Dividen yang menyelamatkan cerita ini
Kalau BBRI tidak membayar dividen, mungkin cerita saya ini berakhir lebih pahit. Tapi, BBRI itu royal soal dividen.
Ketika harga saham tertekan, dividen tetap mengalir. Dan justru di sinilah perspektif saya bergeser. Dari menyesali capital gain yang hilang, menjadi melihat BBRI sebagai mesin dividen yang sedang dijual murah.
Dividen yang masuk ke rekening bukan sekadar hiburan. Itu semacam sinyal bahwa mesin bisnisnya masih berputar, masih menghasilkan, meski harga sahamnya sedang ditekan sentimen negatif yang sesungguhnya tidak ada kaitannya dengan kinerja operasional perusahaan.
Selama dividen mengalir dan labanya terjaga, saya punya alasan untuk tetap tenang. Saya juga jadi tidak tergesa-gesa mengambil keputusan yang dengan kepanikan sebagai sumbernya.
Maka saya tidak panik. Saya malah bertahap menambah posisi BBRI. Averaging down, istilahnya. Mumpung murah.
Apakah ini keputusan yang benar? Pasar yang akan menjawab. Mungkin tahun depan, mungkin tiga tahun lagi. Tapi logikanya tetap sama dengan dua tahun lalu. Bank dengan jaringan sedalam BBRI tidak mudah tenggelam. Dan saya cukup sabar untuk menunggu pasar akhirnya sependapat dengan saya.
Pelajaran dari ini semua untuk kamu yang sedang “berinvestasi” saham
Bukan berarti blue chip itu aman dari kerugian. Justru sebaliknya, blue chip pun bisa bikin rugi, terutama kalau kita masuk di harga yang terlalu tinggi dengan ekspektasi yang terlalu cepat.
Investasi saham bukan soal menemukan saham yang paling bagus lalu tidur nyenyak. Ada soal timing, harga beli, dan kesabaran yang tidak semua orang siap menanggungnya.
Dan ada soal kemampuan membedakan antara bisnis yang sedang bermasalah dengan harga yang sedang ditekan sentimen. Yah, karena keduanya terlihat sama di layar, tapi solusinya sangat berbeda.
Ada juga soal kejujuran pada diri sendiri. Bahwa kita bisa berhitung dengan benar, dan tetap salah di mata pasar, setidaknya untuk sementara waktu.
Tidak ada investor yang selalu benar. Yang membedakan investor berpengalaman dari pemula bukan soal seberapa sering mereka benar, tapi seberapa tenang mereka menghadapi saat-saat ketika mereka salah.
Saya juga belajar bahwa literasi investasi bukan hanya soal membaca laporan keuangan atau memahami rasio-rasio keuangan. Literasi yang sesungguhnya adalah ketika kita bisa duduk tenang di tengah kerugian yang belum pulih, membaca situasi dengan kepala dingin, dan membuat keputusan berikutnya bukan berdasarkan emosi.
Buatlah keputusan berdasarkan logika yang sudah kita uji ulang. Saat ini saya masih pegang BBRI. Masih menambah sedikit demi sedikit.
Dan ANTM? Saya ikhlas. Pelajaran itu tidak gratis, tapi harganya sepadan.
Penulis: Hendra Santika
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Belajar Trading Saham agar Cepat Kaya seperti Timothy Ronald, Malah Berujung Rungkad dan pengalaman menarik lainnya di rubrik CUAN.














