MOJOK.CO – Jastip masih cuan. Sulit cari kerja, usaha sendiri jadi alternatif. Mari belajar dari mahasiswa Flores meraup untung jutaan tiap bulan.
Jastip atau jasa titip pertama kali saya dengar dari saudara saya yang saat itu dari luar negeri. Dia menerima berbagai macam titipan pembelian kemudian mendapat sedikit cuan sebagai tanda jasa terima kasih dari orang yang menitipkan pembelian itu. Pada saat itu yang saya lihat jastip adalah murni untuk membantu orang lain.
Sampai akhirnya saya tahu bahwa jastip ternyata bisa dibisniskan. Misalnya menerima jasa penitipan membeli makanan, oleh-oleh, atau barang diskon dari seseorang yang sedang di daerah atau negara tertentu. Dalam skala yang lebih luas, jastip kemudian berubah menjadi sesuatu yang lebih kompleks, yaitu jasa pengiriman antar-kota dengan memanfaatkan jaringan distribusi berbasis komunitas.
Ini saya ketahui dari kebiasaan ibu saya yang lebih memilih menggunakan jastip dari kalangan mahasiswa untuk pengiriman barang dari Jawa ke Flores. Menurut ibu saya, jastip tersebut lebih murah ketimbang jasa logistik arus utama seperti kantor pos atau JnT.
Saya kemudian mencari tahu bagaimana bisnis ini berjalan. Mulai dari mekanismenya, seperti apa prosesnya, seberapa besar omset dan labanya, dan apa saja risikonya. Terutama dalam konteks zaman sekarang.
BACA JUGA: Jastip Mie Gacoan, Peluang Bisnis yang Menguntungkan. Jelas Cuan, Jelas Menambah Kesabaran!
Mekanisme jastip yang ternyata nggak rumit
Jadi, dari sisi mekanismenya, ternyata tidak terlalu rumit. Setidaknya butuh tiga pihak. Pertama, pengumpul barang di kota asal yang bertugas sebagai admin. Kedua, pihak cargo, jasa logistik, atau ekspedisi yang bertugas sebagai pihak yang mengirimkan barangnya. Ketiga, koordinator tujuan yang bertugas sebagai admin penerima barang.
Admin pengumpul barang akan membuka slot pengiriman melalui promosi via media sosial, bisa melalui WhatsApp, Instagram, TikTok, atau grup-grup komunitas. Dia kemudian mengumpulkan barangnya, mencatat siapa penerima dan tujuannya, lalu mengirimkannya secara kolektif dalam beberapa batch ke kota tujuan. Umumnya membuka tiga sampai lima batch setiap bulannya.
Dalam mekanisme tersebut, skema pembayaran jastip dilakukan setelah barang sudah tiba di lokasi tujuan. Jadi, penerima akan diinformasikan dalam sebuah grup batch jastip dan setelahnya penerima membayar biaya jasa ketika barang diambil di titik pengambilan. Skema ini membuat pelanggan merasa lebih aman karena mereka membayar ketika barang sudah di lokasi pengambilan.
Saya sendiri melakukan sebuah studi kasus terkait jastip ini lewat beberapa mahasiswa Flores yang saya kenal. Rata-rata, mereka kuliah di Jogja. Lewat usaha kecil-kecilan ini, mereka bisa menabung dan memenuhi kebutuhan dasar.
Jastip jadi sumber cuan kecil-kecilan mahasiswa Flores yang kuliah di Jogja
Saya sempat melakukan wawancara dengan beberapa mahasiswa dari Flores yang saya kenal. Lewat wawancara tersebut, saya berkesimpulan bahwa bisnis ini memang bisa cuan bagi mereka karena tiga aspek.
Pertama, mereka punya akses ke jaringan komunitas daerah. Mahasiswa perantau, punya hubungan yang kuat lewat himpunan daerah kota kampus mereka.
Dari sana menyebar ke grup angkatan, grup kos-kosan, senior-junior, bahkan jaringan dari keluarga atau kerabat di daerah asal atau yang sedang merantau di lokasi lain. Jaringan ini memudahkan mereka untuk promosi. Kepercayaan juga lebih mudah terwujud karena kedekatan daerah.
Kedua, mahasiswa dan perantau dari Flores itu umumnya punya kebutuhan berulang. Mulai dari kirim makanan khas, keperluan rumah yang ada di kota mahasiswa atau perantau, titipan obat, bumbu, pakaian, atau barang dari kebutuhan bisnis yang rutinan. Inilah yang mereka sasar sebagai ceruk bisnis jastip kecil-kecilan.
Ketiga, bisnis ini memberikan celah cuan melalui usaha menekan biaya kirim dari penggabungan volume pengiriman. Jadi saat, setelah mengumpulkan pesanan jastip dalam satu batch, biaya per kilogramnya menjadi lebih terjangkau. Sehingga, modal yang untuk menalangi biaya pengiriman barang relatif lebih kecil.
Bisnis jastip ini lahir dari gabungan antara usaha jasa, distribusi barang, dan manajemen kepercayaan. Margin bisnis ini biasanya diperoleh dari selisih antara tarif kargo dasar dengan tarif jasa penyedia jastip ke penerima barang.
Di dalam tarif jasa tersebut mencakup beberapa biaya. Misalnya, pickup, jasa koordinasi, dan kadang fee titip belanja (jika barangnya yang belikan adalah admin pengumpul barang). Hal ini penting untuk kamu catat kalau mau merintis usaha ini.
Simulasi bisnis jastip yang bisa cuan jutaan tiap bulan
Saya coba membuat simulasi hitung-hitungan bisnis jastip dengan mengambil contoh rute pengiriman dari Surabaya-Flores, spesifik ke Kabupaten Lembata. Mungkin ini akan berguna buat kamu yang ingin merintis bisnis ini sebagai tambahan rezeki.
Nah, kalau saya lihat lagi, beberapa penyedia jasa kargo saat ini memberikan tarif Surabaya-Lembata di kisaran sekitar Rp7.500 sampai Rp8.200 per kilogram. Umumnya dengan minimum kirim 10 sampai 50 kilogram dan estimasi waktunya 7 sampai 10 hari.
Sementara itu, tarif jastip sekitar Rp12.000 hingga Rp15.000 per kilogram. Sekilas selisihnya lumayan besar. Namun, kita belum bisa menganggapnya sebagai laba bersih karena ada biaya packing, sortir, komunikasi dengan pelanggan, biaya koordinator lokal, risiko keterlambatan, dan risiko barang tidak segera diambil ketika sudah tiba di titik distribusi.
Mari menghitung dengan membuat estimasi sederhana. Misalnya biaya kargo Rp7.800 per kilogram. Maka, untuk batch dengan pengiriman 50 kilogram, biaya dasar untuk kargonya adalah Rp390.000.
Tarif yang dibebankan ke pelanggan adalah Rp12.000 sampai Rp15.000 per kilogram. Maka, jasa ini meraup omset kotor sekitar Rp600.000 sampai Rp750.000 dalam sekali batch.
Biaya lain yang perlu kamu catat
Ingat, ada biaya lain yang sudah saya sebutkan di atas. Misalnya, sekitar Rp100 ribu untuk setiap batch. Maka, total biaya untuk setiap pengiriman 50 kilogram pengiriman dari Surabaya ke Lembata adalah Rp490.000. Jadi, omset bersihnya adalah Rpp500.000 sampai Rp650.000 setiap batch.
Itu untuk 50 kilogram. Bagaimana jika sekali pengirimannya mencapai 120 kilogram? Maka, omzet kotor berada di kisaran Rp1.440.000 sampai Rp1.800.000 dengan biaya kargo dasarnya sekitar Rp800 ribuan karena biasanya ada potongan tambahan. Angka itu ditambah dengan biaya lainnya biasanya di kisaran Rp100.000 ribu maka bisa cuan mencapai Rp500.000-Rp900.000 untuk tiap batchnya.
Memahami risiko
Sekilas, mungkin keuntungannya didapat dari markup besar. Padahal, sebetulnya keuntungannya didapat dari seberapa banyak volume barang yang dikirimkan setiap batch agar biaya pengirimannya bisa tersebar ke lebih banyak kilogram. Semakin banyak kiriman, semakin untung.
Kalau ritme transaksinya bisa mencapai empat sampai lima kali dalam sebulan, laba bulanannya bisa mencapai jutaan rupiah. Setidaknya lumayan untuk tambahan bagi mahasiswa.
Tapi, yang namanya bisnis, meski terlihat sederhana, tetap ada risiko. Pertama ketika batch tidak terpenuhi sementara kargo tetap mengenakan biaya minimum. Misalnya tidak sampai 10 kilogram (ini batas paling kecil di biaya kargo). Pengusaha jastip akan sering menghadapi risiko ini.
Sebab, kalau cuma dapat di bawah 10 kilogram, jatuhnya bisa jadi rugi. Bahkan di atas 10 kilogram saja marginnya masih sangat kecil.
Kedua, perubahan tarif dan jadwal pengiriman. Ada beberapa hal yang mempengaruhi keterlambatan. Misalnya, perubahan jadwal kapal, kemacetan pengiriman, dan bencana alam.
Ketiga, gagal bayar atau lambat tebus. Ini terjadi ketika barang yang sudah tiba di titik tujuan tapi yang membeli tidak segera mengambil. Tentu kondisi seperti ini bikin arus kas jadi terganggu.
Keempat, risiko kehilangan atau kerusakan barang. Bagi bisnis yang basisnya komunitas, memahami risiko ini sangat penting. Ini bukan hanya masalah uang, tapi reputasi. Sekali saja rugi, isu tersebut akan tersebar di circle pelanggan sehingga jastip bisa berpotensi sepi.
Yang perlu kamu siapkan kalau mau merintis usaha jastip
Oleh karena itu, ketika ingin menjalankan bisnis jastip, kamu harus memahami beberapa syaratnya. Pertama, pengelola jastip harus punya basis relasi yang luas terutama di sesama perantau. Tujuannya supaya punya pelanggan yang jelas sejak awal.
Kedua, punya kemampuan pencatatan yang rapi. Mulai dari soal nama pengirim, nomor penerima, berat barang, tarif, hingga status pembayaran. Kamu harus punya manajemen administrasi yang bagus.
Ketiga, punya term and condition yang jelas dan konsisten. Mulai dari apa saja barang yang boleh dikirim, kapan closing order-nya, bagaimana mensiasati ketika barang telat diambil (karena ini mengganggu arus kas), mitigasi komplain, serta kompensasi dan tanggung jawab ketika barang telat sampai atau bahkan rusak.
Ingat, bisnis jastip adalah bisnis kepercayaan yang lahir dari kebutuhan komunitas yang begitu guyub dan saling bergantung. Mahasiswa yang menjalankannya tentu tidak sekadar mengirimkan barang dengan tarif yang lebih murah, tapi juga menawarkan kemudahan, kedekatan, dan rasa aman.
Ingat baik-baik soal kepercayaan dan reputasi. Sebab dalam bisnis ini, keuntungan memang penting, tapi yang paling penting untuk dijaga adalah kepercayaan.
Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Jasa Titip dan Antar Jemput Jadi Profesi Dadakan Mahasiswa UNNES yang Kepepet Butuh Duit dan kisah inspirasi lainnya di rubrik finansial anak muda bernama CUAN.
