ADVERTISEMENT

Menelusuri Asal Usul Istilah Anjungan Tunai Mandiri (ATM) dan Perkembangan Fungsinya dari Masa ke Masa

Menelusuri Jejak Awal Kemunculan Istilah Anjungan Tunai Mandiri (ATM) dan Bagaimana Perkembangan Fungsinya Dari Masa ke Masa

Kita tahu namanya, tapi mungkin kita tidak tahu bagaimana awal kemunculan dan perjalanannya. Itulah Anjungan Tunai Mandiri atau ATM, sebuah mesin otomatis tempat kita menarik atau menyetor uang, dan tempat kita melakukan berbagai macam transaksi perbankan. ATM kini menjadi salah satu fasilitas perbankan yang paling mudah ditemui di Indonesia.

Pada awal kemunculannya, mesin ini identik dengan satu fungsi sederhana, yaitu mengambil uang tunai tanpa harus masuk ke kantor bank. Sekarang ceritanya sudah berbeda. ATM sudah bisa digunakan untuk transfer, pembayaran, setor tunai, cek saldo, bahkan terhubung dengan teknologi digital seperti QRIS.

Pertanyaan besarnya, dari mana sebenarnya istilah anjungan tunai mandiri berasal dan bagaimana perjalanan dan perkembangan fungsi ATM di Indonesia sampai menjadi seperti sekarang?

Dari Automated Teller Machine menjadi Anjungan Tunai Mandiri

Penamaan atau pencarian padanan ATM di Indonesia ini boleh jadi sebuah berkah tersendiri. Kalau dalam bahasa Inggris, ATM itu singkatan dari Automated Teller Machine. Dalam bahasa Indonesia, padanan untuk ATM tidak perlu mengubah singkatannya, yaitu Anjungan Tunai Mandiri. Istilahnya, acronym preserving translation atau mempertahankan akronim asli.

Untuk semua keberkahan ini, kita perlu berterima kasih kepada sosok bankir senior bernama Jos Luhukay. Beliau adalah pencetus istilah Anjungan Tunai Mandiri, sebagai istilah dalam bahasa Indonesia, dengan mempertahankan singkatan ATM yang memang sudah dikenal luas. Gara-gara beliau, kita jadi punya istilah sendiri tentang ATM, dengan akronim yang tidak perlu berubah.

Selain singkatannya yang tidak berubah, maknanya pun juga masih sama. Dari makna istilah per kata misalnya, kata “anjungan” merujuk pada tempat, fasilitas pelayanan, atau instalasi khusus. Lalu kata “tunai” jelas berkaitan dengan uang dalam bentuk fisik. Sedangkan kata “mandiri” menunjukkan bahwa nasabah dapat melakukan transaksi sendiri. Jadi, makna istilah tersebut dalam bahasa Indonesia sebenarnya cukup menggambarkan fungsi awal ATM, yaitu sebuah fasilitas yang memungkinkan nasabah memperoleh layanan tunai secara mandiri.

Istilah Anjungan Tunai Mandiri sempat mendapat semacam kritikan. Beberapa orang, khususnya yang bergelut di bidang bahasa (baca: Ivan Lanin), pernah menawarkan istilah baru sebagai kepanjangan dari ATM. Karena fungsi ATM yang makin berkembang, kepanjangan ATM bukan lagi Anjungan Tunai Mandiri, melainkan Anjungan Transaksi Mandiri. Istilahnya bagus, tapi masyarakat sudah telanjur melekat dengan istilah yang lama.

Kemunculan ATM hingga hadirnya ke Indonesia

Sebelum populer di Indonesia, teknologi ATM lebih dulu berkembang di luar negeri. Salah satu tonggak penting terjadi pada 1967, ketika John Shepherd-Barron mengembangkan mesin ATM yang digunakan di Barclays Bank, Enfield, London. Namun, sejarah ATM tidak lahir dari satu penemu saja. IBM misalnya, membuat ATM modern pertama di dunia dengan nama IBM 2984 pada 1972.

