MOJOK.CO – Tidak banyak belajar membuat investasi saham saya berakhir buruk. Udah habis 50 juta, cuma untung 27 ribu per bulan.
Selama lima tahun mengelola penghasilan sendiri, saya banyak belajar. Salah satunya adalah kalau mau investasi saham, atau investasi apa saja, sebaiknya mengimbanginya dengan pengetahuan, waktu dan usaha yang cukup.
Kalau tidak, uang yang kamu investasikan akan menjadi sia-sia seperti yang saya alami. Sebuah pengalaman yang bikin kapok dan membuat saya pindah ke deposito.
Jadi, saya mulai kerja dan mendapatkan penghasilan pertama di 2021. Saat itu memang lagi booming investasi. Salah satunya investasi saham.
Membaca banyak ulasan dan testimoni, saya tergoda. Cuma modal belajar lewat YouTube, saya nekat saja investasi saham mulai awal 2022.
Ini sebuah kesalahan dasar kalau sepengalaman saya. Saat itu, seharusnya saya belajar dulu sampai tuntas. Bahkan seharusnya saya belajar investasi itu ada banyak rupa. Selain saham, ada deposito. Tapi saya sudah terlalu tergoda.
Awal mula ber-investasi saham
Alih-alih mendapatkan banyak keuntungan, saya cuma dapat recehan. Saya hanya dapat rata-rata Rp27 ribu per bulan!
Iya, saat tahu cuma dapat keuntungan rata-rata Rp27 ribu per bulan, saya jadi mikir. Ketimbang capek mikirin saham, mendingan saya hidup hemat saja. Atau investasi bentuk lain seperti deposito.
Jadi, selama 2021, harga IHSG naik 10,08% dari 5.979 di akhir 2020 menjadi 6.581 di akhir 2021. Bagi yang mungkin belum tahu, IHSG adalah indikator yang mencerminkan pergerakan harga seluruh saham di pasar Indonesia.
Jika IHSG naik, itu artinya secara keseluruhan saham-saham di Indonesia juga mengalami kenaikan. Saat itu, influencer-influencer keuangan tumpah ruah di media sosial, dan banyak orang yang memamerkan keuntungan dari investasi saham.
Di tahun debut ini, saya mengucurkan modal rata-rata sebesar Rp10 juta selama setahun. Pada bulan Januari sampai Juni 2022, semuanya terlihat lancar.
Saya berhasil mengantongi keuntungan Rp800.000 (keuntungan 16% jika disetahunkan) dengan tiga top gainer berkode SAME, ANTM, dan AKRA. Masuk Juli, pikiran jemawa dan sok pintar mulai merasuki.
Banyak banget jumlah emiten yang saya jual dan beli tanpa analisa yang jelas. Hasilnya saya rugi Rp1,3 juta di akhir tahun.
Penyesuaian gaya
Pengalaman pahit sebelumnya mengajarkan saya satu hal. Pokoknya, jangan membeli saham yang tidak kamu ketahui.
Maka, saya mulai mengurangi membeli saham secara asal-asalan dan lebih memilih yang perusahaan saya tahu. Selain itu, saya juga mulai memprioritaskan saham yang rutin membagi dividen. Beberapa saham yang saya beli adalah perbankan (BRI, BNI, BCA, dan Mandiri), Astra, Telkom, Alfamidi, Bluebird, United Tractors, GoTo, dan Antam.
Jebakan investasi saham
Walaupun sudah menyesuaikan gaya investasi agar lebih berhati-hati, tetap saja hasilnya tidak sesuai angan-angan. Dari Januari 2023 sampai Juni 2026, dengan modal rata-rata Rp30 juta sampai Rp50 juta, saya mendapatkan keuntungan sebesar Rp2,7 juta.
Artinya, selama 4,5 tahun saya investasi saham, keuntungannya hanya Rp1,5 juta. Kalau membuat rata-rata, berarti hanya sekitar Rp333 ribu per tahun atau hanya sekitar Rp27 ribu per bulan.
Kok bisa?
Biasanya, cara menganalisis saham itu ada tiga yaitu analisis fundamental (neraca, profit, arus kas, rasio keuangan, makroekonomi), analisis teknikal, (menganalisa grafik harga saham), dan analisis bandarmologi (menganalisa pergerakan transaksi “pemain” besar).
