Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Beberapa Tren Menyebalkan di Bulan Ramadan

Shellya Febriana A. oleh Shellya Febriana A.
28 Juni 2015
A A
Beberapa Tren Menyebalkan di Bulan Ramadan

Beberapa Tren Menyebalkan di Bulan Ramadan

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bulan Ramadan disebut-sebut sebagai bulan penuh rahmat dan berkah bagi umat Islam. Bukan, maksudnya bukan di bulan sana lagi penuh astronot bernama Rahmat yang bersaing bikin toko material “TB. Berkah”. Bukan itu. Maksudnya, segala amalan yang dilakukan selama bulan Ramadan akan dilipat gandakan pahalanya.

Atas dasar itulah, umat Islam akhirnya berlomba-lomba menjalankan berbagai macam ritual selama Ramadan.

Wajar lah ya, wong diskon gede-gedean barang bermerek harga naujubillah demi muasin ego nilai prestis di mall aja ramenya minta ampun. Apalagi kalo pahala lagi diskon gini: cukup amal dikit aja, eh pahalanya gede. Itung-itung nabung buat bekal mbukain pintu surga. Uhuk.

Nah, apa aja tren yang hanya bisa ditemui selama Ramadan berlangsung? Ini daftar lengkapnya:

Tarawih karbitan

Dilipat gandakannya pahala selama bulan Ramadan didukung dengan adanya salat Tarawih yang menambah variasi ibadah sunnah. Keberadaan salat tarawih ini disambut dengan sangat antusias oleh jamaah di hampir semua masjid.

Masjid-masjid yang biasanya cuma dijenguk seminggu sekali, popularitasnya jadi meningkat. Berdasarkan pengamatan abal-abal saya di beberapa media sosial,  jumlah check-in di masjid jauh lebih banyak daripada di kafe kekinian.

Tapi sayangnya popularitas Tarawih ini mirip-mirip artis karbitan, alias cepat redupnya. Menginjak minggu kedua, sarung-sarung sudah mulai turun gunung. Ketika imam hendak melanjutkan rakaat ke-9 dari total 23 rakaat, ajadah mulai digulung, disampirkan ke bahu. Sarung-sarung ngikut empunya keluar saf, njajan sup buah di depan masjid. Sarung mereka jelas masih kalah awet dibanding sarung penutup warung atau restoran waktu siang selama bulan puasa.

Rebutan anak yatim

Redupnya popularitas salat tarawih di masjid biasanya didalangi oleh penyelenggaraan berbagai acara buka bersama.

Dengan dalih mempererat silaturahmi, hampir semua undangan buka bersama pun dihadiri. Setelah kenyang, dan puas, lalu pulang membawa oleh-oleh setumpuk foto wefie untuk di-upload dan jadi modal ghibah terbaru.

Banyak juga di antara para penyelenggara buka bersama ini yang kemudian bersiasat dengan mengajak yayasan yatim piatu, biar tambah wow. Selain mengharap tambahan pahala, juga supaya kelihatan dermawan kalo di-update di jejaring sosial.

Hal ini membuat buka puasa bersama yayasan yatim piatu jadi tren kambuhan. Tiap tahunnya, di bulan Ramadan, yayasan yatim piatu diperebutkan untuk diajak buka bersama. Beberapa pihak penyelenggara bahkan rela re-schedule, demi menyesuaikan dengan jadwal kosong dari yayasan yatim piatu yang bersangkutan.

Tapi namanya juga tren kambuhan, setelah satu bulan berebut menyantuni anak yatim, selanjutnya ya terus sepi alias gak pernah sama sekali. Bisa jadi mereka pikir berlipatnya pahala itu juga teraplikasikan pada santunan buka bersamanya, terus berlipat secara otomatis untuk 11 bulan ke depan.

Iklan

Sesuatu banget, yah…

Belanja untuk pamer

Ritual ini biasanya dilaksanakan di akhir pekan setelah wahyu berupa THR ditambahkan pada saldo rekening. Berbekal rasa gengsi yang akan dibawa mudik, maka berbondong-bondonglah mereka menuju mall terdekat. Dipuaskanlah ego pribadi untuk tampak berhasil dibanding keluarga yang lain di kampung halaman. Berlomba-lombalah mereka, meski harus berjubel-jubel di tengah lautan manusia, memperebutkan baju baru diskonan.

Entah kapan dimulainya, semua ini gara-gara stereotip di masyarakat yang lebih mengidentikkan Idul Fitri dengan baju baru, ketimbang kualitas pribadi yang baru—yang fitrah. Akhirnya muncul satu ritual belanja ini untuk mempercantik diri saat hari raya, tapi banyak yang lupa mempercantik imannya. Ehm.

