MOJOK.COSemoga Raffi Ahmad yang konon akan membeli Cilegon United menjadi tiang pancang perubahan di sepak bola Indonesia. Klise? Hmm… iya, sih.

Senyum merekah di Cilegon. Pada Oktober 2020, Cilegon United dikabarkan akan membubarkan tim karena tidak ada kepastian soal penyelenggaraan Liga 2. Maret 2021, meski kepastian soal Liga 2 belum juga benderang, rumor datangnya sugar daddy dalam diri Raffi Ahmad sedikit melegakan hati.

Banyak media yang sudah merilis berita bahwa Raffi Ahmad resmi membeli Cilegon United. Pemberitaan itu menjadikan foto Instagram sebagai sumber primer. Padahal, dari pihak Raffi Ahmad maupun Cilegon United belum mengeluarkan rilis resmi. Berapa persen saham yang diakuisisi? Berapa nilainya? Visi dan misinya akan seperti apa? Semuanya belum jelas.

Namun, berita keterlibatan public figure ke dalam kancah sepak bola Indonesia memang terlalu seksi untuk dilewatkan. Apalagi yang “bakal terlibat” adalah the head of the family of Rans Entertainment, Raffi Ahmad. Sugar daddy dengan gairah meluap-luap ketika membanting tulang.

Raffi Ahmad, uang, dan kompetisi

Dua hal penting di sejarah klub sepak bola Indonesia adalah uang dan kompetisi. Modal membuat mesin klub bisa lancar menggelinding. Kompetisi menjadi wadah untuk “memutar” modal dan memburu prestasi. Profit dari keikutsertaan di sebuah kompetisi yang memastikan sebuah klub itu tetap eksis.

Oleh sebab itu, ketika pengusaha mau patungan dan siap “membakar puluhan miliar” demi menghidupi sebuah klub, kita semua merayakannya. Raffi Ahmad akan menjadi public figure kedua setelah Kaesang Pangarep yang resmi menjadi pemilik sebuah klub di Liga 2. Saya serius. Pada titik tertentu, hal ini perlu dirayakan.

Kenapa begitu?

Kepastian adalah sebuah kata yang terlalu ajaib dimiliki klub sepak bola Indonesia dan PSSI sendiri. Konon bahkan lahir ledekan bahwa satu-satunya yang pasti dari PSSI adalah ketidakpastian itu sendiri. Sementara itu, bagi klub, kepastian bisa terus mengikuti kompetisi adalah berkah tersendiri. Dan di sini, kita bicara soal modal.

Raffi Ahmad jelas tidak mungkin menanggung semua beban modal Cilegon United untuk jangka panjang. Namun, nama Raffi sendiri adalah magnet bisnis yang sungguh menggiurkan. Iklan dan sponsor jadi lebih mudah didekati. Bahkan bisa jadi iklan dan sponsor yang akan memburu Cilegon United.

Nama besar adalah garansi dan Cilegon United bakal mendapatkan kemewahan itu. Garansi ini yang, bisa jadi, menyelesaikan separuh masalah pendanaan mereka.

Masalah pendanaan bagi beberapa klub-klub Indonesia masih terjadi hingga saat ini. Sebelum Piala Menpora 2021 sepak mula, kita masih bisa menemukan pemberitaan soal tunggakan gaji pemain dan kepastian kontrak di masa pandemi. Masalah ini tidak terjadi begitu saja. Jika benang merahnya mau ditarik ke belakang, masalah serupa terjadi sejak unifikasi “yang gagal” itu.

Pada 1994, terjadi unifikasi dua kompetisi besar di Indonesia. PSSI ingin menjalankan kompetisi “yang katanya” profesional. Untuk itu, PSSI menyatukan kompetisi Perserikatan dan Galatama di bawah satu bendera: Liga Indonesia.

Perserikatan dan Galatama awalnya berjalan beriringan. Perserikatan adalah kompetisi amatir. Masing-masing klub Perserikatan punya feeder sebagai penyuplai pemain. Sementara itu, Galatama adalah kompetisi semi-profesional yang dibentuk oleh perusahaan dengan modal dari para pendiri dan pemiliknya.

Seiring waktu, klub-klub Perserikatan lebih punya daya hidup. Mereka disusui dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), terutama karena elite klub yang punya koneksi ke pemerintah daerah.

Implikasi dari modus penggunaan dana APBD ini adalah tim dibentuk untuk jangka waktu satu tahun atau satu musim kompetisi. Pada umumnya, dana APBD yang digunakan adalah dana hibah yang tidak bisa dianggarkan multi years.

Dari sini muncul istilah “tim dibubarkan”. Mana ada klub profesional yang timnya “bubar” setelah musim selesai lalu “dibentuk” lagi sebelum musim baru mulai. Disadari atau tidak, akibat dari unifikasi ini yang membuat sepak bola Indonesia malah tidak berkembang.

Doa untuk Raffi Ahmad dan Kaesang

Mereka yang sebelumnya justru “hampir” profesional justru kalah saing dengan sekumpulan klub dari liga amatir yang disusui APBD. Celakanya, konon katanya, dana APBD tidak tepat sasaran.

 Pada 2011, terbit aturan Menteri Dalam Negeri yang melarang penggunaan dana APBD untuk sepak bola profesional. Pemerintah daerah tak lagi bisa jadi “ibu susu”. Saat itu, gonjang-ganjing soal pendanaan klub jadi narasi utama. Apalagi sebabnya kalau bukan karena “tidak siap”.

Lantaran tak bisa lagi menyusu APBD, klub harus pandai mengatur keuangan. Padahal, pemasukan dari tiket dan jualan memorabilia belum bisa jadi gacoan. Baru di lima tahun terakhir, kesadaran akan pentingnya “beli tiket” dan merchandise menguat. Itu saja masih banyak klub yang kelimpungan. Salah satu implikasinya adalah hilangnya pendonor dan gaji pemain yang makin seret saja.

Oleh sebab itu, kehadiran anak-anak muda sebagai pemodal (Raffi Ahmad dan Kaesang) perlu dirayakan. Meskipun di sekeliling mereka masih berkerumun orang-orang tua dengan ego lawas, Raffi Ahmad dan Kaesang menjadi wakil generasi baru. Generasi yang saya doakan cepat menggusur orang-orang lawas, yang memanfaatkan sepak bola sebagai batu loncatan saja.

Kelak, tidak hanya pemodal, generasi muda seperti Raffi Ahmad dan Kaesang bakal duduk di dalam federasi. Anak-anak muda dengan kesadaran akan kemajuan sepak bola. Mereka yang mau mewakafkan waktu dan energi untuk sepak bola secara murni.

Saya tidak tahu motivasi Raffi Ahmad dan Kaesang menjadi “orang nomor 1” Cilegon United dan Persis Solo. Saya hanya akan mendoakan, untuk kesekian kalinya, bahwa perubahan di dalam tubuh bobrok sepak bola Indonesia akhirnya dimulai. Perubahan yang sama-sama kita dambakan dan teriakkan setiap tahunnya itu.

BACA JUGA Mungkinkah Suporter Mendorong Terjadinya Revolusi PSSI? dan tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Baca juga:  Jan Ethes Jadi Nama Anggur, Menyusul Kaesang yang Sudah Jadi Pisang