Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Investor dan Turis Sama Saja, Sama-Sama Miskin Imajinasi

Dandhy Dwi Laksono oleh Dandhy Dwi Laksono
11 Mei 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Industri pariwisata menyeragamkan selera. Siapa yang berperan? Ya investornya, ya turisnya.

Ini gambar pada proposal salah satu calon investor pariwisata di Mentawai, Sumatera Barat.

Iklan

Sejak 2016, warga Teileleu di Kabupaten Kepulauan Mentawai dibujuk untuk melepas tanahnya dengan ganti rugi Rp2,2 juta untuk setiap 100 pohon kelapa. Ada lagi tunjangan Rp2 juta per bulan selama 5 tahun, asal mau meninggalkan tanah dan produksi kopra yang telah digeluti berabad silam.

Tapi, Anda pasti sudah bosan membaca catatan saya tentang ekonomi warga versus agenda korporasi yang difasilitasi negara. Mungkin saya perlu bicara dari sisi nalar pariwisata sendiri.

Saya usulkan kepada kawan-kawan jurnalis di Padang atau komunitas dokumenter untuk membuat cerita pendek soal ini. Caranya mudah: cukup satu jam saja berdiri di dermaga Mentawai Fast lalu cegat turis asing yang hendak menyeberang. Kepada mereka, tunjukkan gambar ini dan ajukan pertanyaan sederhana.

“Apakah ini yang Anda bayangkan tentang Metawai ketika memutuskan berlibur ke sana?”

Lalu bisa ditambahi kutipan dari bintang film “Fast and Furious” Paul Walker tentang alasannya menyebut Indonesia (Mentawai) sebagai “rumahku yang lain” atau secara klise ia sebut “surga di bumi”.

Ketika imajinasi turis tentang Mentawai adalah ombak, pasir, nyiur melambai, kapal kayu atau pompong, pemerintah dan investor properti Sentosa Group ini justru membuyarkannya dengan visualisasi pesisir Malibu di Kalifornia.

Di atas lahan 2.639 hektare, mereka membuyarkan angan-angan turis melihat Sikerei penuh tato keluar masuk hutan meramban tanaman obat dan menggantinya dengan hotel, restoran, padang golf, sea world, perkantoran, dan tentu saja bandara internasional dengan penerbangan langsung dari Singapura.

Singkat cerita, sekolah bisnis di mana para calon investor ini? Apakah mereka sedang tidur ketika dosennya mengajarkan tentang pentingnya nilai jual (selling point) dan kekuatan spesial (uniqueness) sebuah barang dan jasa yang tak dimiliki kompetitor?

Apakah mereka sedang bolos di rental-rental PlayStation ketika ada kuliah umum tentang segmentasi pasar dan diferensiasi produk?

Nalar bisnis yang sama digunakan calon investor Teluk Benoa yang hendak menguruk laut di Bali dengan dalih Pulau Dewata butuh ikon pariwisata baru agar “tak kalah dari Dubai dan Singapura”.

Mereka lupa, orang datang ke Bali untuk melihat hutan asli seperti Taman Nasional Bali Barat, bukan untuk melihat hutan buatan seperti Gardens by the Bay-nya Singapura. Orang datang ke Bali ingin melihat pulau asli bernama Lembongan atau Nusa Penida, bukan pulau palsu ala Palm Jumeirah seperti Dubai.

Mendesain Bali dengan konsep pariwisata agar bisa head-to-head dengan Singapura atau Dubai, selain tak masuk akal, juga bunuh diri. Sebab, ketika Bali menjadi semakin sama dengan Dubai dan Singapura, lantas apa lagi alasan yang tersisa untuk mengunjungi Bali, selain bertarung di harga tiket pesawat dan penginapan?

Konsep Mentawai Bay Resort adalah contoh lain miskinnya imajinasi para pebisnis pariwisata dan properti di Indonesia. Bandingkan dengan, misalnya, Bhutan yang tetap percaya diri menjual keindahan dan keasrian alamnya yang justru membuat industri pariwisatanya menjadi premium. Ongkos sepekan di Bhutan sama dengan biaya paket wisata ke Selandia Baru.

