MOJOK.COInter Milan dan Conte membutuhkan waktu. Untuk mekar sepenuhnya, kuat seutuhnya. Menjadi legenda di masa depan Serie A.

Sejak awal musim 2019/2020, saya hampir selalu memuji Inter Milan yang diasuh Antonio Conte. Perpaduan keduanya seperti melihat seorang pekerja seni yang sedang menciptakan masterpiece. Pekerjaan itu dilewati dengan penuh kesenangan. Sebuah perasaan yang membuat Inter Milan berkembang begitu pesat dalam waktu singkat.

Sayangnya, Inter Milan bukan The Creation of Adam, masterpiece Michelangelo di Kapel Sistina yang dikerjakan selama lima tahun. Vasari, salah satu penulis biografi Adam yang termasyhur itu memuji The Creation of Adam. Vasari menggambarkan Michelangelo sebagai seseorang yang punya “kekuatan untuk menemukan”.

The Creation of Adam menarasikan salah satu bagian dari kitab Kejadian ketika Tuhan Allah memberikan kehidupan kepada Adam, manusia pertama. Lukisan yang menunjukkan jari Tuhan Allah yang hampir bersentuhan dengan jari Adam itu digambarkan sebagai bentuk kemanusiaan itu sendiri. Mengambarkan jarak antara manusia dan Tuhan. Dekat,tapi jauh. Jauh, tetapi justru sangat dekat. The Creation of Adam dinobatkan sebagai the most replicated religious paintings of all time.

Semuanya berkat daya interpretasi Michelangelo. The Creation of Adam menggambarkan daya manusia untuk menemukan. Untuk membangun sebuah imajinasi menjadi karya agung. Menjadi masterpiece yang direplikasi dan diduplikasi oleh seniman di penjuru dunia. Menjad inspirasi. Menjadi sebuah karya yang grande.

Melawan Barcelona–bahkan kamu bisa bilang Ernesto Valverde menurunkan Barcelona C–kekuatan untuk menemukan hilang dari skuat Inter Milan. Conte seperti kehabisan kata-kata. Seperti Pep Guardiola yang tertegun dengan anjloknya level Manchester City. Seperti sunyinya Kapel Sistina di pertengahan malam.

Tantangan bagi tim besar yang ingin mendobrak batasan medioker adalah soal mental. Inter Milan sudah terlalu lama terpuruk. Mereka ada di tengah jalan, di depan persimpangan. Conte datang membawa perkakas dan material untuk membangun pondasi itu. Ketika pondasi sudah terbangun, langkah selanjutnya adalah memperkuat bangunan dan menghiasnya dengan lampu Natal paling cemerlang.

Baca juga:  Liga Champions: Ada Bahaya Bagi Real Madrid di Balik Pujian Pelatih AS Roma

Kekalahan dari Barcelona C itu menggambarkan ketidaksiapan Inter Milan menghadapi titik terpenting. Kekuatan untuk menemukan itu lesap seiring gol tidak sengaja Ansu Fati. Selepas laga, Ansu Fati bahkan tidak percaya dirinya sudah membuat gol. Giuseppe Meazza tercenung. Diam. Hening. Dia melirik papan skor sekilas. 1-2. Barcelona C unggul.

Ketika skor sama kuat 1-1, Inter Milan punya semua waktu dan peluang untuk menemukan kemenangan. Romelu Lukaku dan Lautaro Martinez, dua striker yang malam itu kurang mendapatkan dukungan dari lini kedua, masih bisa membuat peluang dengan carangan sendiri. Namun, bola seakan-akan enggan menyapa jaring gawang.

Kedua striker yang selama ini menyelamatkan Inter Milan di momen-momen krusial terlalu banyak terjebak offside. Terlalu banyak menembak dengan power ketimbang placing. Mereka terlalu banyak mengukur, bukan mengeksekusi. Keduanya kehilangan daya untuk menemukan cara melewatkan bola melewati kiper menuju jala gawang.

Kekuatan mental berbicara di sini. Inter Milan harus menang. Poin mereka masih bisa digapai Borussia Dortmund. Tidak ada gunanya punya keunggulan agregat dengan Dortmund jika kalah poin. Sayangnya, justru itu yang terjadi. Barcelona C lebih tenang menghadapi perubahan situasi pertandingan.

Meskipun tidak ada Lionel Messi di atas lapangan, sebuah situasi yang biasanya membuat mereka seperti tim kelas dua, pemain senior lain bermain dengan ketenangan yang mengejutkan.

Ivan Rakitic sebagai kapten bermain tanpa cela. Frenkie De Jong memberi bukti bahwa dirinya adalah wonderkid dengan kematangan diri terbaik. Carles Perez bermain dengan kesadaran penuh bahwa menit bermain yang terbatas harus dimanfaat sebaik mungkin. Dan Antoine Griezmann, kematangan dan mentalitas juara dunia itu berguna di momen krusial ini.

Baca juga:  Liverpool Bisa Kesulitan Lawan Brighton karena Jatah Champions Hampir Pasti

Meski Conte bisa mengubah wajah Inter Milan dalam waktu singkat, tim ini tetap masih sangat muda. Meski diisi pemain-pemain matang, mereka baru pada tahap selesai membangun pondasi. Mereka belum selesai dengan diri sendiri, dengan kekuatan mental untuk menerjang momen krusial yang sangat menuntut di sepak bola.

Kekalahan di momen seperti ini yang membuat Juventus menjadi begitu besar dari lawan-lawan mereka di Serie A. Juventus tetap bisa kalah, di dua atau tiga pertandingan. Namun, mental mereka sudah terasah. Lihat saja foto-foto dan video latihan mereka setelah kalah dari Lazio dengan skor 1-3. Tidak ada kecemasan, yang ada kepercayaan diri untuk mengubah situasi.

Conte dan Inter Milan harus menjadi perkawinan jangka panjang. Keduanya memberi bukti tentang dongeng kisah dan kasih. Antara kecocokan hati dan determinasi menjadi lebih baik. Proses yang akan menjadi pengawal kelanggengan masa depan La Beneamata.

La Beneamata, mereka yang dihormati, menjadi bukti sahih bahwa rasa cinta butuh proses untuk menjadi sempurna. Michelangelo butuh waktu lima tahun untuk menyelesaikan sapuan kuas The Creation of Adam. Lima tahun untuk menemukan warna terbaik dan menjadi abadi kemudian. Inter Milan dan Conte membutuhkan waktu. Untuk mekar sepenuhnya, kuat seutuhnya. Menjadi legenda di masa depan Serie A.

BACA JUGA Conte x Lampard, Sumur Nyali Untuk Inter Milan dan Chelsea atau tulisan Yamadipati Seno lainnya.