Demonstrasi #IndonesiaSadar yang terjadi pada 28 Oktober 2026 kemarin masih menyisakan beberapa cerita. Ceritanya tidak hanya soal represi aparat, campur tangan ormas binaan rezim, atau penangkapan kawan-kawan. Cerita yang tersisa juga tentang simbol atau salam tiga jari, serta penggunaan kombinasi tiga warna, yaitu hijau, biru, dan merah dalam aksi tersebut.
Terkait simbol dan warna tersebut, masih banyak orang yang belum mengerti apa makna sebenarnya. Beberapa orang bahkan menganggap salam tiga jari sebagai simbol salah satu calon presiden di pemilu sebelumnya. Banyak juga yang menganggap bahwa kombinasi warna hijau, biru, dan merah adalah metafora sikap dalam perlawanan.
Meskipun tidak ada yang salah dalam tafsiran simbol tersebut, kita tetap perlu meneliti ulang apa makna sebenarnya dari kedua simbol tersebut. Lantas, apa sebenarnya makna salam tiga jari dan simbol warna hijau, biru, dan merah yang viral saat aksi demo 28 Oktober kemarin?
Salam tiga jari dan The Hunger Games
Salam tiga jari atau three-finger salute merupakan gestur tangan dengan mengangkat tiga jari, biasanya telunjuk, jari tengah, dan jari manis, sementara jari lainnya ditekuk. Gestur ini dikenal luas sebagai simbol solidaritas, penghormatan, persatuan, dan perlawanan terhadap kekuasaan yang dianggap menindas.
Kita mungkin mengenalnya melalui serial novel dan film The Hunger Games. Dalam cerita tersebut, gestur tiga jari awalnya digunakan masyarakat Distrik 12 sebagai tanda penghormatan, simpati, dan perpisahan. Gestur itu kemudian berkembang menjadi simbol solidaritas dan perlawanan terhadap Capitol, pemerintahan otoriter yang menguasai wilayah Panem.
Perubahan makna tersebut membuat salam tiga jari tidak lagi sekadar gestur penghormatan. Simbol ini menjadi representasi keberanian masyarakat untuk melawan ketidakadilan dan kekuasaan yang represif. Maknanya memang tidak selalu sama dalam setiap gerakan. Namun, dalam konteks demonstrasi dan aktivisme politik, salam tiga jari sering digunakan untuk menunjukkan dukungan terhadap perjuangan masyarakat serta aspirasi mengenai kebebasan dan keadilan.
Salam tiga jari dalam demonstrasi di seluruh dunia
Gestur salam tiga jari bukanlah pertama kali muncul dalam demonstrasi #IndonesiaSadar di Indonesia pada 28 Oktober kemarin. Gestur ini sudah cukup familiar dan kerap muncul di berbagai demonstrasi di seluruh dunia, khususnya di Asia Tenggara. Para demonstran di Thailand dan Myanmar sudah pernah menggunakannya terlebih dahulu.
Pada tahun 2014, para demonstran pro demokrasi di Thailand menggunakan gestur ini sebagai simbol perlawanan. Saat itu, kudeta militer baru saja terjadi pada Mei 2014. Para demonstran menggunakannya sebagai bentuk penolakan terhadap kekuasaan militer dan pembatasan kebebasan politik. Gestur tersebut kemudian menjadi salah satu simbol yang mudah dikenali dalam gerakan pro demokrasi Thailand.
Tujuh tahun berselang, simbol tiga jari kembali muncul di Myanmar. Pada Februari 2021, militer Myanmar mengambil alih pemerintahan melalui kudeta. Aktivis, mahasiswa, dan masyarakat yang menolak pemerintahan militer menggunakan salam tiga jari untuk menunjukkan solidaritas serta perlawanan. Dalam situasi ketika ruang kebebasan berekspresi semakin terbatas, gestur sederhana tersebut menjadi salah satu cara masyarakat menyampaikan sikap politik.
Makna simbol tiga jari dalam konteks demonstrasi dan perlawanan
Selain bermakna solidaritas dan perlawanan, salam tiga jari juga dapat dikaitkan dengan tiga nilai yang dikenal melalui semboyan Prancis, liberte (kebebasan), egalite (kesetaraan), dan fraternite (persaudaraan). Ketiga nilai tersebut relevan dengan berbagai gerakan sosial yang memperjuangkan demokrasi dan keadilan.