Untuk rata-rata orang Indonesia yang merasa sudah kenyang melihat hutan (itu pun dari gambar, karena kini sulit mencari hutan), tentu dengan ongkos yang sama lebih memilih Selandia Baru dan berfoto di rumah “Frodo”. Tapi, bagi segmen lain yang sudah kenyang dengan “modernitas” (yang ini malah biasanya lebih banyak duitnya), justru harus antre mengunjungi Bhutan karena pemerintahnya menerapkan kuota hanya 75 ribu turis setahun.

Apakah mereka tidak doyan duit?

Iklan

Justru karena doyan, mereka berpikir jangka panjang. Jika tidak diberlakukan kuota dan menerapkan konsep turisme massal, pemerintah Bhutan khawatir daya tampung dan daya dukung lingkungannya akan over capacity dan pada akhirnya akan rusak dan merugikan di masa yang akan datang.

Mereka yang “aji mumpung”-lah yang sebenarnya tidak doyan duit. Hanya berpikir tentang untung sesaat dan tak punya cukup kesabaran untuk membiarkan proses-proses alamiah dalam interaksi sosial antara warga, alam, dan wisatawan. Gagasan mencetak 10 Bali baru dan menggenjot 20 juta turis mancanegara dalam tempo 3-4 tahun yang dicanangkan Presiden Jokowi adalah contoh bagaimana pariwisata tidak didesain dengan konsep yang tumbuh secara alami.

Jokowi lupa, Bali mulai mengenal turis sejak 1920-an lewat “wisata antropologi” yang dimulai para peneliti dan ilmuwan. Ada proses interaksi yang gradual hingga menjadikan Bali seperti saat ini. Itu pun bukan jaminan tak ada konflik seperti dalam kasus Teluk Benoa yang melibatkan pengusaha Tomy Winata, Pulau Serangan milik keluarga Cendana, atau sulitnya warga Bali mengakses pantai-pantai tertentu karena diklaim sebagai “private property”.

Konsep pariwisata yang tak berbasis komunitas atau masyarakat dan semata-mata mengandalkan stimulasi investasi hampir pasti menimbulkan konflik seperti Pulau Cubadak di kawasan Mandeh (Sumatera Barat), pengusiran nelayan di areal resort-resort tertentu di Wakatobi, kasus Pulau Pari di Kepulauan Seribu, atau tewasnya warga bernama Poro Duka di Pulau Sumba baru-baru ini akibat peluru polisi yang mengawal pengukuran tanah untuk resort.

Bahkan baru di tahap membangun bandara untuk mendukung konsep turisme massal Yogya seperti Kulonprogo pun, sudah menuai konflik dengan warga.

Di sisi lain, mungkin pebisnis merasa ada peluang pasar hingga nekat menyulap Mentawai yang seharusnya menjadi tujuan “wisata dengan minat khusus” menjadi wisata massal. Ia mungkin tak peduli dengan turis-turis asing yang toh ke Mentawai lebih banyak menghabiskan waktu di kapal pesiar, misalnya.

Mereka menargetkan turis Asia, khususnya mungkin Indonesia yang memang “unik” dan cenderung lucu.

Ke mana pun perjalanan wisatanya, tak peduli pantai, gunung, kota, atau pinggiran, sepanjang ada McD atau KFC, makannya tetap di sana. Nongkrong dan minumnya tetap di Starbucks, sementara tidurnya di hotel-hotel berjaringan yang konsepnya seragam seperti Ibis, Novotel, Santika, Fave, Pop, atau Amaris—dengan tak lupa meminta koneksi wi-fi agar tetap update alih-alih menikmati pemandangan atau pengalaman kultural.

Turis-turis jenis ini menyumpal telinganya dengan playlist yang sama, tak peduli dia sedang menikmati Pulau Rote yang punya lontar dan sasando atau menatap Ngarai Sianok dan seharusnya membiarkan lamat-lamat suara pengamen saluang yang membawa speaker-nya sendiri, meski terdengar sember.

Jadi, tak heran jika calon investor Mentawai Bay Resort ini mendirikan lapangan golf di daerah di mana seharusnya turisnya berjalan-jalan menyusuri sungai melihat kandang-kandang babi atau pengolahan sagu milik warga lokal di sepanjang perjalanan.

