ADVERTISEMENT

Ngekos Vs Ngontrak di Jogja: Mana yang Lebih Cocok untuk Mahasiswa?

Ngekos Vs Ngontrak di Jogja: Mana yang Lebih Cocok untuk Mahasiswa?

Mahasiswa baru yang berangkat ke Jogja sendirian biasanya lebih cocok ngekos. Sementara itu, kalau datang bersama tiga sampai lima teman, ngontrak rumah bisa jadi pilihan yang lebih masuk akal karena biaya sewanya dapat dibagi.

Namun, urusan tempat tinggal nggak berhenti pada soal jumlah penghuni dan biaya. Ada banyak hal lain yang perlu dipikirkan sebelum memilih antara ngekos atau ngontrak.

Setelah diterima di salah satu perguruan tinggi di Jogja, kamu tentu mulai memikirkan banyak hal untuk kehidupan sebagai mahasiswa baru. Keluargamu bersyukur dan merayakan babak baru dalam hidupmu. Setelah semua euforia itu lewat, satu per satu pertanyaan besar muncul. Salah satu pertanyaan itu adalah, tinggal di mana? Banyak calon mahasiswa mencari hunian belakangan karena terlalu sibuk berkutat dengan administrasi kampus atau persiapan lain. Akibatnya, mereka menerima kamar pertama yang jelek dan menyesal tiga bulan kemudian.

Ngekos berarti menyewa satu kamar di bangunan milik pemilik kos, per bulan atau per semester. Ngontrak berarti menyewa satu rumah utuh, dan pemilik rumah umumnya meminta pembayaran setahun sekaligus. Kos menawarkan kamar siap pakai dengan aturan pemilik. Kontrakan menawarkan ruang luas dengan tanggung jawab penuh di tangan penghuni. Karena itu, bandingkan biaya total dan risiko sebelum kamu menandatangani apa pun.

Mahasiswa baru berdatangan ke Jogja setiap Juli sampai September. Kos dekat kampus favorit, seperti di Karangmalang, Sinduadi, atau Gejayan, cepat sekali penuh. Sebagian pemilik menaikkan harga karena antrean calon penghuni panjang. Pemilik lain meminta uang muka sebelum kamu sempat melihat kamar. 

Kontrakan beda lagi. Rumah yang muat empat sampai lima orang lebih sulit kamu temukan daripada kamar kos. Sebagian pemilik rumah memilih penyewa yang siap melunasi sewa setahun sekaligus. Kalau rombonganmu masih berdebat soal jumlah patungan dan aturan, rumah incaran bakal pindah ke rombongan lain yang lebih sigap. 

Tapi satu yang pasti, jangan serahkan uang muka sebelum kamu melihat kamar atau rumah kontrakan secara langsung. 

Ngekos: Murah Belum Tentu Lebih Hemat

Kos di Jogja, terutama di sekitar UGM seperti Karangmalang atau Sinduadi, berkisar Rp500.000 sampai Rp1.500.000 per bulan. Di Sewon dekat ISI atau di Kasihan dekat UMY, harga sering lebih murah. Harga naik kalau kamar memakai AC dan kamar mandi dalam. Angka ini gambaran kasar, jadi cek harga terbaru ke pemilik.

Ambil contoh Dito, mahasiswa baru asal Lampung. Ia memilih kos Rp900.000 di dekat Bulaksumur. Dito membayar tagihan tetap tiap bulan dan tidak perlu membeli kasur atau kompor.

Kos bulanan punya jebakan. Sebagian pemilik kos memisahkan biaya sewa kos dengan tagihan listrik untuk kulkas atau pengisi daya laptop, dan sebagian lain menaikkan harga tiap tahun. Tanyakan pengelolaan sampah mengingat di Jogja masalah ini sangat krusial. Pastikan tiap minggu ada orang yang mengambil sampah dan jangan lupa tanyakan apakah kamu harus mengeluarkan biaya tambahan untuk itu.

Kemudian cek kualitas air ketika survei. Buka keran, lalu lihat warna dan cium bau airnya. Kos berair sumur bisa kehabisan air di musim kemarau, sedangkan PDAM mengalir lebih stabil. Selain itu, air sumur di beberapa kawasan keruh atau berbau. Bayangkan air mati pukul dua pagi saat kamu mengejar tenggat tugas. Selisih sewa Rp50.000 tidak sebanding dengan kerepotan itu. Sebab itu, tanyakan sumber air dan daftar iuran tambahan sebelum kamu menyerahkan uang muka.  

Banyak kos yang memberi kepraktisan. Kamu tinggal seret koper, lalu tidur di kasur yang sudah ada. Banyak kos di sekitar Gejayan menyediakan dapur bersama dan petugas kebersihan. 

Kos campur, kos putra, dan kos putri memakai aturan berbeda, jadi tanyakan jenisnya sebelum survei. Pemilik kos membatasi gerak penghuni lewat aturan. Jam malam pukul 22.00 masih umum, dan pemilik sering melarang tamu lawan jenis masuk kamar.

Aturan itu terasa aman bagi mahasiswa baru yang masih beradaptasi. Orang tuamu di kampung pun tenang. Ibu atau bapak kos sering menjadi “orang tua kedua” yang mengawasi dan menjagamu.

Ngontrak: Kebebasan di Tempat Tinggalmu

Sekarang bandingkan dengan Rara. Ia dan tiga teman SMA-nya menyewa rumah empat kamar di Condongcatur seharga sekitar Rp25 juta setahun. Mereka patungan, sehingga tiap orang membayar sekitar Rp520.000 per bulan. Angkanya kelihatan murah, tetapi sewa bukan satu-satunya pengeluaran. Kontrakan menyimpan biaya tersembunyi yang baru muncul setelah kamu tinggal. 

Listrik harus jadi pertimbangan pertama. Kontrakan biasanya memakai meteran sendiri, jadi kamu mengisi token sendiri. Penghuni rumah dengan empat laptop, beberapa kipas, dan satu kulkas biasanya membutuhkan token sekitar Rp300.000 sampai Rp500.000 per bulan. 

Tagihan selanjutnya adalah sampah. Sampah biasanya diurus oleh pengurus RT setempat. Jumlah iuran sampah di Jogja berkisar antara Rp50.000 sampai Rp100.000 per rumah tiap bulan.

Kontrakan yang sumber airnya dari PDAM bakal menambah tagihan ketiga. Empat orang yang mandi dan mencuci baju tiap hari membayar sekitar Rp100.000 sampai Rp200.000. Kontrakan berair sumur tidak punya tagihan ini, tetapi sumurnya bisa kering di musim kemarau.

Jumlahkan ketiganya. Rara dan tiga temannya menanggung tambahan Rp450.000 sampai Rp800.000 per bulan, atau sekitar Rp112.000 sampai Rp200.000 per orang. Total yang Rara bayar naik menjadi sekitar Rp630.000 sampai Rp720.000 per bulan.  

Sebab itu, minta penyewa lama menunjukkan struk token dan tagihan PDAM tiga bulan terakhir. Tanyakan juga besar iuran RT sebelum kamu menandatangani perjanjian sewa.

Masalah lainnya, kalau satu teman memutuskan pindah atau memutuskan mengakhiri tinggal di kontrakan, kamu harus cari teman baru lagi atau cari kontrakan baru yang punya kamar lebih sedikit. Oleh karena itu, pertimbangkan kecocokan dan komitmen dengan teman yang kamu ajak ngontrak bareng. 

Tapi enaknya, ngontrak memberi kamu kebebasan. Kamu dan teman serumah bisa menyusun jadwal piket kebersihan sesuai kesibukan masing-masing. Anak organisasi yang sering rapat sampai malam mengambil giliran buang sampah di akhir pekan. Teman yang praktikum pagi mendapat jatah cuci piring sore hari. Kalian menempel jadwal itu di pintu kulkas atau mengirimnya ke grup WhatsApp.

Jam pulang pun longgar. Kamu tidak perlu mengejar jam malam pukul 22.00 seperti di kos. Kalau rapat organisasi atau kerja kelompok baru selesai pukul 23.30, kamu membuka pagar dan masuk. Teman satu kelompok bisa menginap saat tugas menumpuk.

Namun, kebebasan ini berjalan kalau semua penghuni menepati janji. Teman yang mengabaikan jadwal piket memancing cekcok seisi rumah. Pengurus RT di sebagian kampung meminta tamu yang menginap melapor. Tetangga juga bisa menegur rumah yang ribut sampai larut. Karena itu, tulis aturan rumah bersama sejak awal dan jaga volume suara setelah tengah malam.

Cara Menentukan Pilihan Sesuai Situasimu

Pertama, hitung berapa teman yang siap tinggal bersamamu. Dengan nol atau satu teman, ngekos lebih masuk akal. 

Kedua, tanyakan ke keluargamu berapa uang muka yang bisa mereka siapkan. Kalau terbatas, mulai dari kos bulanan.

Ketiga, coba dulu rute dari calon kos atau kontrakan ke kampus. Jarak yang terlihat dekat di peta belum tentu cepat ditempuh. Kamu bisa menghabiskan hampir satu jam di Jalan Kaliurang atau Ring Road Utara saat jam berangkat.

Sewa di selatan lebih murah, tetapi kamu berebut jalan dengan pekerja pulang kantor di Jalan Bantul dan Jalan Parangtritis. Wisatawan pantai menambah antrean di akhir pekan.  

Survei ke lokasi sebelum membayar. Datangi tempatnya pada malam hari untuk menilai penerangan gang dan suasana lingkungan. Kunjungi juga saat hujan deras, karena air menggenang di beberapa kawasan.  

Libatkan orang tuamu dalam survei. Mereka menilai keamanan dan kebersihan dari sudut berbeda, dan mereka yang menyiapkan uang muka. Kampus tertentu menyediakan asrama. Cek informasinya di situs resmi kampusmu.

Di titik ini, pilihan ngekos atau ngontrak bergantung pada hitungan dan gaya hidupmu. Banyak mahasiswa baru Jogja mengambil jalan tengah. Mereka ngekos setahun pertama, mengenal teman dan wilayah, lalu ngontrak bareng di tahun kedua. 

Armandoe Gary Ghaffuri

Sehari-hari menganalisis media, sisanya menulis cerita.

Exit mobile version