ADVERTISEMENT

Bapak Saya Taubat Mencintai RX King dan Sekarang Mencintai Supra X Modif Trail untuk Mengangkut Tembakau

bapak pensiun mencintai yamaha rx king dan memilih supra x

Bau tembakau basah dan bau bensin dua tak ternyata bisa akrab satu sama lain, setidaknya di motor bapak saya. Padahal dulu, satu-satunya bau yang lekat di jaketnya adalah bau oli RX King yang baru diservis, motor yang bertahun-tahun jadi mahkota tak resmi bagi laki-laki kampung di era 90 sampai 2000-an. Sekarang mahkota itu sudah pindah tangan, berganti Supra X yang rangkanya ditambah besi dan kayu.

Bapak saya jatuh cinta pada motor RX King di usia yang menurut saya paling pas untuk jatuh cinta pada apapun secara membabi buta. Di usia muda dan masih punya alasan untuk merasa dunia adalah miliknya. Tahun 1997, RX King berwarna hijau itu resmi jadi tunggangannya. Saya tidak sempat menyaksikan masa kejayaan itu, sebab saya masih berumur empat tahun. 

Sebagai penunggang raja jalanan, bapak saya memang terlihat sangat menyatu dengan kuda besi yang sering dianggap jambret tersebut. Bapak saya kerap ngobrol dengan ponakan-ponakannya, yang sedang menggandrungi Yamaha oli samping itu. Hal tersebut adalah cara bapak saya bilang ke anak-anak muda, jika dia juga pernah menjadi legenda jalanan.

Tahun 2000-2003, kalau tidak salah ingat, King hijau itu ditukar dengan King yang lain, yang lebih segar catnya, lebih kencang rasanya, meskipun secara mesin barangkali tak jauh beda. Saya diajak bapak ke dealer di daerah Rembang Kota untuk mengambil motor ini. Ya, RX King Black Master Tahun 2000. Warna hitam dengan orange yang gagah.

Bapak saya waktu itu masih jadi mandor di sebuah pabrik mebel. RX King jadi teman pulang-pergi yang setia, dan siapa pun di kampung tahu, kalau ada suara dua tak melengking dari kejauhan lewat jam pulang kerja, itu pasti bapak saya.

Raja Jalanan RX King yang Akhirnya Turun Takhta

Bapak saya semakin menua, pensiun dari jabatan mandornya, dan alih-alih menikmati masa tua dengan rebahan, beliau malah kembali ke sawah. Menanam tembakau. Tanaman emas hijau yang sering dinista pemerintah sendiri, tapi selalu ditunggu cukai dan pajaknya. 

RX King pun akhirnya dijual. Bapak saya tidak banyak bicara soal itu. Hanya saja saya tahu, kalau bapak cukup bersedih melepas motor yang menemaninya bertahun-tahun melibas jalanan. Saya cuma ingat, bapak bilang, “sudah nggak cocok buat kerja di sawah.” Kalimat yang seakan menjadi pengakuan bahwa hidupnya sudah pindah fase dari yang butuh kecepatan, menuju membutuhkan sesuatu yang jauh lebih membumi, yaitu daya angkut.

Beliau beli Vario 125 baru sebagai ganti jagoan RX King. Motor matic yang mestinya jadi simbol kemapanan seorang purnamandor di era itu. Anehnya, Vario itu lebih sering diam di dalam rumah, kena debu, sesekali dipakai kalau acara resmi dekat-dekat, misalnya semacam kondangan dan tahlilan. 

Saya beberapa kali bertanya ke bapak soal kenapa Vario 125 itu jarang dipakai. Motor yang tinggal gas dan memanjakan tangan kirinya untuk tidak bekerja keras mengatur kopling. Bapak hanya bilang, “Sayang kalau buat ke sawah!

Alasan itu sebetulnya jujur meski terdengar lucu. Bapak saya sayang Vario-nya justru karena tidak berani mengajaknya kerja kasar. Motor matic modern itu ringan dan nyaman, tapi rapuh kalau harus dipaksa angkut beban berat berkali-kali sehari, apalagi lewat jalan sawah yang becek dan berbatu. Jadi Vario disimpan rapi, sementara yang benar-benar dipakai tiap hari adalah motor lain, Supra X yang sudah modifikasi sedemikian rupa. Orang di kampung saya menyebutnya, trail jawa.

