MOJOK.CO Lomba e-sport Onet dan zuma yang diadakan Kemenkeu itu patut diapresiasi. Totalitas PNS dalam mengisi waktu senggang yang panjang itu patut diberi penghargaan.

Banyak yang mencibir profesi PNS. Banyak yang memandangnya sebagai pilihan karier yang tidak menantang. Bagaimana mau menantang kalau pilihan game mereka ketika senggang cuma Onet dan Zuma. Masalahnya, waktu senggang PNS ini (dulu sih, nggak tahu kalau sekarang) banyak senggangnya sampai dibuatkan lomba sekalian.

Mojok Institute mengapresiasi apresiasi yang ditunjukkan Kemenkeu kepada kebiasaan PNS untuk mengisi kegiatan “melonggarkan ikat pinggang”. Kemenkeu bikin lomba e-sport Onet dan Zuma. Saya yakin, PNS angkatan 2010 ke bawah bakal mendominasi karena belum terpapar pangaruh PUBG dan Mobile Legend.

Supaya profesi PNS lebih dihargai, Mojok Institute mengajukan proposal menjadi panitia lomba-lomba apresiasi kebiasaan PNS selanjutnya. Kami membuatkan dua opsi sebagai bahan pertimbangan.

Onet dan zuma oke juga, tapi lomba baca koran bakal greget

Salah satu kebiasaan legendaris PNS zaman lawas adalah datang ke kantor, biasanya sih telat, lalu baca koran. Mereka memadukan ritual ini dengan kebiasaan menyeruput kopi sambil mengunduh segala informasi paling update ini. Kalau waktu senggang lebih lama, misalnya setengah hari, mereka melanjutkan isi buku TTS yang sampul depannya gambar cewek seksi.

Baca juga:  Cinta Jarak Jauh yang Bermula dari Game Online

Nah, kebiasaan baca koran ini perlu dilombakan. Siapa yang paling betah baca koran sambil nyeruput kopi. Kalau satu koran habis dibaca, kami siap menyediakan “koran lampu merah” dari tahun 2010 sampai 2019. Selain penuh tantangan, saya rasa mereka juga terhibur dengan judul-judul koran lampu merah yang berani dan antik itu.

Sebagai teman baca koran, air yang diminum harus kopi. Jika habis, kami juga siap menyediakan refill satu termos besar. Tantangannya sangat tinggi. Mulai dari perut kembung, tensi naik, hingga mencret. Hadiahnya? Satu lusin buku TTS. Sebab, Onet dan Zuma kurang menantang.

Lomba PNS datang terlambat bakal jadi tren terbaru

Salah satu mitos PNS zaman dulu adalah jam karet. Kalau jam kerja tercantum dimulai pada 8 pagi, mereka datang selepas pukul 10.00. Itu sih paling cepat. Biasanya datang tengah hari, lalu izin untuk istirahat makan siang. Mending nggak usah datang sekalian, wis.

Nah, kebiasaan jam karet ini perlu diapresiasi. Menemukan titik malas pada seseorang itu bukan pekerjaan yang mudah di tengah ribuan pegawai pemerintah yang semuanya punya etos kerja sangat tinggi. Terutama ketika klik Onet dan Zuma di layar hape dan monitor komputer masing-masing.

Konsep lombanya seperti ini: PNS yang bisa datang paling telat, yang dinobatkan sebagai pemenang. Jika absen pulang adalah pukul 16.30, maka siapa yang bisa absen datang tepat di pukul 16 lebih 29 menit dan 58 detik lalu absen pulang pada pukul 16 lebih 29 menit dan 59 detik yang jadi pemenang.

Baca juga:  Teruntuk Arman Dhani, From PNS with Love

Setiap PNS yang ikut boleh menghalangi peserta lainnya. Saling sikut, saling menggugurkan. Nyogok nggak papa, kayak kebiasaan yang udah-udah. Dulu tapi itu, sekarang kan udah nggak (kan?).

BACA JUGA Suami-Suami Takut Tupperware (Hilang) atau artikel Yamadipati Seno lainnya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles