Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Daya Dukung Sosial dari Kawan dan Follower Media Sosial Membantu Saya Sekeluarga Pulih dari Covid-19

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
1 Juli 2021
A A
covid-19

ilustrasi Apa yang Tidak Boleh dan Boleh Dilakukan Saat Penerapan PPKM Darurat 3-20 Juli 2021 mojok.co

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Terpapar Covid-19 benar-benar menjadi tantangan tersendiri bagi saya dan keluarga. Kami bisa melewatinya dengan bantuan daya dukung sosial dari kawan dan follower media sosial.

Dengan kondisi penanganan pandemi yang buruknya ngaudubillah setan ini, saya memang sudah membayangkan bahwa kelak saya akan terpapar juga oleh Covid-19. Namun ketika hal tersebut benar-benar terjadi, saya ternyata tak bisa bersikap setegar, sekuat, dan sesiap yang saya pikir sebelumnya.

Awalnya adalah bapak mertua saya. Setelah sempat dirawat beberapa hari di ruang perawatan rumah sakit karena stroke, ayah mertua saya itu akhirnya mendapatkan jatah tindakan DSA sebagai bagian dari perawatan strokenya. Namun, apa mau dikata, tepat dua jam sebelum tindakan DSA itu dilakukan, bapak saya ternyata diketahui terpapar Covid-19.

Tindakan DSA urung dilakukan. Sebagai gantinya, ia harus menjalani isolasi di ruang isolasi rumah sakit dengan ditemani oleh istri saya.

Kelak, hal tersebut menjadi awal cobaan bagi keluarga kami. Yang awalnya hanya bapak mertua, kemudian merembet kepada ibu mertua, kakak ipar, dan juga saya sendiri. Kami semua melakukan tes dan ternyata dinyatakan positif.

Saya sempat membayangkan apa saja yang akan saya lakukan seandainya saya positif, dan hal pertama saya terpikir untuk melakukannya adalah mengatakan joke lawas itu: “Minimal ada yang positif dalam hidup saya.” Namun setelah saya benar-benar punya hak untuk mengatakan joke itu, ternyata saya tak sanggup untuk mengguyonkan cobaan ini. Sial.

Pada akhirnya, dimulailah masa isolasi satu keluarga itu. Terpapar Covid-19 benar-benar hal yang amat menyebalkan. Bukan melulu karena kami menjadi tampak lemah (dan memang benar-benar lemah), namun juga kebosanan yang sungguh tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Hanya berdiam diri di dalam rumah berhari-hari dengan aktivitas yang itu-itu saja.

Kelak, saya menyadari bahwa, dari sekian banyak orang yang ketiban “apes” karena terpapar Covid-19, saya dan keluarga saya termasuk yang cukup beruntung.

Kami punya daya dukung sosial yang amat baik dari kawan-kawan dan juga para follower saya dan istri di baik di dunia nyata maupun media sosial. Hal yang tak bisa saya mungkiri turut membuat saya dan keluarga cepat sembuh dari Covid-19.

Ketika saya dan keluarga kena Covid-19, saya sempat menganggap betapa berat cobaan ini. Wong ya bapak mertua sedang dirawat, kok sekarang malah giliran anggota keluarga yang lain. Sudah itu, barengan pula. Klop. Benar-benar kekompakkan yang tidak pada tempatnya.

Namun, dukungan yang hadir melalui pesan singkat maupun media sosial benar-benar menguatkan dan menenangkan saya dan keluarga.

Ketika saya mengabarkan bahwa saya dan keluarga terpapar Covid-19 dan harus menjalani isolasi mandiri, tak terhitung doa dan dukungan yang mampir untuk kami. Doa yang ribuan jumlahnya itu sungguh membuat saya merasa tak sendiri. Saya merasa ditemani. Kami merasa sedang berbagi derita.

Kawan-kawan dekat saya yang tinggal tak jauh dari rumah langsung membuat grup konsolidasi untuk membantu kebutuhan logistik keluarga kami. Mereka menyuplai kebutuhan buah-buahan, sayur, air minum, obat-obatan, dan aneka kebutuhan-kebutuhan lainnya.

Banyak kawan online, yang kami bahkan belum pernah berjumpa langsung dengannya, mengirimkan aneka suplemen untuk kami.

