pada kata kata elang (əlang).

Saya kasih contohnya beberapa.

Ngapak                : pira

Peralihan             : pire (pirə)

Medok                 : piro

Iklan

Artinya                : berapa


Ngapak                : aja

Peralihan             : aje (ajə) atau ada juga yang menggunakan eje (əjə)

Medok                 : ojo

Artinya                : jangan


Ngapak                : sega

Peralihan             : sege (səgə); atau ada juga yang menuturkan vokal “e” depan seperti “e” pada elang dan vokal “e” belakang seperti “e” pada erosi (tempat tinggal mereka masih satu kecamatan namun berbeda desa).

Medok                 : sego

Artinya                : nasi


Tapi tidak semua kata tinggal mengganti vokal A atau O dengan vokal E, ada beberapa kata yang masih tetap menggunakan A, seperti iso (artinya: bisa) dalam medok akan menjadi “isa”, baik dalam logat ngapak maupun peralihan.

Sewaktu saya SD beberapa teman saya yang hidup di perbatasan Kutowinangun sudah termasuk dalam penutur logat medok.

Memang tidak seasing pertukaran pelajar dari Indonesia ke Jepang sih, tapi di usia itu saya sudah merasakan perbedaan bahasa yang begitu kentara. Dan karena usia saya yang waktu itu masih satu digit serta belum banyak dipengaruhi hormon ini-itu, saya hidup dengan menuturkan bahasa jawa logat “E” dengan lantang.

Masuk SMP saya bertemu dengan lebih banyak orang dari daerah yang lebih beragam meskipun hanya lintas kecamatan. Maklum, sekolah SMP saya nggak jauh dari rumah, agar lebih hemat serta dalam rangka memajukan perekonomian kecamatan.

Dengan begitu banyaknya teman baru yang di antara mereka ini ada penutur A, O, dan E, saya pun banyak belajar bahwa penutur E ini ternyata masih banyak lagi ragamnya.

Kami menuturkan logat masing-masing dengan percaya diri dan di sini semua terdengar sangat wajar. Saya akan ngobrol, berdiskusi, bertengkar, bergembira, maupun marah-marah dengan logat yang konsisten. Saya merasa belajar banyak untuk memahami perbedaan tanpa perlu mencampuradukkan.

Beranjak remaja, di SMA bisa dibilang saya adalah kaum minoritas. Karena SMA saya di Kebumen kota, kebanyakan teman-teman saya menuturkan logat A. Jadi tak pelak lagi logat yang saya pakai kadang mendapatkan ejekan karena terdengar aneh bagi beberapa orang. Dan tidak jarang juga beberapa dari mereka malah mengikuti dengan kebablasan menirukan logat medok “O” dan bukan “E”.

Pengaruh urbanisasi dan perkembangan teknologi menjadikan kekhasan logat atau bahasa ini semakin beragam sekaligus bergerak menuju kepunahan.

Suatu hari ketika saya kembali berkumpul dengan teman-teman SMA saya menyadari bahwa logat ngapak kami sudah banyak tercampur dan berubah. Saya mempersembahkan akulturasi sunda-ngapak, begitu juga teman saya dengan medok Jogja/Solo-ngapak yang sungguh absurd jika kelak saya harus menuliskannya.

Di lain kesempatan saya mendapati keponakan-keponakan saya dibesarkan dengan Bahasa Indonesia dengan EYDDBN (Ejaan Yang Disesuaikan Dengan Bahasa Ngapak). Mereka yang masih krucil-krucil ini tangkas sekali menuturkan bahasa Indonesia dan lihai melafalkan hi, how are you, i am fine.

Menerawang jauh semasa SD dan SMP, saya yang dibesarkan orang tua Jawa totok dengan bahasa ibu mereka, terbata-bata dan kelimpungan menghafal begitu banyak jenis bahasa Jawa Kromo.

