Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Betapa Rumitnya Menghargai Perasaan dan Niat Baik

Arif Utama oleh Arif Utama
6 Januari 2017
A A
Betapa Rumitnya Menghargai Perasaan dan Niat Baik

Betapa Rumitnya Menghargai Perasaan dan Niat Baik

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Setelah sangat sibuk merantau, akhirnya saya pulang juga ke rumah. Dan rumah, sepeninggalan kakek, terasa agak sepi karena di siang hari hanya ibu yang mondar-mandir di rumah. Ayah muncul pada malam, begitu pula adikku yang sedang menikmati masa-masa sekolahnya. Sementara keadaan nenekku yang sakit-sakitan membuatnya cemas.

Oleh sebab itu, ibu berinisiatif untuk mengajakku mengobrol agar rumah tak menjadi sepi. Di meja makan itu, ia memulai bercerita tentang banyak hal yang menjadi serius. Sesuatu yang tak pernah kami lakukan sebelum meninggalnya kakek. Mungkin ibu mulai menua dan resah perihal nasib anak-anaknya sehingga percakapan ini ia perlukan.

Iklan

Ibu bertanya kepadaku tentang banyak hal. Ia bertanya tentang kehidupan kuliah. Dan aku menjawab dengan jawaban normatif yang menyenangkan, tentu saja. Lalu ia bertanya perihal hidup dan apakah aku sudah tahu apa yang kuingini. Tentang kota mana yang akan menjadi tujuanku. Tentang mimpiku untuk S2 di Inggris. Tentang kerja apa yang hendak aku kehendaki nanti. Tentang pacarku, apakah aku akan menikahinya suatu saat nanti.

Kami terus bercerita, hingga tamu mengetuk pintu kami menjadi jeda dari obrolan kami.

Aku membuka pintu dan ia tersenyum. Ia adalah tetanggaku –ibu-ibu yang menjadi teman ibuku. Ia kemudian datang dan menyambutku selayaknya orang Melayu bertemu tamu jauh. Ia mengatakan beberapa kalimat-kalimat yang telah menjadi template di telingaku dan terus diulang saat aku pulang ke rumah. “Wah, sudah besar kau rupanya?”, “Gimana kuliah, enak ga?”, “kapan sampai? Kapan pergi lagi?”, dan sebagainya. Tanya-tanya itu aku jawab dengan penuh ketulusan. Hingga kemudian, meluncurlah sebuah tanya yang sebenarnya sangat tidak aku inginkan untuk ditanyakan.

“Kenapa kau tak datang ketika kakekmu meninggal?”

Aku berusaha menjelaskan bahwa adalah wasiat almarhum sendiri untuk segera diadakan pemakaman secepat mungkin setelah ia wafat. Ia tahu bahwa nenekku yang sudah terlalu tua itu akan menangis menjadi-jadi. Dan itu berarti membuat ibuku juga turut sedih. Kalau ibuku sedih, tentu adikku akan menangis terisak-isak. Hal itu akan membuat ayahku harus meluangkan waktu untuk menghibur seluruh anggota keluargaku. Ia bukan Tuhan, dan karena itu, pekerjaan itu akan menjadi mahadahsyat baginya. Ia tak ingin keluarganya berlarut-larut menatapi jenazahnya.

Setelah menjelaskan panjang lebar, aku mengatakan kepadanya, “Aku benar-benar ingin pulang waktu itu, Tante. Tapi ya bagaimana, itu keinginan kakek dan aku harus menghormatinya.”

Kemudian ia menjawab dengan perasaan iba. “Kau harusnya pulang, nak. Orang-orang banyak kok yang rela pulang demi memberikan penghormatan terakhir kepadanya. Apa kau tak ingin pulang?”

Ibu kemudian datang dan mengajak tamuku berbicara. Ia berbicara banyak hal. Tentang arisan dan janji jalan-jalan untuk sesama perempuan di kompleks kami.

