• 144
    Shares

MOJOK.CO Toh, apa yang membentuk tubuh dan wajah kami, nyatanya, bukan urusan para pelaku catcalling yang mengganggu itu.

Seseorang pernah bertanya kenapa saya tidak pergi membeli makan sahur di warung burjo dekat kos setiap kali saya berpuasa. Alih-alih membeli nasi yang hangat dengan lauk telur dadar yang baru matang, saya lebih suka membeli makanan di malam sebelumnya atau masak mi instan sendiri menggunakan rice cooker di kamar.

Saya tidak punya jawaban dengan argumentasi yang kuat karena sesungguhnya alasan saya cuma satu: burjo di malam  hari—atau pagi-pagi buta—biasanya dipenuhi laki-laki yang bergerombol.

Kumpulan laki-laki ini tidak saya kenal dan tak punya urusan dengan saya, memang. Tapi, bagaimanapun, ada beberapa ketakutan yang saya punya untuk masuk ke ruangan yang penuh dengan laki-laki, di mana pun.

Salah satunya adalah karena catcalling.

Waktu SMP, saya selalu pulang sekolah naik angkot. Tempat berhentinya angkot dan rumah saya punya jarak cukup jauh—saya harus melewati kampung sebelah sebelum sampai ke perumahan tempat saya tinggal. Perjalanan ini seharusnya menyenangkan karena saya bakal melewati sawah, penjual jajan di pinggir jalan, sampai gedung akademi yang membuat saya berandai-andai soal kehidupan sebagai orang dewasa yang menuntut ilmu di tingkat pendidikan tinggi. Tapi, semuanya berubah saat saya harus belok lebih ke kanan, melewati jalan setapak yang biasanya menjadi tempat nongkrong pemuda-pemuda berusia 20 tahunan.

“Hai, Cewek…. Sendirian aja, nih?”

“Mau ke mana, Dek? Sini, Mas temenin.”

“Duh, kok cemberut aja, sih.”

Saya masih 14 tahun saat itu dan harus merelakan kuping saya mendengar catcall dari laki-laki kampung sebelah yang tidak saya kenal. O, dan jangan lupakan siulan-siulan menjijikkan yang keluar bergantian dari bibir mereka.

Tak ada pilihan lain selain apa yang selalu saya lakukan berminggu-minggu: berjalan lebih cepat, menunduk, dan merasa takut, sementara para lelaki itu tertawa-tawa dan, tak jarang, mengikuti hingga beberapa meter (ini serius). Tak lupa, mereka juga berseru, “Loh, loh, kok nggak dijawab? Kok pergi duluan? Nggak mau dianter?”

Baca juga:  Stigma terhadap Ibu Rumah Tangga yang Sudah Keseringan Salah Kaprah

Sialan!

Di usia yang lebih dewasa, catcalling masih saja terjadi. Kadang-kadang saya berpikir, apakah ini gara-gara rok saya terlalu pendek dan kemeja saya terlalu ketat? Ah, tapi saya tidak pernah pergi tanpa mengenakan jaket, kok. Saya bahkan akhirnya mulai sesekali mengenakan hijab dan rok panjang sejak SMA, tapi outcome-nya sama saja.

“Assalamualaikum, Cantik. Mau ke mana?”

“Assalamualaikum, Cewek. Loh, loh, kok nggak dijawab? Hahaha….”

Duh, picik benar jalannya otak pelaku catcalling. Berlindung di balik salam, mereka seolah ingin perempuan yang disapanya membalas sikap capernya, bagaimanapun caranya!

Sapaan-sapaan dan siulan catcalling ini, menurut gerakan nonprofit Stop Street Harassment (SSH), merupakan interaksi yang tidak diinginkan—sekali lagi, tidak diinginkan—dengan orang asing di tempat umum, khususnya karena keadaan gender seseorang atau orientasi seksual. Kegiatan catcalling adalah pelecehan seksual berupa verbal, yang bisa saja diikuti dengan tindakan mengintai, meraba, bahkan memerkosa.

Namun, ada banyak pendapat yang muncul perkara catcalling ini. Sebagian orang merasa ia adalah ekspresi kekaguman. Pujian. Sapaan. Ingin berkenalan. Bahkan, jika ada unsur salam dalam ucapan catcalling, ia dianggap jauh lebih baik daripada ekspresi lainnya.

“Salam kan harus dijawab. Masih mending kamu nggak diapa-apain.”

Pertanyaannya: memangnya benar, ya, salam itu selalu jauh lebih baik??? Memangnya dengan mengucap salam, kita tak bisa lagi mendeteksi niatan catcall dari si pelaku??? Lantas, kenapa rasa tidak nyamannya masih ada di sana???

Nyatanya, catcalling dan bentuk pelecehan seksual lainnya tak ada urusannya dengan keperluan “membuat korban merasa cantik”. Komentar-komentar yang tampak memuji dan meminta kita untuk tersenyum itu toh memang bukan pujian. Singkatnya, para pelaku tidak melakukan catcall demi keuntungan korban.

Baca juga:  Menjadi Orang yang Tidak Suka Cowok Gondrong Meski Hampir Semua Cewek Suka

Sebuah survei di Amerika Serikat merangkum respons dari para perempuan korban catcalling. Sebanyak 85% perempuan mengaku merasa marah, sementara sisanya merasa terganggu dan jijik. Pun jika perempuan-perempuan ini—termasuk saya—memutuskan untuk tidak menjawab dan lebih memilih berjalan pergi, itu bukan karena kami fine-fine saja dengan keadaan tadi. Memangnya situ nggak pernah mencoba mencari tahu kenapa korban pelecehan seksual merasa kesulitan untuk bersuara?

Rasa tidak nyaman menerima catcall dan siulan, bahkan sampai diikuti, itulah yang membuat saya kurang nyaman kalau harus masuk ke warung burjo atau tempat apa pun yang berisi gerombolan laki-laki. Selain kenangan SMP tadi, ingatan saya bisa saja tiba-tiba pergi ke masa SMA, di mana seorang anak kecil—sekali lagi, anak kecil—mendekati saya saat motor melaju pelan-pelan melalui gang, melakukan catcall, lalu…

…menyentuh bagian pribadi saya.

Dia berteriak kegirangan dan langsung pergi, meninggalkan saya yang shock dan ingin menangis di motor, tapi sempat melihat gerombolan laki-laki bertepuk tangan ke arah si anak kecil kurang ajar tadi.

Pelecehan di jalan, baik “sekadar” catcalling atau berupa sentuhan fisik, adalah hal rendahan yang tak bisa ditoleransi. Sekarang, coba pikir: kenapa harus kami yang diganggu? Kenapa beberapa orang melakukannya seolah-olah hal ini hanya lelucon yang tidak meninggalkan ketakutan apa pun?

Sungguh, kami hanya ingin punya hak yang sama—laki-laki maupun perempuan—di tempat umum: berjalan dengan perasaan terlindungi dan nyaman. Toh, apa yang membentuk tubuh dan wajah kami, nyatanya, bukan urusan para pelaku catcalling yang mengganggu itu.