Stigma Para Crosshijaber Ketika Mengekspresikan Diri MOJOK.CO

Stigma Para Crosshijaber ketika Mengekspresikan Diri

MOJOK.COSetiap orang punya kecenderungan yang berbeda dalam mengekspresikan dirinya. Dan para crosshijaber mungkin telah memilih cara seperti ini.

Pakaian yang dikenakan seseorang sering kali langsung melekat identitas gender tertentu. Hijab dan rok misalnya, telah melekat identitas gender perempuan. Sementara sarung dan peci, melekat identitas gender laki-laki. Lantas, jika pakaian yang sudah punya identitas gender tersebut dikenakan dengan cara sebaliknya, maka akan dianggap aneh. Dan ketika hal tersebut dilakukan, hal ini akan disebut sebagai crossdressing.

Sebetulnya, crossdressing ini sudah ada sejak dulu. Dalam pertujukan hiburan rakyat seperti ketoprak misalnya, penampilan seorang laki-laki yang bersolek dan berperilaku menyerupai perempuan bukan menjadi hal baru apalagi sesuatu yang begitu tabu. Para laki-laki yang berdandan seperti perempuan itu sadar betul bahwa dirinya adalah laki-laki. Hanya saja, memang sedang berperan sebagai perempuan.

Atau dalam penampilan tari Lengger Lanang, sebuah kesenian lintas gender yang sakral bagi masyarakat Banyumas. Seluruh penarinya adalah laki-laki, tapi mereka menggunakan riasan dan pakaian perempuan. Tidak hanya itu, lenggak-lenggok tariannya pun sungguh begitu gemulai. Mereka sama sekali tidak menunjukkan sisi maskulinnya blas.


Nah, baru-baru ini fenomena crossdressing ramai lagi diperbincangkan. Setelah munculnya komunitas-komunitas yang menamakan dirinya crosshijaber. Yak, laki-laki yang berdandan dengan mengenakan hijab, gamis, dan terkadang bercadar: Pakaian yang identik dengan ukhti-ukhti. Bahkan ada pula yang berdandan menjadi perempuan berhijab yang sedang hamil. Atau mereka sebut sebagai pregnant crossdresser.

Seperti yang disebutkan dalam Magdalene, komunitas semacam ini dapat ditemukan di grup-grup chat pribadi seperti Telegram. Di Facebook sendiri, ada halaman yang menamakan dirinya “Crosshijaber & Crossdresser” dan telah di-like lebih dari 1.300 akun. Sementara di Instagram akun bernama @cross.hijaber memiliki 1.109 followers.

Sebelum komunitas tersebut menunjukkan dirinya secara terang-terangan, sebetulnya para crosshijaber sudah ada. Meski keberadaannya sebagian besar memang masih sembunyi-sembunyi.

Baca juga:  Perbandingan Standar Gaji 8 Juta Lulusan UI dengan Standar Hidup Mahasiswa UI Negeri

Dilansir dari CNN Indonesia, ada psikolog yang menyebut kalau crosshijaber ini termasuk gangguan perilaku seksual transvestisme. Transvestisme sendiri merupakan salah satu bentuk gangguan seksual yang punya ketertarikan seksual pada hal yang tidak biasa atau tabu. Namun, hal tersebut tidak diikuti dengan perubahan orientasi rangsangan seksual.

Akan tetapi, yang perlu dicamkan baik-baik, kita tidak bisa serta-merta menyebut setiap orang yang punya kecenderungan crosshijaber adalah mereka-mereka yang punya gangguan perilaku seksual. Pasalnya, untuk bisa memberikan judgement yang demikian, tetap saja harus diikuti dengan asesmen yang mendalam. Harus diketahui betul, mereka menjadi crossdressing karena apa. Apakah niatnya untuk mencari kepuasan seksual, merasa nyaman, atau sekadar iseng-iseng aja. Jadi, meski hal ini tampak nggak biasa dalam lingkungan kita, tetap saja kita nggak berhak ngatain yang gimana-gimana~

Sementara itu, Inez Kristanti, seorang psikolog klinis dari klinik AngsaMerah mengungkapkan kalau crossdressing sendiri memang bisa jadi sebuah fetish—yakni adanya ketertarikan seksual pada benda-benda atau objek tertentu. Meski ia juga bisa menjadi awal dari proses eksplorasi identitas gender si individu.

Ngomongin soal gender dan hal-hal yang melekat padanya ini memang agak rumit dan kompleks. Pasalnya, ia bukan saja tergantung aspek bawaan, tapi juga perpaduan dengan konstruksi yang ada di masyarakat. Jadi ya, ketika seseorang berusaha mengekspresikan diri dengan cara crossdressing, peluang untuk mendapatkan cemooh dari masyarakat tentu saja besar.

Baca juga:  Surat Protes Warga Aceh atas Larangan Makan dan Ngopi Semeja Bareng Nonmuhrim

Bukan sekadar cemooh atau pandangan sinis, sih sebenarnya. Akan tetapi, stigma yang menganggapnya sebagai barisan kriminal ataupun para penjahat kelamin yang berusaha mengambil kesempatan dengan pekaiannya, juga terpaksa mereka terima. Lha bagaimana tidak? Sedihnya, banyak orang yang curi-curi kesempatan berbuat kejahatan dan melakukan hal yang tak pantas dengan pakaian semacam ini.

Oleh karena itu, perasaan curiga yang sebetulnya tidak perlu pun jadi menyebar. Padahal, padahal kan, mereka ini hanya sedang mengekspresikan dirinya sendiri.

BACA JUGA Mengulik Nama ‘Asli’ Lucinta Luna Adalah Ekspresi Transfobia atau artikel Audian Laili lainnya.