Meninggalkan Derita di Jogja dan Merantau ke Jakarta demi Cuan, tapi Tetap Menderita karena Gagal Mengelola Gaji yang Lebih Besar

Cara Mengelola Gaji Besar setelah Sukses Meninggalkan Jogja MOJOK.CO

Ilustrasi Cara Mengelola Gaji Besar setelah Sukses Meninggalkan Jogja. (Mojok.co/Ega Fansuri)

MOJOK.COBanyak kawan di Jogja merantau demi gaji besar. Namun, pada akhirnya stres sendiri karena mengelola gaji besar itu ada seninya sendiri.

Beberapa kawan saya pernah bercerita. Bahwa meninggalkan Jogja dengan UMR-nya yang mengenaskan tidak semudah itu. Entah kenapa, kota ini bisa mengikat siapa saja dengan kuat. Sehingga, pindah ke kota lain yang mampu menyediakan gaji lebih besar, menyimpan tantangan tersendiri.

Kalau misalnya berhasil meninggalkan Jogja, lalu menerima gaji lebih tinggi, sering membuat seseorang merasa naik levelnya. Tidak terkecuali saya.

Baca juga Gaji 18 Juta di Jakarta Menjanjikan Stabilitas, Gaji 9 Juta di Jogja, Menjanjikan Ketenangan

Tinggalkan Jogja dan dapat gaji lebih besar tetap saja bikin kaget

Saat itu, tujuan saya adalah Jakarta. Soal gaji, sudah pasti lebih besar. Saya mendapatkan gaji Rp5 juta per bulan. Dan, perasaan mendapatkan nominal penghasilan 5 jutaan itu terasa sekali superiornya. 

Padahal, perasaan itu sebetulnya hanya ilusi. Secara angka memang lebih tinggi ketimbang Jogja. Namun, secara value, apakah naik juga?

Ada sebuah kondisi yang saya yakin banyak menimpa teman-teman. Yang saya maksud adalah, meski sudah mendapatkan gaji lebih besar, tapi uang tetap saja cepat habis. Apa yang terjadi?

Kadang, setelah meninggalkan Jogja, kita akan menghadapi banyak pengeluaran baru. Misalnya, biaya sewa tempat tinggal yang bikin kaget, ongkos transportasi, pengeluaran makanan, dan ajakan nongkrong. 

Akhirnya, di akhir bulan, baru sadar kalau gaji besar bisa saja habis dengan cara yang sama ketika masih menerima gaji kecil. Cepat, diam-diam, dan tiba-tiba muncul pertanyaan, “Gila, uang tinggal segini, buat apa aja sih?”

Nah, supaya nggak merasa superior dan kagetan, saya menyimpan dua tips. Khususnya untuk kamu semua yang akan meninggalkan Jogja dan UMR-nya yang terlalu tiarap. Tips ini terbagi menjadi dua, yaitu terkait mengelola keuangan dan soal mental.

#1 Gaji besar, pengeluarannya juga jelas

Ketika menerima gaji yang lebih besar dari sebelumnya, kita harus perjelas dan tertibkan dulu soal pengeluarannya. Ketika menerima gaji, saran saya, langsung membaginya ke dalam pos-pos kecil. 

Misalnya, untuk kebutuhan seperti makan, biaya sewa, listrik, dan lain-lain. Pisahkan juga pengeluaran yang sifatnya keinginan. Ini adalah hal yang paling mendasar supaya nggak tiba-tiba merasa pengeluaran jadi membengkak begitu meninggalkan Jogja, pindah ke kota besar, dan dapat gaji lebih besar.

Sebab, mau pindah ke mana saja, pengeluaran utama untuk kebutuhan pokok itu pada dasarnya tidak berbeda jauh jenisnya. Yang berbeda cuma nominalnya yang jadi lebih mahal. Kamu perlu menyadari perubahan nominal ini begitu pindah ke kota besar.

#2 Memprioritaskan tabungan dan dana darurat, baru gaya hidup

Punya gaji besar, apalagi di kota besar, nggak akan membuat seseorang terbebas dari yang namanya risiko. Cara untuk mengantisipasi risiko, terutama soal keuangan itu ya punya tabungan dan dana darurat. Banyak yang mengabaikan aspek ini begitu meninggalkan Jogja, pindah ke kota besar, dan dapat gaji lebih besar.

Mentang-mentang pindah ke kota yang lebih besar, gaji naik, kemudian gaya hidup ikutan naik. Jangan sampai seperti itu.

Sederhananya, alokasikan setidaknya 50% sampai 70% kenaikan pendapatan untuk tabungan, investasi, dan dana darurat. Jadi misalnya, di Jogja dapat gaji mepet Rp2 juta, kemudian pindah ke Jakarta dengan total gaji Rp6 juta. Artinya, ada kenaikan Rp4 juta. Dari angka kenaikan itu, setidaknya alokasikan Rp2 juta ke pos-pos dana yang sudah saya uraikan di atas.

#3 Begitu meninggalkan Jogja, bikin batas untuk biaya kebutuhan inti

Seperti yang sudah saya jelaskan kalau pengeluaran atas kebutuhan relatif sama meski kamu pindah dari Jogja ke Jakarta. Relatif, ya, artinya tidak sama persis nominalnya. Kalau ada tambahan, paling satu atau dua pengeluaran baru.

