MOJOK.CO – Pedagang es teh jumbo sedang sangat menderita. Sudah disiksa tipisnya keuntungan, sekarang disiksa Israel dan Amerika Serikat.
Sedang ramai soal harga es teh jumbo yang harganya naik. Dari yang tadinya di kisaran Rp3.000, kita telah berubah pelan-pelan jadi Rp3.500. Bahkan ada yang sudah mematok Rp4.000. Sekilas terlihat kecil nominalnya, tapi sebetulnya sangat terasa kalau kita melihatnya dari sisi bisnis. Khususnya bisnis kecil, ketika siapa saja, seharusnya, bisa mencobanya.
Nah, Januari 2026 yang lalu, saya pernah menulis soal sisi gelap bisnis ini. Saya bilang kalau bisnis ini bisa saja cuan, tapi sebenarnya rapuh, terlebih soal margin.
Jadi, bisnis ini punya margin yang sebetulnya sangat tipis. Di sisi lain, image-nya sebagai “minuman sepele” bikin bisnis ini punya ekosistem yang sangat sesak dengan banyak kompetitor. Orang bisa dengan mudah berpindah ketika pemilik bisnis mencoba menaikan margin.
Mulanya saya mengira sisi gelap bisnis ini berhenti di soal kompetitor. Ternyata, setelah melihat situasi saat ini, ternyata ada aspek lain yang bikin bisnis ini bisa jadi makin terlihat merana, yaitu krisis global di Timur Tengah akibat perang yang tak berkesudahan.
BACA JUGA: 3 Dosa Pedagang Es Teh Jumbo yang Menguntungkan Mereka tetapi Sangat Merugikan Pembeli
Efek perang Iran vs Israel-Amerika kepada bisnis es teh jumbo
Siapa yang mengira kalau kejahatan Israel dan Amerika akan memberi dampak kepada bisnis es teh jumbo?
Menaikkan harga dari Rp3.000 ke Rp4.000 sebetulnya pilihan sulit. Masalahnya, konflik timur tengah yang letaknya jauh ribuan kilometer itu berimplikasi pada kenaikan harga plastik. Kita tahu bahwa salah satu benda penting dalam bisnis es teh jumbo adalah cup atau wadahnya yang terbuat dari plastiknya. Makanya, perang tersebut memberi efek yang signifikan.
Melansir Reuters, perang Iran vs Israel-Amerika yang berakibat pada terganggunya Selat Hormuz membuat pasokan petrokimia global mengetat. Harga dari polyethylene dan polypropylene yang jadi bahan penting untuk plastik, mengalami lonjakan harga yang tajam. Negara di kawasan Asia jadi yang paling rentan karena ketergantungan pada nafta dan pasokan dari Timur Tengah.
Di Indonesia, Menteri Perdagangan RI Budi Santoso, membenarkan hal ini. Beliau mengungkapkan kalau kenaikan harga plastik sangat erat kaitannya dengan geopolitik global.
Kondisi ini berpengaruh pada pasokan bahan baku, terutama nafta (bahan plastik) yang selama ini banyak diambil dari Timur Tengah. Setidaknya pada Februari 2026 saja, impor plastik dan barang dari plastik Indonesia tercatat mencapai US$873,2 juta atau sekitar Rp14,78 triliun.
Mungkin kabar seperti ini tidak popular di masyarakat. Nafta, resin, rantai pasok, impor, dan Selat Hormuz adalah hal ndakik yang terlalu rumit jadi perbincangan. Terlebih bagi seseorang yang hanya ingin jualan es teh jumbo di siang hari untuk mendapat untung. Tapi itulah realitanya.
Es teh jumbo nyatanya bukan minuman sepele
Maka dari itu, untuk saat ini, anggapan bahwa es teh jumbo adalah minuman sepele sebetulnya tidak lagi berlaku. Sebab, ia juga terdiri dari bahan baku lain yang ternyata sangat rapuh, yaitu plastik.
Nyatanya, ketika kelak plastik semakin mahal, nggak menutup kemungkinan es teh jumbo akan jadi minuman mahal. Atau, pedagang akan mengganti bahan cup dengan bahan lain. Tapi, sayangnya, tidak semudah itu.