Supra yang Perkasa Melibas Jalan Becek Bebatuan

Supra X milik bapak saya bukan Supra X yang orisinil lagi. Bagian belakang dan sampingnya sudah ditambah rangka besi siku, shockbreaker dibuat lebih tinggi, bajunya dicopoti, dan bannya spek motor trail. Sengaja dibuat kuat menahan beban berkarung-karung daun tembakau basah dari sawah ke rumah. Hampir setiap petani yang masih aktif turun ke sawah punya motor dengan modifikasi serupa, entah pakai Supra atau Karisma.

Ada alasan teknis kenapa Supra jadi pilihan favorit untuk jenis siksaan semacam ini. Sejak generasi pertamanya diperkenalkan Honda tahun 1997 dengan mesin 100 cc, lalu naik jadi 125 cc pada 2005, Supra dari sananya memang dirancang untuk jadi kuda beban rakyat, maksudnya irit bahan bakar. Supra X juga gampang diservis di bengkel becek sekalipun, dan yang paling penting, tahan disiksa tanpa banyak drama. 

Rangka tulang punggungnya cukup kokoh untuk ditambah besi dan kayu, cukup untuk mengangkut beban yang bahkan bikin RX King meringis kalau dipaksakan. Bukan kebetulan kalau motor sejuta umat ini sampai sekarang masih jadi andalan di sawah-sawah, jauh setelah pamornya di jalan raya kota mulai kalah oleh motor matic.

Dari RX King ke Supra Modif, Kata Bapak Ini Adalah Cinta yang Berubah Bentuk Bukan Berhenti

Saya kira, ini bukan soal bapak saya berhenti cinta pada kecepatan. Ini soal cinta yang berubah bentuk mengikuti apa yang benar-benar dibutuhkan hidupnya. Dulu ketika menunggang RX King, yang dicari mungkin gengsi dan deru knalpot yang bikin orang menoleh. Sekarang yang dicari adalah motor yang bisa diajak kerja keras, meski wujudnya jauh dari kata gagah, lebih mirip mesin tempur tua dan kebetulan masih bisa dikokang dan menembak.

Saya kadang menemani bapak saya ke sawah, sekadar bantu-bantu angkut tembakau sambil ngobrol di atas jok Supra. Sekali waktu saya tanya, apa beliau kangen sensasi RX King. Bapak saya diam sebentar, lalu jawab, “Kangen ya kangen. Tapi motor itu buat jalan kencang. Sekarang saya butuhnya motor yang kuat, bukan yang kencang.” Jawaban itu terasa sederhana, tapi menurut saya itu semacam filosofi hidup yang jarang diucapkan banyak orang secara sadar, bahwa kebutuhan kita berubah seiring umur, dan mencintai sesuatu yang baru bukan berarti mengkhianati yang lama.

Di Masa Mudanya Bapak Mencintai Yamaha dan Saya Honda, Kami Tetap Solid

Saya sendiri entah kenapa tumbuh dengan selera yang justru berlawanan arah dari perjalanan bapak saya. Dari kecil saya sudah suka motor jadul model CB, dan sekarang beneran punya CB 125 tahun 75, motor yang jalannya lambat tapi seolah selalu punya cerita untuk dibagi setiap kali distarter. Meski sekarang hanya mangkrak setelah restorasi dan pretel setelah saya melakukan touring hanya dari Jogja ke Semarang. 

Kalau bapak saya mendarat di Supra pengangkut tembakau setelah bertahun-tahun jadi raja jalanan, saya justru mulai dari motor yang sok tua sejak muda. Dua arah yang berlawanan, tapi mungkin sama-sama soal mencari motor yang paling jujur menggambarkan diri kami di fase hidup masing-masing.

Kadang saya mikir, andai RX King hijau tahun 95 itu masih ada dan bisa diajak bicara, mungkin dia akan heran, atau justru bangga, melihat pemiliknya yang dulu doyan ngebut sekarang malah telaten momong Supra yang jalannya pelan-pelan, asal muatan tembakau di belakangnya tidak jatuh satu lembar pun. Siapa tahu, RX King itu juga akan mengerti, bahwa cinta yang benar-benar dewasa memang begini bentuknya, tidak selalu kencang, tapi selalu bisa diandalkan.

Ibil S Widodo

Kontributor aktif media opini dan satir.