Nah, perkara perubahan nominalnya ini, kamu perlu membuat batas. Hitungannya kayak gini:

Usahakan biaya hidup inti (sewa + listrik/internet + transport rutin + makan harian) nggak lebih dari 50% sampai 55% gaji bersih. Kalau tembus, kamu akan sulit untuk menabung.

Misalnya, cari kos-kosan yang kisaran Rp1 jutaan saja. Jangan malah nyari harga Rp2 sampai Rp3 jutaan sementara gaji cuma Rp6 jutaan per bulan. Jangan mengorbankan 50% gaji hanya untuk tempat tinggal. Ingat, kamu masih harus mengisi tempat tinggal itu dan memikirkan kebutuhan lain. 

Kalau kamu memaksa, pada akhirnya gajimu ya habis begitu aja buat kebutuhan tanpa simpanan. Nggak ada bedanya dengan kehidupan di Jogja yang serba mepet, kan.

#4 Hati-hati dengan pinjol dan paylater

Jangan berteman akrab dengan segala layanan pinjaman. Kalau memang mau menggunakannya, bikin batas cicilannya maksimal 10% sampai 15% persen dari gaji. 

Sebab, kalau memaksa lebih banyak, fitur pinjaman ini akan menjadi benalu yang membuat gaji hanya numpang lewat di rekening. Usahamu meninggalkan Jogja jadi percuma, dong.

#5 Menentukan nominal yang paten untuk keluarga di Jogja

Nggak jarang kalau pindah ke kota besar, keluarga dan tetangga di Jogja mengira kita otomatis jadi mapan dan bergelimang uang. Padahal nggak gitu konsepnya. 

Makanya, penting untuk menentukan nominal bantuan yang sanggung kamu berikan setiap bulannya. Setidaknya kalau memang mereka nggak minta, ya sisihkan aja dulu. Jadi kalau mereka minta dadakan, kamu sudah siap. Langkah seperti ini penting, apalagi kamu yang berstatus generasi sandwich.

Setelah memastikan lima aspek soal tips keuangan di atas, kita masuk pada tips mental dan pengendalian diri. Ini penting supaya cita-cita meninggalkan Jogja demi gaji besar berjalan dengan lancar. Ingat, kota besar punya berbagai cara untuk melahirkan tekanan mental. Nggak jarang perantau baru jadi depresi.

#1 Sebelum angkat kaki dari Jogja, siapkan diri untuk dua racun: pembuktian dan pembanding

Kota besar itu semacam area kompetisi yang hadiahnya adalah kepuasan diri. Sayangnya, kompetisi ini seringnya diisi dengan proses pembuktian dan pembanding yang nggak adil oleh sebagian orang di kota. Mereka akan menjegal, mencibir, dan lain sebagainya supaya mental kamu jatuh.

Selain itu, seseorang yang baru datang dari kota yang “dianggap kecil” kayak Jogja akan berhadapan dengan banyak jenis sirkel pertemanan, teman kantor, teman nongkrong, teman main, temen julid, teman hobi, dan teman-teman lain. 

Semua sirkel itu menggoda seseorang untuk membuktikan diri. Padahal, kalau diikutin semuanya, kamu bakal capek sendiri. Selain itu, kebanyakan mengikuti sirkel pun membuat pengeluaran jadi nggak terkontrol.

#2 Punya ritual gajian biar tetap waras

Setelah menerima gaji, kita harus mengalokasikan semua sesuai pos pengeluaran yang sudah kamu rencanakan. Nah, nggak ada salahnya untuk mengalokasikan jatah have fun dari gaji bulanan tersebut. 

Mau main, nonton bioskop, nongkrong, beli makanan, atau apa saja, nggak masalah. Asal, semua itu nggak mengganggu pengeluaran lainnya. Penting untuk memanjakan diri. Badan, jiwa, pikiran butuh reward setelah bekerja untuk satu bulan lamanya. Jangan sampai, meninggalkan Jogja cuma melahirkan stres baru.

Baca juga Momen Terima Gaji Pertama bikin Nangis dan Nyesek di Antara Perasaan Lega

#3 Mencari rutinitas lain

Biar hidup nggak terasa kosong dan hampa, cari rutinitas lain. Nggak harus mahal. Ini supaya mental yang kamu bawa dari Jogja nggak hancur dengan cepat.

Misalnya, tiap akhir pekan, jalan-jalan ke ruang terbuka hijau kota. Ikut komunitas olahraga juga oke. Semua aktivitas tambahan itu bikin kehidupan jadi nggak monoton. 

Saya sering menjumpai orang yang hidupnya hanya soal kantor. Pada akhirnya, dia stres sendiri dan sulit dapat jodoh.

Itulah beberapa tips yang bisa kamu jadikan referensi setelah angkat kaki dari Jogja dan mendapatkan gaji besar. Intinya, pindah ke kota besar bukan hanya tentang naiknya angka di slip gaji, tapi juga soal kemampuan untuk menjaga dan mengendalikan diri dari langkah yang keliru. 

Gaji yang meningkat seharusnya membuat hidup jadi lebih aman. Bukan malah jadi sumber khawatir, cemas, bahkan depresi baru karena nggak mampu menertibkan uang dan menenangkan isi kepala.

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Meninggalkan Pekerjaan Gaji Rp150 Ribu per Hari di Desa Demi Ego Merantau, Berujung Sesal karena Kerja di Jakarta Tak Sesuai Ekspektasi dan tips menarik lainnya di rubrik CUAN.

Exit mobile version