Data dari Jakarta Globe menyebutkan kalau plastic cup 22 ons yang umum untuk industri minuman naik dari Rp13.000 menjadi Rp22.000 per 50 pcs. Kalau melihat dari biaya, maka dari cup saja ada tambahan harga sekitar Rp180 per gelas. Ini kita belum menghitung sedotan dan bungkus plastiknya.
Di Semarang saja misalnya, melansir DetikJateng, harga plastik yang mulanya sekitar Rp9.000 per slop, kini menjadi Rp15.000. Di sisi lain, harga per dus yang awalnya Rp250 ribu naik dua kali lipat menjadi Rp500 ribu.
Dalam artikel saya sebelumnya, saya membedah bagaimana bisnis ini punya margin yang tipis. Biaya-biaya kecil sering muncul dan diam-diam menggerogoti laba. Sekarang, biaya plastik malah makin tinggi.
3 pilihan untuk pedagang
Pertama, menaikan harga es teh jumbo. Pilihan ini sangat berisiko. Kita tahu, es teh jumbo bukan kopi susu premium, di mana pemiliknya bisa menaikkan harga dengan label branding tertentu.
Sejak awal, industri es teh jumbo sangatlah sensitif. Kenaikan dari Rp3.000 ke Rp4.000 kesannya kelihatan kecil, tapi secara hitung-hitungan, kenaikan itu puluhan persen, loh. Dalam dunia minuman, itu sangat besar. Ingat, ini cuma es teh. Bukan minuman premium.
Kedua, mengurangi ukuran. Sayangnya, pilihan ini menyimpan paradoks. Kalau mengurangi atau mengecilkan ukuran, apa kabar dengan branding “jumbo”? Bukankah salah satu alasan orang memilih minuman teh ini adalah karena ukurannya yang besar dan harganya yang merakyat?
Ketiga, Tahan harga tapi margin makin merana. Konsekuensinya, margin keuntungan makin rata dengan tanah. Teman saya yang sedang bisnis es teh jumbo mengambil opsi ini. Dia hanya bisa berharap kondisi global segera stabil.
Teman saya memilih bertahan dengan margin tipis demi tetap mendorong volume penjualan. Dia berani mengambil pilihan ini karena sudah punya pelanggan atau letaknya strategis dan ramai.
Tapi pertanyaannya, pilihan ini bukan langkah jangka panjang. Terlebih kalau volume penjualan es teh jumbo nggak selalu konsisten.
Perang sialan mengusik hidup kita
Tapi begini, saya berharap banyak orang menyadari bahwa kenaikan harga minuman es teh jumbo ini bukan hanya soal bisnis yang berpotensi tidak cuan. Ini juga salah satu bukti bahwa perang di tempat jauh, ternyata menyebabkan krisis di lapisan paling bawah di masyarakat kita.
Dari berita perang, kenaikan harga minyak, berlanjut pada nafta hingga akhirnya berefek pada es teh jumbo di pinggir jalan salah satunya. Artinya, dunia kita sudah sangat terhubung. Mengetahui hal seperti ini, adalah keharusan supaya kita tahu cara mengantisipasinya.
Selain itu, kenaikan harga plastik ini menurut saya makin menegaskan bahwa bisnis es teh jumbo yang terlihat sepele, ternyata bisnis yang rumit sejak awal. Dan semakin rumit ketika bahan baku utamanya, yaitu plastik, naik signifikan seperti saat ini.
Dan ini yang jadi ironi paling pelik dari bisnis ini. Minuman paling merakyat justru menjadi minuman yang sensitif karena banyak bahan bakunya datang dari sesuatu yang tidak bisa kita kuasai. Dari sini, boleh jadi harga Rp3.000 pelan-pelan akan jadi kenangan. Lantas, apakah sudah saatnya mengucap selamat tinggal?
Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Derita Pedagang Es Teh Jumbo yang Jualannya Terancam, Sudah Pasang Harga Murah Masih Kedatangan Pesaing Berat dan keprihatinan lainnya di rubrik CUAN.
