MOJOK.CO Memangnya kita harus segitunya mendewakan cowok beli pembalut, ya? Menolong cewek menstruasi ini, kan, sudah menjadi perkara solidaritas kemanusiaan!

Kakak saya pernah meminta tolong dibelikan testpack di apotek. Saya bilang, “Oke,” tapi saat masuk ke apotek, saya baru merasakan tantangannya: grogi.

Ya gimana lagi; saya belum menikah, saya nggak pakai cincin kawin. Mengambil testpack dan pergi ke kasir hanya membuat saya membayangkan mbak-mbak apotek bakal mengira saya akan menggunakan testpack itu sendiri padahal saya belum menikah. Belum-belum, saya sudah takut bakal di-judge.

Perasaan grogi tadi muncul tentu saja karena saya baru pertama kali beli testpack. Kalau kamu nonton Dua Garis Biru, kamu tentu juga lihat betapa tokoh Bima dan Dara merasa awkward dan malu banget pas mau beli testpack. Kenapa? Ya karena malu.

Tapi, tes kehamilan kan baru akan dilakukan saat seseorang masuk ke usia tertentu. Nyatanya, ada barang lain yang selalu bakal lebih dibutuhkan cewek sejak usianya masuk ke usia puber: pembalut.

Setiap bulan, “tamu” itu datang dan dengan “seenaknya” memberikan sensasi rasa yang campur aduk. Kadang, saking sakit dan nggak jelasnya mood kala kedapatan “tamu”, kita butuh bantuan seseorang untuk membelikan pembalut kalau-kalau stok di rumah sudah menipis atau kita terserang “tamu” mendadak. Seseorang ini bisa beragam: kakak, adik, sahabat, tetangga, sampai pacar.

Dalam keadaan inilah, Saudara-saudara, muncul fenomena…

…cowok beli pembalut!!!!11!!1!!!

Tunggu, tunggu—is that even that special?

Seorang netizen membagikan video seorang cowok beli pembalut, disertai tulisan sebagai berikut:

Pertanyaannya, apakah narasi yang menyertai vieo itu beneran terjadi? Bahwa di dunia ini sekarang hanya ada 1 dari 1.000 cowok yang mau pergi ke warung dan membeli pembalut untuk cewek yang sedang menstruasi.

Duh, kayaknya nggak, tuh.

Perbandingan 1:1000 adalah angka yang cukup besar. Nyatanya, saya punya-punya aja tuh kenalan cowok beli pembalut. Adik saya, misalnya, dia tetap manut waktu saya mintai tolong, bahkan dia sampai googling foto pembalut dulu agar lebih yakin.

Teman cowok saya tak kalah baiknya. Waktu saya sudah sampai kantor duluan dan perut melilit luar biasa karena tamu bulanan, dia nggak keberatan saat saya mintai tolong untuk membeli pereda nyeri yang nama mereknya sudah sangat identik dengan menstruasi cewek.

Pembalut menstruasi memang cuma dipakai cewek. Hal inilah yang mungkin membuat fenomena cowok beli pembalut jadi agak “luar biasa” buat sebagian orang.

Tapi, ayolah, memangnya kita harus segitunya mendewakan cowok beli pembalut, ya?

Menolong cewek menstruasi ini, kan, sudah menjadi perkara solidaritas kemanusiaan. Kalau ada yang butuh bantuan, ya dibantu. Sama halnya kalau teman kita jatuh dan berdarah, pasti kita tergerak untuk memberinya tisu atau pembalut luka, kan?

Lagi pula, ada banyak hal yang lebih bisa dibanggakan dari cowok, kok, dan ini bukan cuma perkara cowok beli pembalut. Maksud saya, memangnya kamu yakin kamu mau “disisain” cowok yang oke-oke saja membeli pembalut, tapi ternyata pelaku abusive yang menyebalkan?

Saya, sih, jauh lebih bangga kalau punya kekasih yang mau sama-sama berjuang bareng saya—bukan sekadar mau dimintai tolong beli pembalut. Toh, kita bisa minta tolong driver ojek online untuk membeli pembalut, tapi tidak dengan berjuang bersama-sama mempertahankan komitmen berdua~

BACA JUGA Kualitas Pembalut Inggris yang Nggak Ada Seupil-upilnya dari Pembalut Indonesia atau tulisan Aprilia Kumala lainnya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles