• 924
    Shares

MOJOK.CO – Tabloid BOLA tutup. Bentuk fisiknya akan hilang seiring waktu. Namun, ilmu yang saya dapat akan terus bertahan, dirawat, dan menjadi dasar.

Tahun 1984, saat itu hari Jumat, BOLA resmi terbit untuk kali pertama. Kini, tahun 2018, pada yang sama, Jumat, tabloid Bola tutup. Senjakala media cetak merek bilang. Boleh jadi betul. Roda besi bermerek zaman itu menggilas siapa saja. Terutama mereka kesulitan beradaptasi. Seperti hidup, ia bertunas, berbuah lebat, lalu mati pada saatnya.

Tidak ada yang abadi, demikian juga produk jurnalistik. Ia bisa bertahan hingga 10 atau bahkan 20 tahun. Namun pada titik tertentu, ujung lorong itu akan terjumpa pula. Pada saatnya, kita, anak-anak zaman yang mencicip buah kerja jurnalistik itu hanya bisa mengucapkan terima kasih dan mengenangnya sebagai asupan ilmu yang abadi.

Bagi anak-anak generasi 80an, para penggila sepak bola terutama, tabloid BOLA adalah kawan yang baik. Ulasannya jernih, mudah dipahami, bahkan oleh saya yang kala itu masih sekolah dasar ketika kali pertama membaca BOLA. Kakak dan saudara-saudara saya pembaca BOLA yang tertib. Ketika sudah terkumpul beberapa edisi, kumpulan tabloid itu lalu dikliping.

Piala Dunia 1994 adalah sebuah masa di mana tabloid BOLA menjadi rebutan olah kakak-kakak saya. Ketika sampai di tangan saya, kertasnya sudah lecek. Kadang di beberapa titip menjadi berminyak atau kena noda kopi. Saya tak memedulilkannya, asal bisa membaca soal Roberto Baggio dan Franco Baresi. Dua pemain legenda yang pertama saya gandrungi.

Apalagi, Piala Dunia 1994 itu sungguh berkesan. Timnas Italia memukau mata saya. Seiring kepopuleran Serie A, melihat Baggio dan Baresi di Piala Dunia sungguh membuat penasaran. Meski sayang, di laga puncak, Italia dikalahkan Brasil secara menyakitnya. Sakit, bukan hanya timnas Italia yang merasakannya. Tetapi hati saya juga, melihat Baggio gagal mengeksekusi penalti. Perasaan kecewa hadir dan diri ini menjadi murung.

Baca juga:  Orang Paling Berjasa dalam Karier Kepenulisan Saya

Seiring usia, tabloid BOLA bukan hanya kawan yang baik. Ia malih rupa menjadi guru. Ulasan-ulasan Ian Situmorang, kalimat-kalimat Weshley Hutagalung, dan kosmopolitanisme Rob Hughes. Darmanto Simaepa, peneliti sekaligus penulis buku Tamasya Bola menyebut cita rasa yang dihadirkan Rob Hughes menjadi salah satu kekuatan Tabloid Bola.

“Teknik menulisnya menjadikannya istimewa, dan membuat ulasan-ulasan sepak bola yang ditulis wartawan Indonesia, koran mana pun terasa membosankan. Persepektif dan cara pandangnya terhadap bagaimana sepak bola harus dimainkan dan nilai-nilai olahraga harus diutamakan menarik hati,” tulis Darmanto dalam artikel berjudul “Tiga Tamasya Kecil Ke Masa Lalu Bersama BOLA” yang tayang di belakanggawang.blogspot.com pada tanggal 3 Januari 2016.

Ia seperti suar, menjadi pemandu bagi siapa saja untuk belajar tentang sepak bola. Tabloid BOLA juga yang menjadi penantang bagi diri saya ketika belajar menulis sepak bola. Salah satu artikel yang saya ingat punya judul “Gelombang Collymore”. Bukan isi atau penulis yang saya ingat, tetapi judul.

Namun, judul itu membekas. Ketika kesulitan membuat ide untuk tulisan, dua kata itu saya ingat kembali: “Gelombang Collymore”. Kreativitas memadukan dua kata yang sebetulnya tidak berhubungan menjadi satu kesatuan adalah pelajaran yang penting. Kelak, saya mengenalnya sebagai analogi. Tabloid BOLA yang mengajarkan ilmu itu secara tidak langsung.

BOLA juga yang kali pertama bersedia memuat tulisan untuk diunggah di sebuah media. Bangga sekali rasanya ketika tulisan opini pendek dengan judul “4-4-2 Indonesia” itu tayang. Beberapa hari kemudian, sebuah paket tiba di rumah. Sebuah kaos berwarna kuning cerah dengan desain Si Gundul, maskot Tabloid BOLA. Kaos itu dipakai ibu saya. Katanya bentuk kebanggaan tulisan anaknya tayang di sebuah media nasional.

Baca juga:  Santri Marah Dikira Bawa Bom lalu Berakhir Selfie sama Polisi itu Enggak Wajar

Masa-masa bulan madu dengan Tabloid BOLA bertahan hingga saya kuliah. Rasa nyaman ketika memegang buku atau koran secara fisik beriringan dengan kebiasaan baru membaca ulasan sepak bola lewat internet. Pandifootball, Fandom, FourFourTwo menjadi jujugan baru. Lama kelamaan, niat membeli BOLA surut. Ilmu yang bisa saya dapatkan secara cepat dan murah membuat situsweb-situsweb menggantikan tabloid atau koran fisik lainnya.

Hingga pada titik itu. Titik di mana saat ini, hari penghabisan, hari tabloid BOLA tutup, kulit di jari-jari saya tidak lagi bersentuhan dengan tabloid itu. Ingatan akan lembar-lembar kertas itu tidak lagi terasa, namun ilmu yang tersaring bertahan abadi. Ilmu yang menemani saya ketika dipercaya menjadi editor Fandom.id, redaktur Football-Tribe.com, dan kini mengampu rubrik Balbalan di Mojok.

Ilmu itu seperti kenangan manis yang berusaha kita pertahankan. Berusaha kita rawat karena guna dan manfaatnya. Ilmu dari BOLA itu menjadi dasar pekerjaan dan sumber kehidupan saya saat ini.

Tabloid BOLA tutup adalah titik hilangnya bentuk fisik. Bentuk cinta dan kenangan akan terus terjaga. Sebuah refleksi afeksi ini saya tuliskan dengan mengingat kembali aroma kertas tabloid BOLA yang masih baru. Aroma yang dinantikan setiap Selasa dan Jumat. Aroma yang mengingatkan saya untuk terus belajar. Pada akhirnya, terima kasih BOLA.

  • 924
    Shares


Tirto.ID
Loading...

No more articles