MOJOK.COInilah tiga tips berkendara paling fundamenta dan penting yang bakal bikin kamu nggak selamat sampai ke tujuan. Risikonya cuma cacat atau mati, kok. Sepele.

Semaki hari, jumlah kendaraan bermotor, terutama roda dua semakin meningkat. Menurut data BPS, pada tahun 2017 saja, jumlah roda dua sudah sampai 113 juta unit. Tahun 2018, di DKI Jakarta saja, ada peningkatan 1500 kendaraan baru tiap harinya.

Pastinya itu motor yang waras, tercatat di kepolisian. Bayangkan, jika ditambah motor bodong, tanpa plat nomor, atau vespa gembel yang sangat kecil kemungkinan punya surat-surat yang waras, banjir kendaraan bermotor tiap harinya tak bisa dihindari. Sudah panjang jalan tidak bertambah, ruwet, masih ditambah perilaku manusia yang lucu-lucu goblog.

Nah, biar kamu nggak selamat di rimba jalan raya, Mojok Institute memberikan 3 tips berkendara. Tips berkendara ini disusun berdasarkan pengalaman nyata bahkan dari pelakunya sendiri, yaitu saya.

1. Tips berkendara paling nggak aman: naik motor sambil merokok!

Sudah banyak literatur dan analisis yang ada di luar sana tentang tips berkendara sambil merokok. Apa sih enaknya naik motor sambil merokok? Jangan salah, nggak cuma pengendara motor yang punya dosa. Mereka yang naik mobil sama saja. Jendela terbuka sepenuhnya, tangan dengan jari-jari mengempit rokok yang menyala. Goblog betul, yang mulia.

Saya pernah melakukannya, sih. Waktu naik motor. Niatnya sih biar nggak ngelangut atau bosan ketika naik motor. Sebatang rokok saya sulut sebelum ngeslah motor. Sepanjang jalan, saya pasang tampang gaya. Naik motor, santai, sambil kebal-kebul di jalan raya.

Apa yang terjadi? Saya menyesal, makanya saya bikinkan tips berkendara ini.

Niat merasakan isapan nikotin dari sebatang rokok pun nggak bisa. Rasanya hambar, kayak menyedot angin saja. Tahukah kamu, ketika mengisap rokok dan berusaha memasukkan asapnya ke hidung–biar acara kebal-kebul makin nikmat–kamu akan sedikit membukan bibir sebagai jalur asap dari bibir ke hidung.

Baca juga:  Menghitung Penghasilan Tukang Tambal Ban

Saat itu, nggak cuma asap rokok yang masuk. Ada asap hitam pekat dari bokong truk dengan tulisan “Lali rupane eling rasane”, CO2 dari kendaraan lain, pasir yang bertebangan, debu, dan bisa jadi air liur hasil bersin-bersin dari pengendara yang ada di depan kamu.

Lalu, ke mana kamu akan membuang abu dan puntung rokok? Ya ke “udara bebas” lah. Dan itu berpeluang memicu keributan ketika abu rokok mampir manja ke bola mata pengendara di belakangmu. Iya, kalau si pengendara itu cuma sampai sebatas misuh-misuh. Gimana kalau si pengendara sampai mengejar dan menggajul ban belakangmu?

Ya nggap papa. Hitung-hitung biar kamu dijadikan bahan THREAD di Twitter dan viral. Seorang pengendara bikin buta pengendara lain gara-gara buang abu rokok sembarangan. Bakal bangga itu orang tuamu.

Merokok sambil berkendara ya nggak papa. Paling kamu nggak selamat sampai tujuan saja. Dan ingat, buang abu dan puntung rokok ke tempat yang semestinya: ke dalam mulutmu sendiri!

2. Jadilah model dan matador.

Kalau di jalan raya ya nggak cuma ada pengendara, ada juga pejalan kaki, yang berusaha menyeberang. Nah, menyeberang jalan pun bisa jadi masalah. Biar kamu nggak selamat, saya bagikan tips berkendara dan berperilaku ini.

Ketika hendak menyeberang, usahakan jangan di zebra cross. Usahakan menyeberang di tempat paling ramai. Ketika ada motor atau mobil, ya kira-kira jarak 100 meter, mulailah menyeberang. Perlahan saja. Bayangkan kamu seorang model internasional yang sedang berjalan di cat walk. Berjalanlah dengan santai. Ketika sudah melewati garis marka di tengah jalan, berjalanlah lebih lambat lagi.

Ketika motor atau mobil itu semakin dekat, jangan mempercepat langkah, apalagi lari. Angkat tangan dan hadapkan telapak tangan ke arah datangnya motor atau mobil. Ingat, lakukan dengan mempelambat langkah kaki sambil mengangkat dagu biar aura aristokratmu memancar.

Baca juga:  Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan Dipertimbangkan Lagi. Menkes Lagi Galau ya?

Ketika kendaraan sudah sangat dekat, nggak sempat mengerem, dan membunyikan klakson secara brutal, menghindarlah dengan anggun seperti matador menghindari terjangan banteng sambil berkata lantang: “Punya mata nggak anjjjjjj!”

Nggak masalah ngegas, pokoknya misuh dulu. Nggak masalah sampai ditabrak. Ada BPJS. Toh mau diseruduk banteng atau diserempet Kijang Doyok risikonya sama. Cuma mati ini.

3. Mengobrol dengan santai.

Ketika mengantuk, jangan naik motor. Namun, kalau kamu tetap harus pancal gas, usahakan punya teman berkendara biar bisa mengobrol. Jangan berboncengan, tapi pakai motor sendiri-sendiri. Ini tips berkendara ala-ala life hack.

Jadi, ketika lewat jalan raya yang lumayan padat, kalian harus mengobrol. Jejeran saja, penuhi itu jalan raya. Lha wong jalan raya itu kan punya nenek moyang kamu. Usahakan kecepatan motor ada di bawah 40 kilometer per jam. Lebih rendah lebih baik. Bahkan kalau bisa motornya dituntun saja.

Sembari motoran jejeran, ngobrol. Misalnya bisa bikin janji untuk nongkrong, beli es kopi susu kemanisan dan overpriced pakai wadah plastik yang ditulisi namamu biar ala-ala Starbucks itu.

“Habis ini ngapain enaknya?”

“Ayo ngovee, nongkrong.”

“Apa? Semprong?

“Nongkrong, woi!”

“Oh, ngapain?”

“Ngopi!”

“Apa? Topi”

“Ngoveee, woi anjjj!”

Pokoknya penuhi tips berkendara ini dengan pisuhan dan makian biar kamu kaffah jadi cah ratan.

Jangan hiraukan pengendara lain yang mijit-mijit klakson secara tidak bertanggung jawab itu. Cuekin saja. Mau cepet-cepet itu mau mengejar siapa, mau pelan-pelan ya mau nungguin siapa emangnya. Ignorant di jalan raya is sangat disarankan.

Nah itu tadi 3 tips berkendara yang bakal bikin kamu nggak selamat sampai tujuan. Risikonya cuma diajak gelut, cacat, atau mati. Sepele itu.