Mudik dan pertanyaan-kapan-ini-kapan-itu

Di bulan Ramadan, tidak hanya pahala yang berlipat, tapi juga harga tiket mudik. Tren mudik yang menguras kantong ini dilaksanakan mulai dari H-7 hingga Hari-H Lebaran.

Bagi mereka yang biasa ngegesek kartu sih enak, bisa duduk manis di pesawat atau kereta. Tapi kalo yang bisa digesek cuma KTP atau kartu BPJS, ya harus rela nahan bau ketek sepanjang perjalanan yang lamanya bisa buat stalking gebetan sampe ke mantannya zaman SD.

Semua pengorbanan itu demi memenuhi alasan “waktu berkumpulnya keluarga” yang biasanya justru jadi ajang nyebahi gara-gara harus siap berkali-kali diberondong pertanyaan “Kapan lulus?”, “Kapan nikah?”, dan berbagai jenis “kapan” lainnya. Pertanyaan-pertanyaan gak mutu itu biasanya dilemparkan oleh sanak-saudara yang lebih tua.

Mereka yang suka ngasih pertanyaan itu ndak tau aja, tiap pertanyaan jenis “kapan” itu dilontarkan, yang lebih muda ini sebenernya udah untup-untup pengen banget balik nanya: “Kapan mati?”

Terakhir diperbarui pada 11 Agustus 2021 oleh

Tags: Buka bersamaDiskon lebaranMudikRamadanTarawih
Shellya Febriana A.

Shellya Febriana A.

Artikel Terkait

Ilustrasi mudik lebaran, perumahan.MOJOK.co
Sehari-hari

Enaknya Lebaran di Perumahan Kota yang Tak Dirasakan Pemudik di Desa, Dianggap Kesepian padahal Lebih Tenang

11 Maret 2026
Mudik Lebaran naik bus murah berujung menyesal. MOJOK.CO
Sehari-hari

Habiskan Waktu 78 Jam di Bus untuk Mudik Berujung Kapok dan Frustrasi: Harus Tahan Bau Badan, BAB, hingga “Ditakuti” Teman Sebangku

11 Maret 2026
Mudik Lebaran dengan pesawat
Urban

Saya Tidak Peduli Keluar Duit Lebih Banyak demi Tak Mengorbankan Kenyamanan, Pilih Mudik dengan Pesawat daripada Mode Apa Pun

11 Maret 2026
Kuliner Sunda yang tidak ada di Jogja, seblak buat perantau ingin mudik Lebaran
Kuliner

Alasan Orang Sunda Ingin Mudik Bukan Hanya Keluarga, tapi Tak Tahan Siksaan Makanan Jogja yang Rasanya “Hambar”

10 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mudik Lebaran naik bus murah berujung menyesal. MOJOK.CO

Habiskan Waktu 78 Jam di Bus untuk Mudik Berujung Kapok dan Frustrasi: Harus Tahan Bau Badan, BAB, hingga “Ditakuti” Teman Sebangku

11 Maret 2026
Ini Bukan Perkara Sunni vs Syiah, PKI Belapati dengan Iran karena Senasib sebagai Negeri Anti-imperialisme Amerika MOJOK.CO

Ini Bukan Perkara Sunni vs Syiah, PKI Belapati dengan Iran karena Senasib sebagai Negeri Anti-imperialisme Amerika

11 Maret 2026
Membenci tradisi tukar uang alias penukaran uang baru menjelang lebaran untuk bagi-bagi THR MOJOK.CO

Tak Ikut Tukar Uang Baru buat THR ke Saudara karena Tradisi Toxic: Pilih Jadi Pelit, Dibacotin tapi Bahagia karena Aman Finansial

9 Maret 2026
Pemuda Kediri Nekat kerja di luar negeri (Selandia Baru) sebagai Tukang Cukur. MOJOK.CO

Pemuda Kediri Nekat ke Selandia Baru sebagai Tukang Cukur usai Putus Cinta dan Ditolak Ratusan Lamaran Kerja

10 Maret 2026
Bus patas Haryanto rute Jogja - Kudus beri suasana batin muram dan sendu gara-gara lagu-lagu 2000-an yang ingatkan masa lalu MOJOK.CO

Naik Bus Haryanto Jogja – Kudus Campur Aduk, Batin Seketika Muram dan Sendu karena Suasana dalam Bus Sepanjang Jalan

9 Maret 2026
Ogah mudik apalagi kumpul keluarga saat Lebaran. MOJOK.CO

Kumpul Keluarga Jadi Ajang Menambah “Dosa”: Dengar Saudara Flexing hingga Pura-pura Sukses agar Tidak Dihina Tetangga di Desa

9 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.