Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Buat Apa Ingin Menjadi Dewasa, Padahal Itu Menyebalkan?

Aprilia Kumala oleh Aprilia Kumala
9 April 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Nyatanya, menjadi dewasa tidak semulus kulit wajah yang harus dikenai skincare berlapis-lapis. Percaya, deh, proses ini sungguh menyebalkan!

Konon, di masa SMA, perempuan yang sedang jatuh cinta akan lebih mudah berbahagia (setidaknya, sih, waktu dulu). Pisang hijau di depan sekolah, warung makan lima ribuan, film terbaru di bioskop, pasang foto berdua di medsos—hal-hal kecil inilah yang kemudian membuat hati berbunga-bunga.

Iklan

Dibandingkan umur saya yang kini berkepala dua, love life memang terasa sekali bedanya. Apalagi, perempuan itu memang aneh. Waktu SMA, waktu pacar belum kerja, waktu pacar belum kepikiran nikah, waktu pacar belum ngelamar, nggak ada masalah, tuh. Katanya, “Aku tetep sayang kamu.”

Hahaha. Saya ketawa dulu, ya. Dari bidang percintaan saja, kisah asmara masa muda terbukti jauh lebih menyenangkan (meski kadang sedikit naif) dibanding masa-masa menjadi dewasa.

Nyatanya, menjadi dewasa tidak semulus kulit wajah yang harus dikenai skincare berlapis-lapis. Lagi-lagi soal cinta, ketika sudah menjadi dewasa, segalanya ikut-ikutan berubah, termasuk orientasi dan pikiran soal masa depan. Beberapa temanmu sudah menikah dan momong anak, kariermu cemerlang, orang tua semakin menua, hati sudah mantap dengan si pacar, eh tapi nggak ada kemajuan apa-apa… lalu ngambek. Katamu, “Kamu nggak bisa komitmen.”

Saya pribadi mengalami proses “menjadi dewasa” pada saat berusia 24 tahun dan, sejak saat itu, saya sadari hidup saya—perihal asmara—langsung jungkir balik nggak ketulungan.

Dari naik-turunnya percintaan ini, saya—dan mungkin kamu atau perempuan-perempuan lainnya—lalu mengukir sifatnya sendiri. Kita-kita yang kesepian lalu mencari pelampiasan yang beragam: jalan-jalan, beli lipstik, nonton oppa, nyanyi, cari gebetan baru, bahkan belajar. Yang jelas, perempuan itu bisa segera memaafkan luka, tapi selamanya ia akan ingat bagaimana sakit hati yang dirasakan dulu. Jadi, kalau kita bertemu mantan kekasih bertahun-tahun kemudian, mungkin saja kita akan mengenalinya sebagai “oh-ini-cowok-yang-dulu-nyelingkuhin-saya-sama-sahabat-saya-sendiri” walaupun hubungannya sudah berubah cukup baik.

Iya, saya ulang sekali lagi: walaupun hubungannya sudah berubah cukup baik. Ingat, kita sedang bicara soal “menjadi dewasa”.

Menjadi orang dewasa adalah proses memaafkan yang berkali-kali lipat, baik memaafkan diri sendiri maupun orang lain. Seperti yang saya singgung di atas, sangat mungkin bagi kita (hah kita???) buat ketemu mantan dan bisa haha-hehe sampai berjam-jam lamanya, meski saat itu kita masih sedikit merasa nyeri di hati, baik karena masih sayang maupun masih sakit hati.

Itu, Sayangku, adalah bagaimana kamu bisa mengajak dirimu sendiri untuk bersikap dewasa dan tidak kekanak-kanakan. Pada masa ini, kamu mengerti bahwa mantanmu adalah manusia yang sama seperti kamu dan kamu tak punya kuasa apa pun untuk memaksanya meminta maaf sampai akhir hidupnya ataupun untuk memperbaiki hubungan kalian yang sudah luluh lantak.

Padahal, kalau itu terjadi saat kamu masih SMA, bisa saja kamu langsung kabur dari mantanmu dan menggelar forum curhat bersama cewek-cewek kelas sebelah selepas istirahat. Lah sekarang, boro-boro menggelar forum—WhatsApp dibalas “Ada apa?” sama temanmu saja sudah alhamdulillah, saking sibuknya dia dengan pekerjaan atau kekasihnya sendiri!

Ya, ya, ya, saat menjadi dewasa, masalah-masalah yang dulu kita hadapi saat masih remaja mendadak berubah menjadi badai yang lima puluh kali lebih besar, meski kadang-kadang terasa jauh lebih remeh dibanding kelihatannya. Waktu dulu, kita sering berandai-andai “Kayaknya enak jadi orang dewasa, usianya sudah 25, punya pekerjaan sendiri, bisa beli baju apa pun, bisa dandan seperti apa saja, berkencan dengan pria yang jelas, dan tidak perlu repot memikirkan tes masuk universitas,” sementara kenyataannya jauh lebih menyebalkan daripada itu.

Teman kita masih banyak, tapi hanya sedikit sekali yang benar-benar meluangkan waktu untuk bertemu. Pekerjaan di kantor tiba-tiba menjadi porsi pikiran yang lebih besar, bersamaan dengan tagihan uang kos dari ibu kosan setiap awal bulan.

Bukankah ini berbeda dengan masa-masa SMA, di mana masalah hidup kita yang terbesar hanyalah perihal remidi ulangan Biologi dan tunjuk-tunjukkan menjawab pertanyaan saat selesai mempresentasikan tugas kelompok Sejarah??? Utang teman pun paling besar hanya tujuh ribu lima ratus untuk membayar semangkuk bakso di kantin, bukan nominal sampai berjuta-juta yang pengembaliannya saja belum bisa dipastikan kapan!

Percaya, deh, menjadi dewasa itu menyebalkan. Kamu nggak bisa bangun pagi dan merasa gembira bakal ketemu sahabatmu di kelas hari ini, soalnya sahabatmu sekarang sudah menikah dan punya tiga orang anak yang membuatnya bakal kerepotan kalau kamu tiba-tiba meneleponnya hari ini. Kamu juga nggak bisa berharap dijemput pacarmu ke sekolah, karena kamu baru saja putus beberapa bulan lalu dan harus menghadapi kenyataan bahwa kepalamu terus memutar anxiety yang sama gara-gara pertanyaan “Kapan nikah?” yang semakin sering kamu dapat.

Kesedihan menjadi orang dewasa tentu berbeda-beda untuk masing-masing orang. Mungkin, sekarang kamu sedang pusing memikirkan utang, tekanan pekerjaan dari atasan, mantan yang meneror, krisis kepercayaan gara-gara diselingkuhi, orang tua yang pensiun dan berubah jadi suka merengek, adik-adik yang tengah mengalami masa pubertas dan merepotkan—tapi yang jelas, ada satu hal yang harus kamu tahu, yaitu…

…hal-hal ini terjadi pastilah karena Tuhan merasa kamu sudah cukup dewasa untuk menghadapinya.

Jadi, jangan menyerah, ya!

Terakhir diperbarui pada 25 September 2025 oleh

Tags: Mantanmasa SMAmenjadi dewasapekerjaanpubertasPutus Cinta
Aprilia Kumala

Aprilia Kumala

Penulis lepas. Pemain tebak-tebakan. Tinggal di Cilegon, jiwa Banyumasan.

Artikel Terkait

7 Ciri Pimpinan yang Menjengkelkan dan Tidak Profesional | Semenjana Eps. 10

7 Ciri Pimpinan yang Menjengkelkan dan Tidak Profesional | Semenjana Eps. 10

3 April 2025
Kapankah Saat yang Tepat untuk Putus Cinta? | Semenjana Eps. 6

Kapankah Saat yang Tepat untuk Putus Cinta? | Semenjana Eps. 6

3 Maret 2025
Kapan Saatnya Keluar dari Pekerjaan? | Semenjana Eps. 1

Kapan Saatnya Keluar dari Pekerjaan? | Semenjana Eps. 1

13 Februari 2025
Mentorship Club: Jalan Keluar Bagi Kalian yang Lagi Bingung Cari Solusi Masalah Karier.MOJOK.CO

Mentorship Club: Jalan Keluar Bagi Kalian yang Lagi Bingung Cari Solusi Masalah Karier

23 September 2024
Mereka yang Disuruh Putus Orang Tua Pacar karena Bukan Mahasiswa: Sakit, tapi Tak Perlu Repot-repot Kasih Pembuktian MOJOK.CO lebaran

Cerita Pilu 2 Pria yang Hubungannya Kandas Menjelang Lebaran, Ada yang Bawa-bawa Agama dan Dianggap Tak Punya Masa Depan!

9 April 2024
Sinar Jaya, Sleeper Bus Saksi Gagal Menikahi Mantan MOJOK.CO

Sleeper Bus Sinar Jaya Sukses Membangkitkan Kenangan Pahit Setelah Saya Gagal Menikahi Mantan

20 Maret 2024
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Jombang makin kegilaan karnaval sound horeg: battle audio tengah malam, atraksi lampu jadi perburuan baru MOJOK.CO

Jombang Makin “Kegilaan” Sound Horeg: Battle Audio Tengah Malam, Atraksi Lampu Jadi Tren Kalcer Baru

23 Agustus 2026
Ta'awun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga.MOJOK.CO

Taawun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga

19 Agustus 2026
Fikih Hijau ala Masjid Walidah Dahlan UNISA Yogyakarta. MOJOK.CO

Fikih Hijau ala Masjid Walidah Dahlan UNISA: Masjid sebagai Mercusuar Peradaban dan Konservasi Lingkungan

22 Agustus 2026
InJourney Bangun Rumah Layak Huni bagi Warga Kalasan, Wujud Kepedulian kepada Warga di Sekitar Destinasi Wisata.MOJOK.CO

InJourney Bangun Rumah Layak Huni bagi Warga Kalasan, Wujud Kepedulian kepada Warga di Sekitar Destinasi Wisata

18 Agustus 2026
Lansia menjual aksesori kemerdekaan di Malioboro, Yogyakarta. MOJOK.CO

Kisah Istri Pensiunan BPN Turun ke Jalanan untuk Jual Aksesori Kemerdekaan di Masa Tua demi Hadiahkan Cucu

18 Agustus 2026
Honda Beat adalah motor paling boring di indonesia MOJOK.CO

Honda Beat adalah motor paling boring di indonesia tapi justru karena itu saya sayang banget sama motor ini

18 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026
Bukan Sekadar Beternak Karang Taruna Bono dan Upaya Menghidupkan Ekonomi Warga

Dari Ternak untuk Desa: Geliat Karang Taruna Bono Menghidupkan Ekonomi Warga

31 Juli 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.