Menurut saya, analisis yang paling bagus adalah yang fundamental. Saya yakin orang berinvestasi pada keuntungan dan kinerja riil perusahaan.
Tapi, pelan-pelan saya menyadari kalau kemampuan dan waktu saya sangat terbatas untuk mempelajari dan mendalami itu. Jadi saya biasanya menggunakan analisis teknikal dan analisa bandarmologi.
FOMO yang membunuhmu
Sayangnya, kedua analisis ini hanya menampilkan kejadian yang sudah lewat (history), padahal yang saya butuhkan adalah “prediksi” harga saham di masa depan. Contohnya saya mencoba melihat pergerakan dana dari salah satu bandar di saham Bank BCA.
Tanggal 2 sampai 7 Juni, sang bandar outflow dan harga saham Bank BCA anjlok. Melihat hal itu, saya ikut jual saham Bank BCA di tanggal 7 Juni. Ternyata, di tanggal 8 Juni sampai 14 Juni, sang bandar malah inflow banyak dana dan harga saham BCA melambung.
Melihat ini, saya merasa ternyata tidak bisa juga mengandalkan analisis teknikal ataupun bandarmologi. Artinya, saya perlu memperkuat analisis fundamental. Tapi apa daya, saya tidak memiliki waktu karena punya pekerjaan tetap yang sudah menyita waktu.
Belum lagi saya sulit mengendalikan emosi melihat harga saham yang naik dan turun. Hal ini membuat keputusan kerap bukan berasal dari hasil analisis, melainkan keputusan impulsif.
Tak terhitung berapa kali saya menjual saham saat murah dan membeli saat sudah mahal. Saat harga saham turun, saya buru-buru menjual. Saat harga saham naik, saya FOMO dan ikut-ikutan beli saat harga sudah mahal.
Sering juga saya menahan porto yang sudah merah. Jujur, saya takut rugi sambil berharap harganya kembali naik. Yang terjadi malah semakin jatuh dan investasi saham saya berakhir buruk.
Analisis yang lemah dan keputusan keliru inilah yang menjadi biang kerok saya gagal investasi saham. Jangan kamu tiru, ya.
Mencari alternatif investasi
Sejak awal, seharusnya saya punya alternatif selain investasi saham. Misalnya, seperti yang saya sebut di awal, deposito.
Beberapa deposito yang bisa kamu pertimbangkan adalah deposito bank (asumsi bunga 2,25%/tahun), deposito Bank Perkreditan Rakyat (asumsi bunga 5%/tahun), dan Obligasi Negara atau ORI (asumsi 5,5%/tahun).
Dengan jumlah modal yang kurang lebih sama, yaitu sekitar Rp30 sampai Rp50 juta, saya bisa menghasilkan keuntungan berikut: :
- Deposito Bank: Rp675.000 sampai Rp1.125.000 per tahun.
- Deposito Bank Perkreditan Rakyat (BPR): Rp1.500.000 sampai Rp2.500.000 per tahun.
- Obligasi Negara (ORI): Rp1.650.000 sampai Rp2.750.000 per tahun.
Bandingkan dengan hasil investasi saya selama 4,5 tahun, yaitu Rp333.000 per tahun dan 27 ribu per bulan. Mengenaskan.
Terakhir, tulisan ini tidak untuk mencegah kamu investasi saham. Pengalaman saya ini semoga bisa menjadi pelajaran untuk kamu. Bahwa ukur kemampuan diri dan belajar dulu sampai tuntas sebelum melangkah.
Jika masih kurang mampu dan kurang siap, ada baiknya tidak investasi saham atau investasi lainnya.
Buat diversifikasi portofolio investasi agar mengurangi risiko kerugian. Saya sendiri sejauh ini sudah mulai meninggalkan saham dan memusatkan dana ke instrumen lain, seperti deposito Bank, deposito BPR, emas, Obligasi Negara, dan reksadana pasar uang.
Hasilnya, saya lebih tenang dan mendapatkan keuntungan yang lebih pasti. Semoga pengalaman ini bisa jadi contoh untuk kamu, ya.
Penulis: Doli Benedictus Hutauruk
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Pelajaran mahal yang saya dapat setelah menjual saham ANTM lalu membeli BBRI: Saya pikir sudah berhitung dengan benar tapi pasar berpendapat lain dan pengalaman yang menginspirasi lainnya di rubrik CUAN.