Jaringan ATM dan teknologi yang lebih maju terus berkembang dan populer, terlebih ketika Citibank memperluas penggunaan mesin tersebut pada akhir 1970-an di New York. Mesin yang awalnya hanya menjadi solusi untuk mengambil uang di luar jam operasional bank perlahan berubah menjadi kanal transaksi perbankan yang bisa diakses kapanpun.

Uniknya, ATM masuk ke Indonesia bukan karena andil bank-bank besar dan raksasa. Bank pertama yang punya ATM di Indonesia justru adalah Bank Dagang Bali, yang bermitra dengan Chase Manhattan Bank, pada tahun 1984/1985. Setelah itu, menyusul bank-bank lain seperti Bank Niaga (sekarang CIMB Niaga) pada 1987, Bank BCA pada 1988, dan bank-bank lain setelahnya.

Perkembangan fungsi ATM dari masa ke masa

Seperti nama aslinya yaitu Automated Teller Machine, fungsi ATM di awal-awal kemunculannya (dekade 60 sampai 80-an) hanya untuk tarik tunai saja. Ya sebatas agar para nasabah bisa ambil uang kapanpun (24 jam), tanpa perlu antre di teller. Saat itu, mesin ATM juga hanya melayani satu bank atau bank-bank tertentu saja.

Fungsi ATM mulai berkembang pada dekade 90-an, ketika sudah muncul integrasi jaringan antar bank. Ini ditandai dengan adanya jaringan ATM Bersama dari Artajasa. Selain sudah bisa berfungsi untuk cek saldo, ATM juga sudah bisa transfer antar rekening, bahkan sudah bisa tarik tunai di ATM manapun yang ada logo ATM Bersama.

Pada era 2000-an, perkembangan ATM semakin advance dengan munculnya beberapa fitur seperti pembayaran tagihan rumah tangga dan sebagainya. Fitur setor tunai juga jadi inovasi besar yang menjadikan ATM sebagai one stop service untuk urusan keuangan. Nasabah sudah tidak perlu lagi antre di depan meja teller. Cukup ke ATM terdekat saja kalau mau setor uang. Tapi kalau setorannya puluhan bahkan ratusan juta, ya, mending tetap ke teller, sih.

Sekarang, di era digital, Anjungan Tunai Mandiri atau ATM tidak hanya berurusan dengan yang tunai-tunai saja. ATM sudah bisa dipakai untuk tarik/setor tunai tanpa kartu (cardless, hanya pakai aplikasi mobile banking). Bank Indonesia bahkan mengembangkan QRIS TUNTAS untuk memperluas akses tarik tunai, transfer, dan setor tunai, termasuk bagi masyarakat di wilayah yang jauh dari kantor cabang atau ATM tertentu.

Berawal dari mesin tarik tunai hingga menjadi kanal perbankan yang canggih

Perjalanan Anjungan Tunai Mandiri atau ATM di Indonesia (bahkan di dunia) menunjukkan bagaimana teknologi perbankan berubah mengikuti kebutuhan masyarakat. Mesin ini awalnya hanya digunakan untuk mengambil uang, lalu berkembang menjadi fasilitas untuk transfer, pembayaran, setor tunai, hingga terhubung dengan layanan berbasis QR.

ATM sekarang memang sudah secanggih itu. Semua transaksi bisa selesai di satu tempat. Selain itu, keberadaannya juga makin banyak, dan tersebar sampai pelosok-pelosok negeri. Lalu kita jadi mikir, pembaruan istilah ATM dari Anjungan Tunai Mandiri ke Anjungan Transaksi Mandiri yang ditawarkan Ivan Lanin dkk sepertinya terdengar sangat masuk akal.

Iqbal AR

Penulis dan reporter lepas. Tinggal di Malang.