Episode Putcast kali ini kedatangan Kiai Faizi, seorang kiai yang lebih betah di kursi bus antarkota atau warung kopi ketimbang di mimbar megah. Baginya, hidup bukan soal memiliki segalanya, tapi tahu kapan harus merasa cukup.
Kiai Faizi sering berkelana dengan saku tipis. Kalau tiba-tiba ada yang menolong saat kehabisan ongkos, beliau enggan menyebutnya karomah. “Enggak tahu, enggak saya rencanakan,” katanya. Hidup baginya tak perlu selalu dipahami tuntas, yang penting dijalani dengan jujur.
Kiai Faizi sangat ketat menjaga keseimbangan rasa. Jika siang sudah makan enak, malamnya beliau sengaja makan seadanya. Bukan untuk pamer kesalehan, tapi sekadar pengingat agar tidak manja dan tidak “kebablasan”.
Ketelitiannya juga luar biasa. Beliau mencatat tanggal kematian tetangganya sejak puluhan tahun lalu. Bukan obsesi, tapi bentuk tanggung jawab sosial agar mereka tak dilupakan begitu saja saat hari haul tiba. Bahkan, beliau pernah menolak mobil mewah hanya karena enggan terbebani ekspektasi sosial yang melelahkan.
Dalam beragama, beliau anti sensasi. Meski punya banyak pengalaman unik, beliau emoh jualan cerita mistik demi menjaga akal sehat. Kepada santrinya, prinsipnya cuma satu: Irham turham—sayangi, maka kau akan disayangi.
Di dunia yang serba buru-buru, Kiai Faizi memilih jalan pelan. Ia tidak mengejar panggung, tapi justru langkah pelannya itulah yang membekas dalam di hati siapa pun yang pernah berpapasan dengannya.