Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Balbalan

Indonesia vs Vietnam Final SEA Games: Jadi Etalase Lagi atau Memang Niat Juara?

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
10 Desember 2019
A A
Indonesia vs Vietnam Final SEA Games MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Indonesia vs Vietnam. Final SEA Games cabang olahraga sepak bola. Apakah menjadi etalase untuk kesekian kali atau paparan niat untuk jadi juara?

Berteriak gemas kepada sepak bola Indonesia ibarat mengamuk persis di atas air kolam. Permukaan air akan beriak, tetapi kembali tenang tak lama kemudian. Seakan-akan tidak ada yang terjadi. Begitu terus selamanya. Sebuah pekerjaan sia-sia yang bikin capek saja. namun, di sisi lain, kita butuh pelampiasan itu.

Pelampiasan ketika harapan, sudah tahu akan kandas, tetap saya didaraskan di setiap doa. Harapan yang kita semua sepakati hanya ada di pundak timnas Indonesia. Harapan yang nampaknya, dan seharusnya, bisa menyatukan siapa saja yang mengaku cinta sepak bola Indonesia. Harapan yang biasanya, layu di detik-detik terakhir sebelum berkembang menjadi rupawan.

Adalah final SEA Games cabang olahraga sepak bola tahun 2019 ketika harapan itu kembali memuncak. Indonesia vs Vietnam. Laga ulangan di babak penyisihan. Ketika timnas Indonesia menelan satu-satunya kekalahan selama SEA Games 2019 cabor sepak bola. Final yang kita tahu bakal berat untuk timnas Indonesia.

Sebuah pertanyaan berpusing di dalam kepala saya. Apakah final SEA Games cabor sepak bola antara Indonesia vs Vietnam ini hanya sekadar etalase seperti biasanya atau kita akan melihat sebuah niat murni untuk menjadi juara? Maaf saja, timnas Indonesia punya dosa yang di dalam hati saya sulit untuk diobati.

Final SEA Games cabor sepak bola adalah panggung untuk para pemain muda. Mereka yang bertarung adalah pemain di bawah usia 22 tahun dengan tambahan dua pemain senior. Seperti biasanya, timnas Indonesia berisi pemain muda dengan talenta mewah. Berisi pemain-pemain muda yang punya modal untuk mentas ke panggung dunia.

Apakah Indonesia vs Vietnam akan menjadi etalase sekali lagi? Etalase pemain muda. Mereka yang bertarung dengan semangat murni. Untuk kemudian merasakan kekalahan, berkarier di Liga Indonesia, lalu perlahan, kariernya meredup. Karier mereka dikorup oleh kompetisi yang tak pernah waras. Oleh PSSI yang dengan pongah menentukan target juara kepada calon pelatih timnas senior.

Oleh PSSI, yang seakan-akan paling tahu soal teknis sepak bola. Seakan-akan lebih pandai dari seorang pelatih modern yang turut membidani revolusi sepak bola Spanyol. Oleh PSSI yang mencintai hasil instan, tetapi tak mau melirik proses sedikit saja.

Karena ini semua kembali ke timnas Indonesia. Segala tingkatan usia. Ketika sampai di babak final, titik penentuan, mereka kehilangan satu hal mulia yang didapat dari sebuah proses: kematangan.

SEA Games 2011, kita berkenalan dengan Yericho Christiantoko dan Ramdani Lestaluhu. Lalu yang sensasional, Andik Vermansyah, lalu Titus Bonai. Mereka tampil luar biasa di semifinal ketika mengalahkan Vietnam. Bonai dan Patrich Wanggai yang mencetak gol. Sampai di final, kandas di tangan Thailand.

SEA Games 2013. Timnas berisi bukan saja pemain muda, tetapi sudah punya pengalaman. Rizky Pellu dan Manahati Lestusen bikin saya kagum. Kaki-kaki kokoh mereka. Determinasi. Kemunculan Feri Pahabol dan Bayu Gatra yang menghibur. Dan sekali lagi Andik Vermansyah. Tertanggal 21 Desember 2013, Thailand kembali mempecundangi timnas Indonesia.

Bukan hanya SEA Games, ketika bermain di AFF Cup, kita menikmati betul fantasi Okto Maniani dan Irfan Bachdim. Namun, semuanya berakhir sama saja. Ajang internasional hanya seperti turnamen sela di mana anak-anak muda diberi kesempatan untuk berpose secantik mungkin. Untuk kemudian dipermainkan oleh kompetisi, klub, dan segelintir orang jahat yang merusak sepak bola Indonesia.

