MOJOK.COMau ke cowok, atau ke cewek, yang namanya catcalling sama-sama nggak pantas. Mau dengan alasan bercanda, ya tetap nggak pantas. Perhatikan, dong.

Aprilia Kumala, salah satu redaktur andal nan lincah Mojok pernah menuliskan ketakutannya menjadi korban catcalling. Suatu ketika, Aprilia Kumala memutuskan untuk memasak mie instan sebagai menu sahur, ketimbang pergi ke burjo untuk beli nasi hangat dan telur dadar yang baru digoreng.

“Kumpulan laki-laki ini tidak saya kenal dan tak punya urusan dengan saya, memang. Tapi, bagaimanapun, ada beberapa ketakutan yang saya punya untuk masuk ke ruangan yang penuh dengan laki-laki, di mana pun. Salah satunya adalah karena catcalling.” Tulis Aprilia Kumala lewat artikelnya yang berjudul “Catcalling dan Street Harassment Tak Ada Urusannya dengan Pujian” yang tayang di Mojok pada 1 Februari 2019.

Ketakutan Aprilia Kumala menjadi korban catcalling muncul ketika dia masih SMP. Ketika pulang sekolah, Aprilia Kumala harus melewati sebuah jalan setapak yang biasa menjadi tempat nongkrong pemuda-pemuda tanggung. Nah, di sanalah, Aprilia Kumala menjadi korban catcalling.

“Hai, Cewek….Sendirian aja, nih?”

“Mau ke mana, Dek? Sini, Mas temenin.”

“Duh, kok cemberut aja, sih.”

“Saya masih 14 tahun saat itu dan harus merelakan kuping saya mendengar catcall dari laki-laki kampung sebelah yang tidak saya kenal. O, dan jangan lupakan siulan-siulan menjijikkan yang keluar bergantian dari bibir mereka.” Tulis Aprilia Kumala lagi.

Siulan, berlagak memberi perhatian, pujian, semuanya itu membuat Aprilia Kumala ketakutan. Ia hanya bisa menundukkan kepala, menahan rasa takut ketika harus lewat di tempat sama, ketemu lagi dengan gerombolan laki-laki tanggung itu. Mau apapun bentuknya, catcalling itu nggak pantas dilakukan.

Korban catcalling mayoritas perempuan. Dan sedihnya, banyak yang tidak merasa menjadi korban karena “kegiatan jahat” itu dianggap sebagai guyonan saja. Pdahal, mau bentuknya guyonan, dengan tujuan memuji, tetap saja tidak pantas.

Baca juga:  Enaknya Diperkosa Nggak Seenak Terlahir Sebagai Laki-laki Berkuasa

Nah, apakah catcalling hanya terjadi kepada perempuan saja? Tentu saja enggak ya. Cowok juga rentang menjadi korban. Apalagi kalau si cowok itu ganteng, punya badan yang bagus, senyumnya bikin hati jadi sejuk, modis, dan lain sebagainya.

Suramnya, kesadaran cowok menjadi korban catcalling lebih rendah ketimbang cewek. Banyak cowok yang justru merasa tertantang ketika cewek nggodain. Saya sih yakin, 90 persen malah merasa catcall yang terjadi ke mereka itu sebagai bentuk pujian. Nah, 10 persennya merasa risih, bahkan tersinggung.

Sesuatu yang menjadi biasa, terjadi dalam waktu yang lama, akhirnya “dimaklumi” untuk terjadi. Padahal semua itu salah.

Perbedaan antara catcall yang terjadi kepada cowok dengan cewek ada pada lokasi. Cewek lebih sering mengalaminya di jalan, sementara cowok lebih sering terjadi di dunia virtual. Masih ingat dengan “rahim anget” Jonatan Christie?

Lantaran hobinya selebrasi sambil buka baju, pebulu tangkis berusia 21 tahun itu jadi objek fantasi seksual banyak cewek. Misalnya:

atau…

“#jojobukabaju kenapa sih cuma kaosnya doang yang dibuka .. Gemes deh pengen merosotin celananya HAHAHA ..” “Aaak gantengnya! Rahim gue anget”

Selain rahim anget, ada pula beberapa kata yang menjadi populer belakangan ini, misalnya “ovarium meledak”, “tuba fallopi bergetar”, “serviks melebar”, hingga “hamil online”. Ungkapan itu banyak dicibir lantaran dianggap berlebihan, bahkan tidak etis.

Nah, belum lama ini, kejadian lagi ketika anak SMA jadi korban catcalling virtual.

Kali ini bahkan lebih dahsyat ketimbang rahim yang menjadi hangat. Ini bagian kewanitaan sampai berdarah-darah. Mungkin mbaknya sedang menstruasi, jadi berdarah-darah seperti itu.

Baca juga:  17% Korban Pelecehan Seksual Perempuan Berhijab, Kamu Masih Menyalahkan Pakaian Terbuka

Bedanya, ketika ramai soal “rahim hangat”, banyak yang justru membebek dengan melontarkan “candaan” serupa. Ya semacam “ovarium meledak”, “tuba fallopi bergetar”, “serviks melebar”, hingga “hamil online”.

Kali ini, netizen mungkin sudah sadar kalau yang menimpa anak SMA itu bentuk catcalling yang nggak pantas hingga muncul teguran: “Ew, disgusting, control yourself, sis. Kek gak pernah lihat cowo cakep aja.”

UK Safer Internet Centre pernah melakukan penelitian terhadap 3.257 remaja di Denmark, Hungaria, dan Inggris. Tujuan penelitiannya untuk mengetahui pengalaman mereka terhadap pelecehan seksual online.

UK Safer Internet Centre membagi pelecehan seksual dalam empat jenis. Pertama, perilaku pelecehan menggunakan konten digital (gambar, video, komentar) di berbagai platform, baik pribadi maupun publik. Kedua, pelecehan hingga membuat seseorang merasa terancam, dieksploitasi, dan dipaksa. Ketiga, kekerasan seksual yang membuat korban dikucilkan dari kelompok atau komunitas tertentu akibat konten seksual. Terakhir, permintaan seks dari seseorang, baik melalui komentar maupun konten.

Pada kasus seksualisasi yang tak diinginkan, 24 persen responden menyampaikan bahwa mereka pernah menerima komentar bernada seksual pada foto mereka. Yang patut dicermati, meski umumnya hal tersebut terjadi pada perempuan, laki-laki pun mengalaminya. Umumnya, responden menyampaikan bahwa foto mereka kerap dijadikan objek seksual.

Ketahuilah, mau kena ke cowok atau ke cewek, catcalling nggak ada yang bener. Mau konteksnya bercanda, karena sudah akrab, atau sama-sama tahu, ya tetap saja nggak pantas. Memang, semuanya kudu dimulai dari kesadaran dulu. Biar perilaku yang asik kayak gitu nggak terjadi lagi. Kalau tersinggung, urusannya bisa panjang, lho.



Loading...



No more articles