Jadi, makna simbol salam tiga jari memang tidak bisa lepas dari unsur-unsur solidaritas dan perlawanan. Di tempat kemunculannya, yaitu di The Hunger Games, simbol ini punya makna solidaritas dan perlawanan. Ketika simbol itu digunakan di dunia nyata, maknanya tetap sama: sebagai simbol perlawanan, sebagai semangat solidaritas antar sesama.
Kombinasi warna hijau, biru, dan merah dan kaitannya dengan tiga kelompok suporter Yogyakarta
Selain salam tiga jari, kombinasi warna hijau, biru, dan merah juga ramai muncul dalam poster serta unggahan media sosial ketika aksi demonstrasi 28 Oktober 2026. Kombinasi tiga warna ini seakan jadi tema yang mengantar dan membersamai demonstrasi kemarin. Kemunculan kombinasi tiga warna ini membuat orang bertanya-tanya, dari mana warna ini muncul dan apa maknanya.
Merangkum berbagai sumber, kemunculan kombinasi warna hijau, biru, dan merah ini tidak lepas dari ketiga kelompok suporter sepak bola di Yogyakarta. Mereka adalah PSS Sleman yang dilambangkan dengan warna hijau, PSIM Yogyakarta dengan warna biru, dan Persiba Bantul dengan warna merah.
Ketiga warna tersebut kemudian ditafsirkan sebagai simbol solidaritas yang melampaui rivalitas sepak bola. Seperti kita tahu, tiga kelompok suporter di Yogyakarta punya sejarah rivalitas yang cukup sengit. Namun, mereka berani menurunkan ego, bersatu melawan tiran dan musuh besar yang sebenarnya: pemerintah.
Makna kombinasi tiga warna hijau, biru, dan merah
Pemaknaan kombinasi ketiga warna ini tidak melulu soal bersatunya tiga kelompok suporter di Yogyakarta. Banyak orang yang memperluas makna dan tafsiran dari kombinasi ketiga warna ini agar tidak hanya berkutat di unsur sepak bola dan suporter di Yogyakarta saja.
Kemudian banyak orang menghubungkan masing-masing warna dengan tiga pemaknaan yang lebih luas. Warna hijau bermakna gertakan, peringatan atau tekanan awal. Sedangkan warna biru bermakna dobrakan, menggambarkan dorongan untuk membuka perubahan atau menerobos kebuntuan. Lalu warna merah bermakna ledakan, menggambarkan kemarahan dan perlawanan yang mencapai puncaknya.
Jika makna ini kita baca dalam satu rangkaian, lalu kita tambahkan ke konteks demonstrasi 28 Oktober, kita akan punya pemahaman yang lengkap. Ketiganya seolah menggambarkan eskalasi gerakan mulai dari peringatan, dorongan perubahan, hingga perlawanan yang lebih besar. Itulah mengapa kombinasi ketiga warna ini bisa meluas dan digunakan tidak hanya di Yogyakarta saja.
Peran penting semiotika dalam gerakan atau aksi demonstrasi #IndonesiaSadar 28 Oktober 2026
Kemunculan simbol salam tiga jari dan kombinasi tiga warna hijau, biru, dan merah dalam demonstrasi 28 Oktober semakin menegaskan bagaimana peran penting semiotika dalam sebuah gerakan. Dalam sebuah gerakan, pengerahan massa secara fisik tidak jadi satu-satunya jalan. Pengerahan atribut, baik gambar, simbol, kata, maupun warna, juga jadi elemen yang tidak kalah penting.
Adanya simbol seperti ini juga memperluas ruang gerak aktivisme. Gerakan atau demonstrasi akhirnya tidak hanya terbatas di jalan raya atau ikon sebuah kota saja. Simbol-simbol seperti ini juga jadi semacam pertarungan narasi di ruang digital. Akhirnya, partisipasi publik bisa lebih luas dan gaung aksinya juga bisa lebih kencang.
Maka dari itu, tetap gaungkan dan naikkan simbol salam tiga jari dan kombinasi tiga warna hijau, biru, dan merah. Selagi pemerintah masih mbidek, tidak ada alasan untuk mengendurkan perlawanan, apapun bentuknya.
***
Simak video tentang sejarah perlawanan dari masa lalu hingga tantangan Indonesia hari ini, termasuk menjawab “apakah aksi demo masih diperlukan?”.