Lucu sekali kalau nanti orang Jawa nggak bisa lagi menuturkan bahasanya sendiri atau orang Ngapak lupa akan logat leluhurnya sendiri.

Terakhir diperbarui pada 16 April 2019 oleh

Tags: bahasa jawaJawa Medokngapakpenutur bahasa
Dewi Kustati

Dewi Kustati

Blogger dan PNS

Artikel Terkait

Kemang, Saksi Bisu Kepura-puraan Perantau Jawa: Rela Ngomong “Lu-Gue” hingga Paksa Selera Musik demi Bisa Bergaul di Jaksel MOJOK.CO

Kemang, Saksi Bisu Kepura-puraan Perantau Jawa: Rela Ngomong “Lu-Gue” hingga Paksa Selera Musik demi Bisa Bergaul di Jaksel

6 Januari 2026
Cerita Kebiasaan Orang Jawa yang Bikin Kaget Calon Pendeta MOJOK.CO

Cerita Calon Pendeta yang Kaget Diminta Mendoakan Motor Baru: Antara Heran dan Berusaha Memahami Kebiasaan Orang Jawa

21 November 2025
Bahasa Jawa harus dipelajari Gen Z. MOJOK.CO

Cara Menjadi Jawa Seutuhnya dengan Mengilhami Bahasa, Tanpa Mencampurnya Jadi “Jawindo” dan Bahasa Slang ala Gen Z

24 Oktober 2025
Aksara jawa. MOJOK.CO

Aksara Jawa Bukan Sekadar Mantra Berbau Klenik, Bisa Menyelamatkan Hidup jika Dipahami Secara Sains

23 Oktober 2025
kaum ngapak di kemang jakarta selatan.MOJOK.CO

Orang Ngapak Melawan Rasisnya Warga Jakarta: ‘Bukan Dielek Ndeso, Aneh, Keras, Apalagi Bahasa Alien’

17 Januari 2025
10 Tanda Kamu Harus Segera Meninggalkan Purwokerto MOJOK.CO

10 Tanda Kamu Harus Segera Meninggalkan Purwokerto Detik Ini Juga Sebelum Stres

3 Juni 2024
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

perubahan desil membuat penjual ayam potong menderita

Perubahan Desil Tak Masuk Akal Membuat Penjual Ayam Potong Menderita

21 Agustus 2026
Penyesalan mahasiswa kiri dan naif: tolak kerja (jadi budak) korporat karena melanggengkan kapitalisme, tapi sadar orang tua belum bahagia MOJOK.CO

Sesal Mahasiswa Sok Kiri Anti Kapitalisme dan Naif: Tolak Kerja Korporat, Tapi Sadar Belum Bantu Ekonomi Orang Tua

21 Agustus 2026
Desta pamit dari Vindes rasanya kayak kehilangan dua teman MOJOK.CO

Ketika Desta pamit dari Vindes, saya merasa kehilangan dua teman yang tidak pernah saya kenal

27 Agustus 2026
Dosen Penguji Bilang Tesis Saya Nggak Layak, Sejak Itu Saya Mengalami Trauma Akademik MOJOK.CO

Dosen Penguji Bilang Tesis Saya Nggak Layak, Sejak Itu Saya Mengalami Trauma Akademik

26 Agustus 2026
Jombang makin kegilaan karnaval sound horeg: battle audio tengah malam, atraksi lampu jadi perburuan baru MOJOK.CO

Jombang Makin “Kegilaan” Sound Horeg: Battle Audio Tengah Malam, Atraksi Lampu Jadi Tren Kalcer Baru

23 Agustus 2026
4 tradisi hajatan di Rembang (bancaan) yang terdengar asing bagi orang daerah lain MOJOK.CO

4 Tradisi Hajatan di Rembang yang Bikin Heran Orang Daerah Lain: Terkesan Ada-ada Saja, Terlalu Detail ke Banyak Urusan

27 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.