Hingga sampai tamu ibu itu pulang, pertanyaanya tentang ketidakpulanganku di hari kematian kakek masih terus terpatri di kepalaku. Sangat membuatku cemas, sampai-sampai aku harus menanyakan perihal perasaanku itu kepada ibu.

“Bu, apakah pilihanku untuk tak pulang saat wafatnya kakek adalah pilihan yang salah?”

Ibu hanya tersenyum dan berkata, “tentu tidak, ibu justru berterima kasih kamu sudah menuruti inginnya kakekmu. Kau pulang atau kau tak pulang semua akan sama saja. Takkan mengubah takdir kakek yang telah meninggal. Malah, menunggumu pulang sebelum kakek dimakamkan akan membuat banyak kesedihan. Tetangga akan terus menanyai keluarga kita kakek meninggal kapan dan bagaimana secara berulang-ulang.”

“Kenapa kamu tanya itu? Pasti tetangga kita tadi menanyakan soal ketidakpulangamu, iya?”

Aku mengangguk. Ibu mengusap pundakku. Membuatku merasa lebih tenang.

“Ketahuilah, Nak! Tak hanya dirimu yang ditanyai orang dengan pertanyaan macam ini. Kau tahu keluarga kita awalnya tak berniat mengadakan tahlilan? Bukan, bukan karena keluarga ini tak sayang dengan kakekmu. Tapi itulah yang memang diingini oleh kakek. Ia berpegang teguh pada prinsipnya bahwa hanya ibu, anaknya, yang akan mampu menyelamatkannya di akhirat kelak selain amal jariyah dan ilmu yang bermanfaat. Mengadakan tahlilan, sama seperti menunggu kepulanganmu kala itu, akan membuat kita terus ditahan perasaan tidak ikhlas dan perandaian yang tak perlu.”

“Tapi pada akhirnya, ibu buat juga kan acara tahlilan?”

“Iya memang, namun itupun hanya tiga hari. Telinga ayah panas mendengar tetangga-tetangga bicara tentang apakah keluarga kita tak berduka setelah sepeninggalan kakek sehingga tak perlu mengadakan tahlilan. Tahlilan itupun kemudian digelar untuk mereka-mereka juga. Bahkan tiga hari itupun bagi mereka kurang. Mereka bertanya kenapa tak ada tahlilan tujuh harian. 40 hari. 100 hari. Satu tahunan. Dan sebagainya. Mereka malah mengatakan ayah pelit karena hanya tiga hari. Seolah tak puas mereka menyaksikan kita semua dipaksa harus terus berduka. Ibu katakan kepada ayah untuk jangan menuruti keinginan tetangga. Kita hormati saja keinginan almarhum.”

Iklan

Sejenak, ibu menatap gelas yang terisi air. Seakan ia telah melihat dirinya di sana. Seakan ia sedang menemukan apa yang lama ia cari selama ini.

Ibu lanjut berbicara, “Ibu mengerti niat tetangga-tetangga itu baik. Tapi, selama ibu hidup, yang ibu tak mengerti mengapa seakan mereka selalu berkomentar di saat mereka tak betul-betul ingin menolong. Tak adakah empati sedikitpun untuk perasaan ibu, perasaan keluarga ini? Toh, tak sedikit juga tetangga-tetangga kita, teman-teman ibu, yang sampai rela hutang ke sana sini setelah kematian anggota keluarganya karena mereka diharuskan mengadakan tahlilan. Bikin ribet aja.”

Aku menatap kagum kepada wajah ibu. Tak lama, ibu meneguk air dalam gelas itu. Ia menjadi lebih tenang.

“Jadi, sudah ya, jangan sedih lagi?”

“Iya, Bu.”

“Nah, agar kamu tak sedih, ibu akan tanya ke kamu pertanyaan lain. Kapan jadi kamu lulus?”

“Insyaallah 2017.”

“Yakin kamu kalau 2017?”

“Yakin, Bu”

“Kalau tidak lulus 2017, ibu coret dari akte keluarga gimana?”

“Wah, Modar aku…”

Terakhir diperbarui pada 8 Agustus 2017 oleh

Tags: keluarganiat baikperasaantahlilan
Arif Utama

Arif Utama

Artikel Terkait

ilustrasi - pekerja (Ega Fansuri/Mojok.co)

Pelarian Laki-laki Burnout usai Dihantam Pekerjaan tapi Dipaksa Kuat karena Tuntutan Kepala Keluarga Ideal

20 Agustus 2026
Tahlilan di desa. MOJOK.CO

Gen Z di Desa Ogah-ogahan Ikut Tahlilan Bikin Cemas Para Tetua: Bisa Hilang Budaya Srawung dan Peduli Tetangga

8 Juli 2026
Tahlilan di desa. MOJOK.CO

Tahlilan Jadi Beban Fisik dan Mental bagi Perempuan: Tidak Diberi Ruang Berduka karena Tuntutan Amplop hingga Suguhan

1 Juli 2026
Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara MOJOK.CO

Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara

5 Juni 2026
menikah dengan keluarga pasangan yang terlilit utang.MOJOK.CO

Menikah dengan Pasangan yang Keluarganya Terlilit Utang Bikin Serba Salah: Terlalu Cinta untuk Ditinggal, tapi Bikin Menderita Kalau Bertahan

8 Mei 2026
Tahlilan ibu-ibu di desa: acaranya positif tapi ternodai kebiasaan gibah dan maido MOJOK.CO

Tahlilan Ibu-ibu di Desa: Kegiatan Positif tapi Sialnya Jadi Kesempatan buat Flexing Perhiasan, Mengorek Aib, hingga Saling Paido

28 April 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Alma Odai "Cucurella" Diburu Fans, Pemain Thailand Disukai karena Lucu-lucu MOJOK.CO

Alma Odai “Cucurella” Diburu Fans di Srikandi Merdeka Cup, Pemain Thailand Disukai karena Lucu-lucu

22 Agustus 2026
Penyesalan mahasiswa kiri dan naif: tolak kerja (jadi budak) korporat karena melanggengkan kapitalisme, tapi sadar orang tua belum bahagia MOJOK.CO

Sesal Mahasiswa Sok Kiri Anti Kapitalisme dan Naif: Tolak Kerja Korporat, Tapi Sadar Belum Bantu Ekonomi Orang Tua

21 Agustus 2026
perubahan desil membuat penjual ayam potong menderita

Perubahan Desil Tak Masuk Akal Membuat Penjual Ayam Potong Menderita

21 Agustus 2026
Realitas pasangan muda di Jogja: tak sanggup bermimpi punya rumah sendiri, pasrah menua di kosan makan tahu-tempe untuk bertahan MOJOK.CO

Realita Pasangan Muda di Jogja: Tak Sanggup Punya Rumah, Pasrah Menua di Kosan Makan Tahu-Tempe buat Bertahan

21 Agustus 2026
Fikih Hijau ala Masjid Walidah Dahlan UNISA Yogyakarta. MOJOK.CO

Fikih Hijau ala Masjid Walidah Dahlan UNISA: Masjid sebagai Mercusuar Peradaban dan Konservasi Lingkungan

22 Agustus 2026
Tercatat 1 juta lulusan S1 (sarjana) jadi pengangguran hingga terjebak pinjol karena hidup konsumtif MOJOK.CO

Banyak Lulusan S1-S3 Nganggur Bukan Cuma karena Lapangan Kerja, Tapi Ada Juga Dua Masalah yang Jarang Disadari

19 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026
Bukan Sekadar Beternak Karang Taruna Bono dan Upaya Menghidupkan Ekonomi Warga

Dari Ternak untuk Desa: Geliat Karang Taruna Bono Menghidupkan Ekonomi Warga

31 Juli 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.