MOJOKHidup jadi anak kos seringkali dianggap sebagai perayaan akan kebebasan. Bebas lepas dari pengawasan orang tua. Maka mencari kos bebas tanpa kekangan induk semang seringkali jadi pilihan.

Ketika teman-teman saya banyak mencari kos tanpa induk semang di Yogyakarta, saya justru sebaliknya. Prinsip saya tidak berubah, saya harus kos yang ada induk semangnya, yang ada bapak/ibu kosnya. Alasannya, sama dengan teman-teman yang mencari kos bebas, merayakan kebebasan versi saya.

Mencari kos seperti yang saya inginkan ternyata tidak mudah. Saya bertanya pada kakak kelas tentang kos di Jogja yang ada induk semangnya. Tentu teman-teman saya heran mendengarnya.

Meski bukan hal yang mudah untuk mencari, tapi saya yakin ini bukan sesuatu yang mustahil. Setelah berhari-hari jalan kaki menyusuri gang demi gang di kawasan Pogung Dalangan. Saya menemukannya. Sebuah keluarga yang beranggotakan tiga orang. Sepasang suami istri yang jual gorengan dan seorang nenek yang bekerja sebagai dukun pijat bayi.

Hanya ada satu kamar di rumah itu yang diperuntukan untuk anak kos. Proses negosiasi tidak berlangsung alot. Kos bebas 24 jam. Itu syarat yang saya minta. Maksudnya, saya bebas pulang dan pergi ke kos tanpa batasan jam. Privilege itu saya dapatkan tanpa diskusi alot seperti kos-kos sebelumnya.

Sebut saja namanya Mbah Marto. Usianya mungkin sekitar 60-an. Sosoknya adalah pengambil keputusan di rumah tersebut. Ibu kos yang penuh pengertian. Beliau tidak bertanya kenapa saya minta kos bebas yang jam pulang dan pergi kos bisa 24 jam.

Baca juga:  Stereotip Nggak Perlu yang Dilekatkan pada Orang Bercadar

Saya justru yang menggebu menjelaskan alasannya. Saya bilang bahwa saya akan aktif di kegiatan kampus yang jam pulangnya nggak tentu.

Entahlah, mungkin ibu kos menilai di masa depan saya akan jadi pejabat pemerintah atau bos BUMN sehingga mau menerima syarat yang saya minta. Layaknya sebuah kesepakatan perjanjian, ada hak dan ada kewajiban. Kewajiban saya ya hanya bayar kos tepat waktu. Deal.

Hari-hari selanjutnya adalah hari-hari menyenangkan bagi saya. Di rumah itu hanya saya yang kos. Meski tidak ada jatah untuk makan. Saya bebas menggunakan dapur.

Karena baiknya ibu kos, saya tak tega harus pulang dinihari. Takut membangunkan tidurnya yang lelap. Pilihannya adalah tidur di sekretariat teater di kampus.

Pulang pagi-pagi, saya hanya nunut mandi dan ganti pakaian. Pergi lagi ke kampus. Ibu kos hanya geleng-geleng kepala melihat begitu rajinnya saya.

Melihat saya tak pernah dikunjungi teman, ibu kos bahkan meminta saya untuk mengajak teman saya main. Tak banyak teman yang tahu lokasi kos saya. Saya tak ingin privilege saya terganggu dengan teman-teman yang datang tak mengenal waktu.

Akhirnya beberapa teman, saya beritahu lokasi kos. Mereka jadi ketagihan datang ke kos. Sebabnya, ibu kos selalu menyediakan kopi untuk kami. Saya kadang nggak enak karena baiknya beliau.

Bahkan pernah suatu kali, ketika teman saya datang, ibu kos sampai menyembelih seekor ayam kampung peliharaannya. Katanya daripada nakal, disembelih saja. Jadi menu makan malam saya dan teman yang datang menginap.

Baca juga:  Santai, Kita Semua Bisa Punya Privilege Kok

Di akhir bulan, ada di kos-kosan adalah pilihan tepat. Setiap malam menjelang, ibu kos akan mengetuk pintu kamar.

“Mas Agung, mau gorengan mboten?” tanya ibu kos dari balik pintu.

Untuk anak kos yang jatah bulanannya kadang habis sebelum akhir bulan, ini adalah privilege. Kemewahan. Bagi saya kos dengan induk semang atau ibu kos adalah merayakan kebebasan dari rasa lapar.

BACA JUGA : Cari Kos Bebas Nggak Berarti Mau Berbuat Maksiat, Bosku!  dan tulisan Agung Purwandono lainnya.