Final SEA Games 2019, Indonesia vs Vietnam. Saya tidak mau berharap banyak, pun menuntut setinggi langit. Biar saja mereka hanya dapat medali perak. Biar saja mereka pulang dengan tangis. Doa saya adalah setelah SEA Games, anak-anak muda ini tidak akan menemui kompetisi busuk, klub-klub abai dengan gaji, dan pembinaan yang setengah hati.

Final SEA Games hanya satu titik dari karier yang seharusnya panjang dan menyenangkan. Indonesia vs Vietnam harusnya cuma satu laga dari ratusan pertandingan penuh arti yang akan dilahap anak-anak muda ini. Memberi beban, doa-doa emas, seakan-akan ini bukti nasionalisme.

Iklan

Nasionalisme adalah, buat kalian perusak sepak bola Indonesia, untuk mengaku dosa dan angkat kaki dari dunia menyenangkan ini. Nasionalisme adalah tidak membiarkan PSSI keblinger dengan yang namanya prestasi instan. Nasionalisme adalah tidak membiarkan sepak bola Indonesia dipermainkan demi rekening pribadi.

Mengharuskan medali emas dari laga Indonesia vs Vietnam itu bukan target. Laga ini hanya satu titik. Ketika memang sukses merebut emas, jangan rusak kebahagiaan mereka dengan kompetisi tidak manusiawi. Itu nasionalisme.

BACA JUGA Apakah Masih Ada yang Korupsi di Hari Anti Korupsi Sedunia? atau tulisan Yamadipati Seno lainnya.

Terakhir diperbarui pada 10 Desember 2019 oleh

Tags: final sea gamesindonesia vs vietnamPSSISea Games 2019timnas indonesiavietnam
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Kuliah di universitas terbaik di Vietnam dan lulus sebagai sarjana cumlaude (IPK 4), tapi tetap susah kerja dan merasa jadi investasi gagal orang tua MOJOK.CO
Kampus

Kuliah di Universitas Terbaik Vietnam: Biaya 1 Semester Setara Kerja 1 Tahun, Jadi Sarjana Susah Kerja dan Investasi Gagal Orang Tua

15 Desember 2025
Ketum PSSI Erick Thohir dan Gubernur Jateng Ahmad Luthfi bahas soal Liga 3 dan Liga 4 di Jawa Tengah MOJOK.CO
Kilas

Liga 3 dan 4 bakal Bergulir di Jawa Tengah, Bina Bakat-bakat Muda dari Desa…

8 Agustus 2025
Kalau gue jadi Patrick Kluivert, gue nggak mau menjadi pelatih Timnas Indonesia gantikan Shin Tae Yong karena Ketum PSSI Erick Thohir problematik MOJOK.CO
Ragam

Kalau Jadi Patrick Kluivert Gue Nggak Mau Kerja sama Erick Thohir yang Interview Kerja di Hari Raya, Tak Punya Value dan Tak Tahu Batas

9 Januari 2025
Timnas Indonesia Gagal Lagi di AFF, Siapa yang Pantas Disalahkan?
Video

Timnas Indonesia Gagal Lagi di AFF, Siapa yang Pantas Disalahkan?

28 Desember 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gaya hidup pemuda desa bikin tak habis pikir perantau yang merantau di kota. Gaji kecil dihabiskan buat ikuti tren orang kaya. MOJOK.CO

Gaya Hidup Pemuda di Desa bikin Kaget Perantau Kota: Kerja demi Beli iPhone Lalu Resign, Habiskan Uang buat Maksa Sok Kaya

6 April 2026
Anak PNS kuliah di PTN top seperti UGM masih menderita karena UKT nggak masuk akal

Derita Jadi Anak PNS: Baru Bahagia Diterima PTN Top, Malah “Disiksa” Beban UKT Tertinggi Selama Kuliah padahal Total Penghasilan Orang Tua Tak Seberapa

4 April 2026
Lulusan farmasi PTS Jogja foto keluarga

Lulusan Farmasi PTS Jogja Bayar Mahal untuk Wisuda, tapi Gagal Foto Keluarga karena Ayah Harus Dirawat di Rumah Sakit Jiwa

7 April 2026
Buka Usaha dan Niat Slow Living di Desa Malah Dibikin Muak dengan Etos Kerja Pemudanya, Bersikap Semaunya Atas Nama “Kekeluargaan” MOJOK.CO

Buka Usaha dan Niat Slow Living di Desa Malah Dibikin Muak dengan Etos Kerja Pemudanya, Bersikap Semaunya Atas Nama “Kekeluargaan”

10 April 2026
Jogja Bisa Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung MOJOK.CO

Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 

8 April 2026
Warung nasi padang jual rendang khas Minang di Jogja

Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis

10 April 2026

Video Terbaru

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.