Atau setidaknya, cukup duduk santai ditemani kelapa muda sembari menatap tenangnya muara Saibi di Siberut Tengah dan berharap pelangi muncul setengah lingakaran sempurna menghubungkan dua titik cakrawala. Alih-alih melihat sea world yang pastinya lebih hebat di Singapura atau cukup di Ancol saja.

Investor dan jenis turis yang sama-sama miskin imajinasi.

Terakhir diperbarui pada 11 Mei 2018 oleh

Tags: BaliinvestorMentawaimentawai bayresortsikereitempat wisataturis
Dandhy Dwi Laksono

Dandhy Dwi Laksono

Artikel Terkait

Mahasiswa KKN UGM dan LPS berkolaborasi hadirkan edukasi literasi keuangan di desa terluar Mentawai MOJOK.CO

Literasi Keuangan untuk Desa Terluar di Mentawai: Jadi Bekal Masyarakat Desa Hadapi Ragam Persoalan Finansial

10 Agustus 2026
Pengeroyokan di Bali tidak dibenarkan. MOJOK.CO

Pakar Hukum Pidana: Pelaku Pengeroyokan di Bali Bisa Kena KUHAP, sementara Keluarga Korban Terlanjur Alami Trauma

27 Juli 2026
Pekerja Jogja Kangen Mengadu Nasib di Bali, Kerjanya Sama-Sama Santai dan Biaya Hidup Lebih Murah Mojok.co

Mending Kerja di Bali daripada Jogja, Kerjanya Sama-Sama Santai dan Biaya Hidup Lebih Murah

30 Maret 2026
Kebanyakan di Jogja saya merasa wisata di Surabaya membosankan selain Tunjungan. MOJOK.CO

Wisata Surabaya Membosankan, Cuma Punya Kafe Estetik di Jalan Tunjungan dan “Sisi Utara” yang Meresahkan

23 Maret 2026
Pantai Drini, Gunungkidul kehilangan keasrian dan identitas. Korban wisata Jogja yang dimirip-miripkan dengan Bali MOJOK.CO

Pantai Drini Gunungkidul Kehilangan Identitas dan Keasrian Alami, Korban Wisata Jogja yang Dimirip-miripkan Bali

5 Maret 2026
Resign kerja di Jakarta pilih di Bali. MOJOK.CO

Baru Satu Tahun Kerja di BUMN, Pilih Resign karena Nggak Kuat “Ugal-ugalan” di Jakarta sampai Temukan Peluang Karier Lebih Baik di Bali

6 Januari 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

InJourney Bangun Rumah Layak Huni bagi Warga Kalasan, Wujud Kepedulian kepada Warga di Sekitar Destinasi Wisata.MOJOK.CO

InJourney Bangun Rumah Layak Huni bagi Warga Kalasan, Wujud Kepedulian kepada Warga di Sekitar Destinasi Wisata

18 Agustus 2026
Jombang makin kegilaan karnaval sound horeg: battle audio tengah malam, atraksi lampu jadi perburuan baru MOJOK.CO

Jombang Makin “Kegilaan” Sound Horeg: Battle Audio Tengah Malam, Atraksi Lampu Jadi Tren Kalcer Baru

23 Agustus 2026
Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya MOJOK.CO

Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya

23 Agustus 2026
Honda Beat adalah motor paling boring di indonesia MOJOK.CO

Honda Beat adalah motor paling boring di indonesia tapi justru karena itu saya sayang banget sama motor ini

18 Agustus 2026
Sisi lain blusukan kampung di Surabaya Pusat. MOJOK.CO

Sisi Lain Tren Blusukan Kampung: Nggak Seru seperti di Medsos, Malah Dicurigai Pencuri dan Dianggap Tak Tau Adab

20 Agustus 2026
Grup WhatsApp keluarga, tempat menghakimi hidup orang lain (Unsplash)

Grup WhatsApp keluarga bukan tempat silaturahmi, tapi sumber stres baru ketika berubah menjadi ruang sidang untuk menghakimi hidup orang lain

18 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.