Iklan

Saking seringnya kiriman itu datang, kami sampai berada di fase “surplus” suplemen. Kami mendapatkan banyak kiriman madu, kapsul suplemen berbagai jenis, vitamin berbagai merek, serta herbal-herbal lainnya. Hal yang membuat saya merasa amat sangat dicintai oleh kawan-kawan kami.

Kawan-kawan saya yang lain berlomba-lomba mengirimkan saya banyak sekali meme-meme serta video-video lucu. Saya dan keluarga saya benar-benar amat dimanjakan oleh kawan-kawan media sosial kami.

Ketika bapak mertua saya terancam kehabisan oksigen karena pasokan oksigen di Jogja habis akibat meledaknya Covid-19, tak terhitung berapa banyak kawan yang langsung menghubungkan kami dengan penyedia oksigen terdekat.

Sungguh, banyak sekali dukungan yang saya dapatkan

Itu pula yang, saya yakini, turut membuat imun saya naik sehingga pemulihan saya berlangsung dengan cukup cepat.

Saya merasakan betul betapa daya dukung sosial dari lingkungan amat sangat membantu saya dan keluarga untuk pulih.

Saya hampir tak pernah amat mensyukuri keberadaan kawan atau follower yang banyak, namun di masa pandemi ini, barulah saya sadari, betapa mereka, amat sangat berharga.

Kini, masa isolasi kami sudah selesai. Kami sekeluarga sudah dinyatakan negatif. Dan saya serta istri masih terus mensyukuri nikmat kawan-kawan yang baik dan follower yang penuh kepedulian di akun media sosial kami.


BACA JUGA Anak yang Dipaksa Durhaka oleh Orang Tuanya dan artikel AGUS MULYADI lainnya. 

Terakhir diperbarui pada 2 Januari 2026 oleh

Tags: COVID-19Daya Dukung Sosialfollowerkawan
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

Z sarjana ekonomi di Undip. MOJOK.CO
Kampus

Apesnya Punya Nama Aneh “Z”: Takut Ditodong Tiba-tiba Saat Kuliah, Kini Malah Jadi Anak Emas Dosen di Undip

27 November 2025
Naik Kereta Api di Jogja Tak Harus Gunakan Masker Lagi. MOJOK.CO
Kilas

Naik Kereta Api di Jogja Tak Harus Gunakan Masker Lagi

13 Juni 2023
Kritik untuk Jogja Sebuah Cinta yang Tidak akan Kita Menangkan MOJOK.CO
Esai

Kritik untuk Jogja: Sebuah Cinta yang Tidak akan Kita Menangkan

7 Juni 2023
KTR Malioboro.MOJOK.CO
Kilas

Kasus Covid-19 di DIY Meningkat Tajam, Segera Vaksinasi Masyarakat Berisiko Tinggi

2 Mei 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jogja macet saat mudik Lebaran

Sebagai Warlok, Saya Tidak Sedih karena Tak Bisa Mudik tapi Jengkel Satu Indonesia Pindah ke Jogja

9 Maret 2026
Sarjana Ekonomi pilih berjualan ayam penyet

Sarjana Ekonomi Pilih Berjualan Ayam Penyet, Sempat Diremehkan Banyak Orang, tetapi Bisa Untung 3x Lipat UMR dan Kalahkan Gaji Pekerja Kantoran

9 Maret 2026
Rasa Sanga (5): Docang, “Makanan Orang Susah” yang Lekat dengan Ajaran Rendah Hati Sunan Gunung Jati di Cirebon.,MOJOK.CO

Rasa Sanga (5): Docang, “Makanan Orang Susah” yang Lekat dengan Ajaran Rendah Hati Sunan Gunung Jati

9 Maret 2026
Lepas status WNI dan paspor Indonesia, hidup lebih mudah usai pindah kerja di Jerman MOJOK.CO

Lepas WNI karena Hidup Serba Susah dan Nelangsa di Indonesia, Hidup Jadi Lebih Mudah usai Pindah ke Jerman

10 Maret 2026
Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Anak pulang ke rumah dari perantauan ditunggu, tapi justru sakiti dan beri duka karena sepelekan masakan ibu MOJOK.CO

Anak Pulang Justru Lukai Hati Ibu: Pilih Makan di Luar dan Sepelekan Masakan Ibu karena Lidah Sok Kota-Banyak Gaya

11 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.