Coach Bisnis kok Curigaan Karyawan Izin Sakit Dibilang Mau Sabotase, Coach-nya yang Kena Mental? MOJOK.CO
Coach Bisnis kok Curigaan Karyawan Izin Sakit Dibilang Mau Sabotase, Coach-nya yang Kena Mental? MOJOK.CO

Coach Bisnis kok Curigaan Karyawan Izin Sakit Dibilang Mau Sabotase, Coach-nya yang Kena Mental?

MOJOK.COKata seorang coach, banyak izin sakit itu usaha sabotase kepada bisnis Anda. Sungguh opini yang keruh, Bapak. Serem banget, sih.

Setelah saya baca-baca, ternyata istilah motivator dan coach itu beda makna. Kalau motivator itu menggunakan pengalaman sebagai “alat kerja” untuk mencari solusi dan memberi nasihat. Coba kasih hal dari luar ke dalam. Kalau coach itu “bertanya”, menggali apa yang ada di dalam lalu keluar.

Ribet ya bedanya? Iya, nggak tahu kenapa, terkadang ada gitu motivator atau coach yang belibet nyusun kalimat. Sukanya pakai kalimat bersayap, peserta disuruh mikir sendiri. Padahal kemampuan menjelaskan sesuatu dengan sederhana itu lebih penting ketimbang kata-kata mutiara yang ndakik-ndakik fafifuwasweswos.

Oya, perbedaan di atas itu diungkapkan oleh Lyra Puspa, pendiri Vanaya Institute, lembaga coaching di Indonesia. Jadi, perbedaan yang agak belibet itu bukan dari saya. Jangan salah.


Tapi, kalau diizikan sedikit memberi tafsir, seorang coach itu menggali kekuatan atau potensi dalam diri manusia. Kalau di dalam ekosistem perusahaan, mungkin bisa merujuk ke pernyataan kolosal yang bunyinya: “Jangan tanyakan apa yang sudah negara berikan untukmu, tetapi tanyakanlah sumbangsih apa yang telah kamu berikan pada negara.” Silakan ganti kata “negara” dengan “perusahaan”. Intinya sama saja.

Seorang coach, bisa jadi disewa untuk meningkatkan produktivitas karyawan. Misalnya dengan memperkuat rasa cinta kepada perusahaan. Sama persis kayak yang nama “nasionalisme” itu. Beda-beda tipis aja. Namun, rasa-rasanya kok aneh kalau ada coach yang sukanya “ngelamun jorok”, curigaan ke karyawan, terutama yang lagi izin nggak masuk kerja karena sakit dan dianggap mau sabotase kantornya sendiri.

Baca juga:  Tak Perlu Sungkan Terbuka Soal Keuangan Saat Pacaran

“Saya tahu mungkin ada orang yang memang dikit-dikit sakit. Yang flu dikit-dikit batuk. Dikit-dikit panas. Dikit-dikit dan seterusnya,” kata seorang coach yang namanya cukup termasyhur.

Dikit-dikit sakit, dikit-dikit sakit. Panas kok dikit-dikit. Ah, maaf, saya nggak bisa menahan diri untuk nggak nulis jokes lawasan itu. Maaf.

Yang seru adalah ketika beliau mempertanyakan izin sakit yang diajukan anak buah.

“Pertanyaan saya nomer 1 adalah bisa bangun nggak? Bisa.”

Bisa jalan nggak? Bisa.

Bisa makan nggak? Bisa.

Bisa naik motor? Bisa.

Berarti bisa ke kantor.

Nah, kebanyakan orang yang izin sakit, izin sakit, izin sakit, izin sakit, izin sakit, izin sakit, izin sakit, izin sakit, izin sakit, izin sakit, izin sakit, izin sakit, izin sakit, izin sakit, izin sakit, izin sakit, izin sakit, izin sakit, izin sakit, izin sakit, izin sakit, izin sakit, izin sakit, izin sakit, kebanyakan nggak benar-benar sakit. Mereka hanya ingin MENSABOTASE BISNIS ANDA.”

Hehe… hebat, ya. Coach yang sudah setara cenayang. Bisa tahu tanpa melihat. Atau, memang pada dasarnya cuma curigaan aja. Saya nggak tahu kok ada coach yang anggap izin sakit dianggap mau sabotase bisnis orang. Jangan-jangan, beliau punya trust issue sama anak buah yang izin sakit.

Satu hal lagi yang saya heran adalah izin sakit dan cuti kan memang hak karyawan. Bahkan diatur oleh Undang-Undang. Bisa jadi si karyawan memang punya kondisi tubuh di mana dirinya gampang masuk angin kalau kelamaan kena AC atau mendekati tanggal tua. Bisa jadi si karyawan salah makan terus kena diare.

Baca juga:  Setiap Orang Punya Batasnya Masing-Masing

Iya, kena diare.

Kalau diare itu bisa jalan nggak? Bisa. Jalan ke toilet buat melepas sekumpulan tahi yang encer.


Bisa makan nggak? Bisa. Makan makanan yang dipercaya bisa menyembuhkan diare atau mungkin makan obat.

Bisa naik motor? Bisa. Paling entar cuma nabrak tiang listrik aja. Paling banter ya patah tangan sama kaki. Santai, ada BPJS.

Berarti bisa ke kantor. Bisa. Nggak kerja, tapi sibuk boker buat melepas sekumpulan tahi yang encer.

Niatnya mau tetap bekerja, tapi malah nggak produktif. Akhirnya? Karyawan jadi merasa tidak dibahagiakan oleh kantor. Akhirnya? Lahir isu kepercayaan antara kantor dan para karyawan. Kalau kayak gitu, siapa yang sebetulnya lagi sabotase siapa?

Lama-kelamaan, ada karyawan yang malas ke bekerja dan memilih mengambil jatah cuti cuma buat tiduran nonton Netflix. Ada juga yang malah push rank, atau izin cuti karena ada keluarga sakit, padahal work from Bali seperti usulan Pak Luhut tempo hari.

Kalau anak buah mulai nggak percaya dengan kantor, merasa tidak dijamin hak-haknya, produktivitas pasti turun. Kantor, yang nge-hire coach, malah disabotase sendiri sama coach yang curigaan. Jangan-jangan malah coach ini yang perlu ketemu sama motivator karena kena mental.

Yah, memang ada karyawan yang pada dasarnya malas. Namun, kita tahu, sungguh tiada bijak menyebut semua izin sakit sebagai sabotase. Lagian sabotase kok cuma banyak izin kerja. Bocorin data rahasia milik perusahaan ke kompetitor tuh lagi namanya sabotase.

Baca juga:  Soal Wiranto, Hanum Rais Harus Belajar dari Arief Poyuono

Pemikiran yang keruh begitu nggak membantu produktivitas dan kelanggengan sebuah perusahaan. Kalau ada karyawan yang memang jahil suka izin sakit padahal sehat, ya tinggal kasih SP atau pecat. Bayar kompensasi lalu cari karyawan baru. Itu profesional. Nggak perlu bawa-bawa curigaan, deh, kayak lagi pacaran aja.

BACA JUGA Hak Cuti Haid dan Cuti Melahirkan Itu Merugikan Pengusaha Nggak Sih? dan tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.