MOJOK.CO Definisi ‘harga teman’ sering banget jadi bahan salah paham. Saat teman sedang menjalankan usaha, sebenarnya kalian perlu dukung, bukan malah cari-cari untung.

Dulu saya selalu bahagia kalau punya teman yang jualan. Entah jual baju, buku, bahkan barang-barang lucu. Pikir saya selalu licik untuk suatu waktu minta kortingan andainya saya butuh belanja barang. Kayaknya nggak mungkin juga mereka nggak kasih harga teman.

Sementara itu, keadaan membawa saya pada sebuah aktivitas iseng jualan online yang nekat saya kelola bareng seorang teman di bangku kuliah. Jujur aja, waktu itu kami butuh tambahan uang buat ngopi dan jajan.

Usaha saya itu berjalan lumayan baik. Salah satu triknya adalah dengan mengorbankan diri untuk ambil untung sedikit asal dikenal pelanggan sebagai toko online yang jualin barang murah-murah. Tapi konsekuensinya adalah, saya dan kawan saya nggak cepat kaya karena laba kami lambat terkumpul.

Di tengah perjuangan menaikkan penjualan, tiba-tiba kawan saya yang lain tahu kalau saya lagi punya usaha. Dia memaksa untuk lihat-lihat barangnya, yang mana itu adalah beberapa tunik dan baju cewek produksi Bandung. Singkat cerita kawan saya senang sama barangnya dan pengin ikutan beli.

Dalam hati saya mak dhegGimana nih kalau dia nawar, gimana kalau dia minta HARGA TEMAN duh untung pun belum seberapa. Masalahnya dalam posisi seperti ini, saya cenderung lebih nggak enakan jika nggak memberi harga spesial. Walau terbersit perasaan senang karena kawan saya turut peduli buat ngelarisin tapi ada nestapa di balik itu semua.

Baca juga:  Indonesia Tidak Krisis, Malah Sedang Optimistis

Ini adalah dilema kosmis.

Sebenarnya sah-sah saja meminta harga teman, walau kadang pertemanan nggak seharusnya dijual. Niat untuk ikutan ngelarisin dagangan adalah sebuah kebaikan yang patut diapresiasi. Sayangnya watak manusia memang suka bar-bar. Niat baik begini dibarengi logika remoook kalau harga teman itu artinya harus diskon, harus lebih murah, dan harus dengan pelayanan spesial.

Definisi harga teman itu bukan berarti sama dengan diskon. Tidak ada yang memberikan patokan soal  harusnya lebih murah atau lebi mahal. Tapi kalau kalian memang tipe teman yang baik, tentu kalian akan kasih harga lebih untuk teman. Bukankah pertemanan itu saling menghargai?

Nah, maka ketika teman kalian jualan baju seharga Rp185 ribu rupiah, kalian harusnya nggak menawar untuk bisa memboyongnya dengan uang Rp150 ribu.  Malah seharusnya kalian nggak minta kembalian saat membayar dengan uang Rp200 ribu. Ini namanya saling menghargai.

Ada pun jika kawan kalian justru kasih kembalian Rp50 ribu, meski sambil malu-malu mau ya sudah terima sajalah. Berarti saat itu teman kalian sedang berupaya menghargai pertemanan dengan memberikan diskonan. Keren sekali kan, berlomba-lomba dalam kebaikan. Mantap!

Untuk itu, kehadiran istilah harga teman sebenarnya sangat saya dukung. Tapi tentu dengan pemahaman yang nggak bikin salah paham. Harga teman itu boleh diberikan, dan justru dianjurkan. Tapi sangat diimbau untuk tidak diminta. Karena pada intinya ini bukan ajang cari untung vs diskonan antara penjual vs pembeli.

Baca juga:  Kapan Saatnya Keluar dari Pekerjaan?

Memintanya dengan paksa bisa bikin temanmu sendiri bete, bahkan dia lama-lama nggak akan kuat berteman karena suka dimintain diskonan. Tapi harga teman perlu diberikan, baik olehmu yang sedang mendukung usaha temanmu atau olehnya yang sedang menghargai dukunganmu.

Pertemanan itu memang mahal harganya maka harga teman itu artinya harga yang mahal. Kalian mungkin sekarang masih bisa santai-santai dan menganggap tulisan ini cuma kelakar yang nggak berimbas apa-apa. Tapi ingat kawan, akan ada masanya kalian merasakan. Hingga kalian menyadari bahwa betapa kekinya dimintain request diskonan dengan dalih pertemanan. Teman kok malah ngerugiin.

Mulai sekarang kalau ada yang minta harga teman, saran saya, mahalin aja. Sakpole! 

BACA JUGA Perkara-perkara yang Membuat Kita Susah BAB atau artikel lainnya di POJOKAN.