MOJOK.CO Saya rasa, kegiatan membanding-bandingkan adalah langkah awal paling sukses yang bakalan membuatmu nggak bisa duduk tenang.

Kemarin saya jadi bridesmaid. Meski nggak sepenuhnya setuju dengan “budaya” yang satu ini, saya tetap datang ke pernikahan sahabat saya, mengenakan seragam yang sudah disepakati.

Hal paling menarik saat menjadi bridesmaid, bagi saya, adalah saat didandani oleh MUA yang sudah disewa oleh pengantin. Dasar perempuan, yang namanya berdandan pasti sedikit banyak menimbulkan perasaan excited: bakal kayak apa ya nanti setelah ditempelin foundation, bedak, eyeshadow, dan lain-lain???

Tapi, bridesmaid itu nggak cuma satu. Malam itu saya berdampingan dengan 5 orang lainnya. Seluruhnya adalah sahabatnya sahabat saya dan—ini yang penting—tampak sangat menawan setelah selesai didandani dan dipakaikan gaun berwarna merah muda.

Lima menit sebelumnya, waktu lagi ngaca, saya agak terpesona sama diri sendiri. Lima menit kemudian, langsung ambyar. Banyak sekali perbandingan yang mendadak muncul di kepala: kenapa kerudung saya nggak bisa serapi kerudung punya dia? Kenapa badannya terlihat lebih tinggi pakai gaun, sedangkan saya malah tampak kian pendek? Kenapa warna kain kombinasi di gaun yang dia pakai lebih cocok dan menarik, dibandingkan dengan kain yang saya pilih?

Perbandingan, Saudara-saudara, saya rasa, adalah langkah awal paling sukses yang bakalan membuatmu nggak bisa duduk tenang.

Nggak ada manusia di dunia ini yang suka dibanding-bandingkan. Waktu masih jadi anak-anak, misalnya, apakah kamu familier dengan perasaan dibandingkan?

Baca juga:  Fan Fiction Ayat-Ayat Cinta: Cinta Fahri yang Aya-Aya Wae

Saya pernah dongkol setengah mati waktu orang-orang dewasa membanding-bandingkan saya dengan sepupu yang sebaya. Prestasi kami dibandingkan dan—terakhir—kami dikomparasi karena dia berhasil menikah tahun lalu, sementara saya malah putus cinta untuk yang ketiga kalinya. Haha.

Serius deh—membandingkan diri sendiri saja sudah mengerikan, apalagi dibanding-bandingkan oleh orang lain?

Tapi, perbandingan memang nggak bisa dihindari. Bagaimanapun juga, kita terbiasa melihat orang-orang di sekitar kita untuk membuat batasan bagi diri sendiri. Maksud saya, nggak sedikit orang yang bercita-cita menjadi influencer kaya raya agar bisa sedermawan Awkarin, kan? Membanding-bandingkan diri sendiri atau orang lain pada suatu sosok nggak bakalan jadi masalah kalau kita tahu apa yang harus dipahami berikutnya.

Manusia adalah makhluk yang unik. Kembali ke contoh tadi, kalau kita ingin bisa menjadi influencer kaya seperti Awkarin, apakah seluruh langkah hidup Awkarin harus kita lakukan? Apakah semuanya bakal cocok kita lakukan?

Tentu saja nggak, Maliiiiih!

Tujuan kita, pada kasus ini, adalah menjadi seperti Awkarin, bukan menjadi Awkarin. Jalan menuju goals tadi pun bisa beragam; mungkin kamu bisa jualan jersey sepak bola, buka jasa terjemahan lepas, jadi penyanyi di kafe, buka kedai ramalan tarot, dan lain sebagainya. Ingat, perjalanan ini bisa jadi bakal sangat berbeda dengan orang lain.

Dan, tentu saja, nggak akan ada artinya kalau perjalanan yang berbeda ini kemudian dibanding-bandingkan hanya karena tujuannya terlihat sama.

Baca juga:  Apakah Membandingkan Redmi 5A dan Samsung J1 Ace Adalah Tanda Samsung Mulai Panik?

Sederhananya, mengutip Thought Catalog, ingat-ingatlah bahwa we all need to realize that we were created to be completely unique, and we are supposed to all look different and be good at different things.

Sekali lagi: We are supposed to all look different and be good at different things.

Lagian, daripada membanding-bandingkan orang lain, memangnya kamu nggak punya kerjaan lain apa? Mengapresiasi orang-orang yang sudah berusaha sesuai caranya sendiri-sendiri, misalnya?

BACA JUGA Selain Minum Starbucks, Harusnya yang Suka Membandingkan Anak Juga Masuk Neraka atau artikel Aprilia Kumala lainnya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles