Purbaya Yudhi Sadewa duduk di kursi Menteri Keuangan selama kurang lebih satu tahun. Selama masa jabatannya, ada saja momen menarik yang bikin kita senyum-senyum sendiri mulai dari gaya komunikasinya yang dar-der-dor ala “koboi”, keputusannya tidak menaikkan cukai rokok pada 2026, hingga pilihannya memburu ratusan pengemplang pajak kelas kakap ketimbang membebani rakyat kecil. Tiga hal ini mungkin paling banyak diingat orang dari masa jabatan Purbaya Yudhi Sadewa.
Purbaya resmi menjabat sebagai Menteri Keuangan sejak 8 September 2025, menggantikan Sri Mulyani Indrawati yang lama menghuni kursi bendahara negara. Tugasnya berakhir pada 14 September 2026 setelah Presiden Prabowo Subianto melakukan reshuffle kabinet.
Sejak hari pertama duduk di kursi Menteri Keuangan, publik menaruh harapan besar sekaligus penasaran dengan sosok Purbaya. Sebagian orang penasaran dengan rekam jejaknya yang moncer sebagai Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Sebagian lain terpaku pada cara bicaranya.
Di hari pertamanya bicara di depan publik sebagai Menteri Keuangan, pria lulusan ITB ini tidak membungkus kalimatnya dengan bunga-bunga. Ia bicara ceplas-ceplos, langsung ke inti perkara.
Gaya Blak-Blakan yang Disebutnya sebagai “Gaya Koboi”
Menkeu yang satu ini mengakui gaya komunikasinya sangat blak-blakan. Tapi gaya ini seringkali menimbulkan masalah, seperti ketika ia merespons tuntutan 17+8 yang viral, hanya beberapa hari setelah dilantik.
Purbaya merespons tuntutan tersebut dengan asal-asalan, lalu meminta maaf dan menyebut dirinya “menteri kagetan”. Ia berjanji memperbaiki cara bicaranya ke depan, tanpa berlindung di balik bahasa birokrasi yang njlimet. Beda dengan Menteri lain biasanya memilih jawaban normatif dan berbelit-belit ketika kena kritik. Purbaya malah mengakui gaya bicaranya salah dan mau berintrospeksi. Hasilnya, survei IPO mencatat persepsi publik terhadap dirinya tetap positif meski gaya komunikasinya kerap disorot media.
Purbaya tidak berhenti nyeleneh sampai akhir jabatan. Sehari setelah dicopot, ia mengunggah foto dirinya tersenyum di TikTok dengan keterangan “Udah siap belum?” disertai emotikon tertawa. Unggahan itu ditonton lebih dari empat juta kali dan dibanjiri komentar warganet dalam hitungan jam.
Kebijakan yang Bikin Kantong Rakyat Bernapas Lega
Cara komunikasi yang frontal dan apa adanya itu tidak berhenti di mulut saja. Purbaya membawa cara yang sama ke ranah kebijakan fiskal: langsung ke inti permasalahan, tanpa banyak basa-basi. Beberapa keputusannya bahkan terasa langsung di kantong rakyat kebanyakan.
Cukai Rokok Tidak Naik, Pengemplang Pajak yang Dikejar
Purbaya memutuskan tidak menaikkan tarif cukai hasil tembakau sepanjang 2026. Keputusan ini berbeda dari pola tahun-tahun sebelumnya, yang hampir selalu menaikkan cukai rokok secara berkala. Purbaya beralasan kebijakan fiskal harus mempertimbangkan kondisi ekonomi riil, bukan target penerimaan negara semata.
Tidak hanya itu, Purbaya menargetkan sekitar dua ratus pengemplang pajak berstatus orang kaya, bukan rakyat kecil. Ia mendorong tim penagihan mengejar tunggakan pajak yang mangkrak di daftar orang-orang beraset jumbo. Ia juga mengancam pegawai Kementerian Keuangan sendiri dengan sanksi berat, termasuk pemecatan, jika terbukti melakukan kecurangan dalam proses pemungutan pajak. Pendekatan dua arah ini menggeser beban pajak ke pihak yang selama ini lolos dari aturan, bukan ke pekerja atau pengusaha kecil yang paling mudah dikejar.
Penerimaan pajak Januari 2026 melonjak 30,7 persen dibanding Januari tahun sebelumnya, modal awal yang bikin optimis. Momentum itu melambat begitu memasuki semester dua. DDTCNews mencatat, hingga Juli 2026, Purbaya menyebut pertumbuhan penerimaan pajak masih di atas 23 persen secara tahunan, angka yang menurutnya tetap on track dengan target APBN. Ia mengejar angka itu lewat pembenahan birokrasi internal dan penutupan celah kebocoran penerimaan, tanpa menaikkan pungutan ke masyarakat luas.
Dorongan Likuiditas ke Perbankan
Purbaya juga mendorong Danantara menyetorkan sekitar Rp120 triliun ke negara sebagai bantalan fiskal. Ia menempatkan dana Rp200 triliun ke lima bank umum mitra agar likuiditas perbankan bergerak lebih leluasa di masyarakat. DPR mempersoalkan dasar hukum langkah ini, tapi Purbaya bertahan dengan argumen bahwa uang pemerintah tidak boleh hanya mengendap.
Drama Keluarga dan Momen Receh yang Menghibur Publik
Publik juga terhibur oleh drama kecil di sekitar Purbaya. Putranya, Yudo Sadewa, membuat geger warganet lewat unggahan Instagram yang menyinggung Sri Mulyani. Geger kecil itu membuat Purbaya melarang anaknya bermain media sosial, dengan alasan sang anak “masih kecil, tidak mengerti apa-apa”. Yudo membuat video klarifikasi sambil menutupi mulutnya dan tertawa kecil, gestur yang bikin netizen makin gemas.
Purbaya juga menghadapi beberapa video deepfake yang mencatut namanya, mulai dari klaim membagikan bantuan untuk tujuh ratus orang tercepat sampai program dana hibah palsu. Kementerian Keuangan bergerak cepat mengklarifikasi setiap hoaks tersebut.
Drama keluarga, hoaks yang menyeret namanya, dan kontroversi kebijakan membuat kanal berita terus memberitakan sosok Purbaya Yudhi Sadewa.
Menkeu yang Meninggalkan Kesan, Bukan Sekadar Angka
Selama menjabat, Purbaya Yudhi Sadewa meninggalkan sejumlah kontroversi. Ia sempat disorot gara-gara polemik anggaran pembukaan rekening massal senilai Rp11 triliun, dan menjelang akhir jabatannya, ratusan pejabat di lingkungan Kemenkeu ikut dirombak, sesuatu yang jelas bikin sebagian pihak internal ketar-ketir.
Tapi kalau melihat dari sisi yang lebih menyenangkan, sosoknya justru berhasil membuat jabatan menteri keuangan yang biasanya serius jadi terasa lebih santai dan tidak kaku. Purbaya bicara apa adanya, tanpa muter-muter cari aman, dan ketika salah bicara, ia tidak ragu meminta maaf secara terbuka di depan publik.
Publik mungkin akan merindukan gaya komunikasinya yang ceplas-ceplos meski kadang bikin kesal. Gaya itu tidak selalu cocok untuk setiap situasi. Tapi pejabat negara tidak harus selalu kaku, dan selama satu tahun ini, Purbaya sudah membuktikannya.