MOJOK.COBanyak perilaku dan kebiasaan manusia yang sebenarnya bersifat fungsional, tapi mengalami pendalaman makna. Lantas jadi bawa-bawa atas nama agama.

Dalam sebuah karyanya yang sangat menarik (introductory tapi begitu komprehensif) tentang agama dan politik (2018), ilmuwan politik Jonathan Fox mengatakan bahwa agama adalah fenomena dan institusi sosial yang sangat memengaruhi perilaku.

Ini tentu bukan argumen yang mengejutkan. Semua orang juga paham bahwa agama sangat memengaruhi perilaku manusia. Tapi Fox juga mengingatkan bahwa seringkali agama berfungsi—terutama—untuk memberi legitimasi perbuatan manusia.

Perang, misalnya, sebenarnya sangat jarang yang terjadi karena benar-benar alasan agama. Tapi agama kerap memberi pembenaran atas perang yang terjadi. Di situlah kita seolah melihat perang atas nama agama. Padahal bukan.

Tak hanya urusan perang yang memperoleh pembenaran dengan bawa-bawa agama, dalam tindakan sehari-hari, banyak hal yang sebenarnya didasari oleh pilihan-pilihan rasional yang sekular, namun banyak orang membutuhkan alasan relijius terhadap tindakannya.

Dengan memberi alasan relijius, seseorang bisa meletakkan tindakannya dalam sebuah kebenaran universal. Tindakan itu tak akan terasa sendirian. Si pelaku yakin bahwa ada orang-orang lain yang juga melakukannya. Minimal, ada orang lain yang akan membenarkannya.

Pertanyaannya: mengapa itu penting?

Sebab manusia pada dasarnya takut sendirian. Hanya orang-orang dengan keberanian tinggi yang berani melawan arus, memutuskan pilihan-pilihannya secara independent. Kebanyakan manusia butuh melakukan tindakan secara beramai-ramai.

Ada orang yang harus menentukan pilihan atas kandidat dalam pilkada atau pilpres—misalnya, tapi tak paham apa program kandidat itu. Ada orang yang suka pada kandidat tertentu—contoh yang lain, tapi tak tahu cara menjelaskan yang rasional, apa kelebihan kandidat itu.

Orang-orang seperti itu dengan sangat mudah bisa menemukan pembenaran lewat agama. “Oh, kandidat ini adalah Islam moderat,” atau, “kandidat yang ini lebih saleh.”

Kali lain: “Pilih ini saja, dia sedang ditindas oleh kelompok radikal,” atau, “mending yang ini saja, seiman.”

Semua sama saja, meski nuansanya berbeda. Sama-sama bawa-bawa agama sebagai legitimasi tindakan politik.

Tak hanya tindakan politik. Banyak sekali tindakan manusia yang sebenarnya bersifat fungsional, tapi mengalami pendalaman makna karena harus bawa-bawa agama. Tindakan yang sebenarnya sangat profan, menjadi sakral karena diberi nilai agama. Mari kita lihat dua contoh saja (bisa minimal empat kalau mau, tapi nanti tulisan ini terlalu panjang).

Baca juga:  Bisnis Baru: Ajakan Beramal yang Ekstrem

Pertama, busana. Dalam urusan berbusana, manusia sebenarnya sangat fungsional. Busana adalah upaya manusia untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Hewan punya mekanisme fisiologis yang canggih untuk menyesuaikan dengan pergantian musim. Tapi manusia tidak tidak secanggih hewan untuk urusan itu.

Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah karena manusia berpindah jauh lebih kencang daripada kecepatan evolusi-nya. Itu menyebabkan tubuh manusia tak terlalu mampu menyesuaikan diri dengan perubahan iklim di luar. Untuk mengatasinya, manusia memakai busana.

Konon, manusia sudah mengenal busana setidaknya sejak 100.000 tahun yang lalu. Dalam bukunya yang berjudul Prehistoric Textiles (1991), Barber menulis bahwa manusia sudah mulai mengenal kain seperti yang kita kenal sekarang sekitar 5.000 SM. Itu bertarti sekitar 3.000 tahun sebelum Ibrahim.

Busana manusia pun menyesuaikan dengan kebutuhan tempat dan musim. Pada musim dan tempat yang lebih dingin atau berangin, manusia membuat busana yang lebih tertutup. Pada musim dan tempat yang lebih hangat, manusia membuat busana yang lebih terbuka. Begitulah pola umumnya.

Di tempat dengan musim yang lebih stabil, banyak tumbuhan dan lebih sedikit debu, manusia lebih leluasa menggelar rambutnya. Tapi di tempat dengan musim yang beragam, sedikit tumbuhan dan berdebu, manusia harus menutup rambutnya.

Itu semua fungsional saja. Tapi agama lalu memberi makna pada pilihan-pilihan manusia akan busananya. Cara berpakaian para pendiri agama (manapun) cenderung diidealkan sebagai busana paripurna, yang mencerminkan nilai keagamaan.

Padahal mereka mengenakan busana itu pada awalnya untuk alasan fungsional. Sebagian—malah—cuma melanjutkan kebiasaan lama di tempat kelahirannya.

Kedua, puasa. Tindakan berpantang makanan tertentu sepanjang hidup, atau berpantang semua makanan pada masa tertentu, atau kombinasi keduanya (berpantang makanan tertentu di masa tertentu), sudah lama dilakoni oleh manusia.

Pengalaman memberi pelajaran pada manusia bahwa mengelola cara makan bisa memberi manfaat besar bagi tubuh manusia. Para dokter tahu betul bahwa Hipokrates, yang kerap disebut sebagai bapak pengobatan modern, adalah orang yang menekankan betul pentingnya mengurangi makan sebagai metode penyehatan.

Baca juga:  Dilema Antara Iman dan Uang

Pada setiap peradaban, ada cerita tentang orang baik yang menghindari makan banyak, dan bahkan sama sekali tak makan dalam periode tertentu. Tujuannya adalah murni untuk penyehatan tubuh.

Tak hanya berpantang makanan tertentu, mengombinasikan makanan juga adalah metode penyehatan yang lama dikenal.

Mantan panglima perang Mesir, Musa, menerapkan pola makan khusus untuk memulihkan kekuatan fisik keturunan Israel yang dibawanya eksodus dari Mesir. Selama 400 tahun masa perbudakan oleh penguasa Mesir, keturunan Israel itu terpaksa mengalami hidup yang buruk, sehingga fisik mereka lemah.

Setelah berhasil membawa mereka pergi dari Mesir, salah satu yang ditata oleh Musa adalah cara makan. Hasilnya? Keturunan Israel dengan lekas bertransformasi menjadi salah satu manusia unggul.

Sayangnya, berpuasa tak akan syahdu kalau tak diberi muatan nilai keagamaan. Dari masa ke masa, agama institusional meromantisir puasa dan diet khusus itu sebagai nilai keagamaan. Rumus kuliner yang dibuat oleh Musa, misalnya, belakangan dikodifikasikan sebagai hukum Kashrut di agama Yahudi. Islam mengenal versi lebih nyantai bernama makanan halal.

Perintah puasa yang sampai ke orang Islam pun, sebenarnya adalah hasil meromantisir praktek berpantang makan yang terbukti membawa manfaat bagi tubuh. Al-Quran sendiri menegaskan bahwa berpuasa itu dilakukan oleh orang-orang sebelum Muhammad. Islam bukan yang pertama mewajibkan puasa.

***

Saya ceritakan dua contoh tadi untuk menegaskan bahwa: agama seringkali hadir memberi makna atas perbuatan baik yang telah terbiasa dilakukan oleh manusia.

Sebagai orang beragama yang paripurna, kita seharusnya meneruskan kebiasaan itu. Menjadikan agama sebagai pemberi makna atas kebaikan yang muncul dari sanubari. Jangan malah sebaliknya.

Jangan jadikan agama sebagai legitimasi atas tindakan buruk. Jangan bawa agama ketika Anda sedang menyakiti orang lain dan merusak peradaban. Lakukanlah perbuatan buruk itu sendirian, jangan ngajak-ngajak orang, apalagi sampai ngajak-ngajak Tuhan.

BACA JUGA Kebiasaan Bawa Nama Tuhan untuk Urusan yang Selesai di Tukang Laundry atau tulisan Abdul Gaffar Karim lainnya.