Air tak selalu datang sebagai berkah yang langsung disambut sorak. Di Gendayaan sebuah wilayah yang lama akrab dengan kekeringan, air justru lebih dulu hadir sebagai rasa putus asa. Bertahun-tahun warga hidup hanya dengan keyakinan yang sama bahwa tidak ada air di daerah mereka.
Keyakinan itu begitu kuat, bercampur antara pengalaman panjang dan mitos. Maka ketika Gus Yayan dan tim bersikeras untuk melakukan survei air di gua-gua di daerah, reaksi yang muncul bukan harapan, melainkan tatapan aneh. Pekerjaan yang dilakukan di anggap sia-sia.
Namun justru dari titik itulah cerita ini bermula.
Melawan Putus Asa
Survei pertama belum memenuhi ekspektasi, Akhirnya Gus Yayan memilih melakukan survei kedua dengan tim dan perlengkapan yang lebih baik. Targetnya jelas, menemukan sumber, memastikan kelayakan dan menaikkannya ke permukaan.
Di tahap survei ini, Gus Yayan tak peduli dengan cerita mistis-mistis yang beredar. Bukan karena menafikan, melainkan agar pekerjaan tak terhalang oleh rasa takut.
“Kalau semua didengarkan sekaligus, pekerjaan ini tidak akan jalan” begitu ujarnya
Hasil survei kedua menjadi titik balik, karena jatuhnya sepatu dari salah satu tim, akhirnya Gus Yayan dan rekan-rekan menemukan air dan dinyatakan layak konsumsi.
Namun Tantangan berikutnya justru lebih berat, yaitu bagaimana menaikkannya dari kedalaman 110 meter ke atas permukaan dengan dana yang sangat terbatas.
Kerja Sama Mendatangkan Air
Pipa, pompa dan tenaga manusia dikumpulkan dari berbagai pihak mulai dari pesantren, kampus, komunitas dan masyarakat itu sendiri. Tidak ada nama investor besar, yang ada hanya keyakinan dan kerja sama.
Proses Pemasangan berhari-hari. Pas malam ketiga saat subuh datang, akhirnya air keluar. Meski tak menyembur deras, tapi terasa sangat besar. Air itu dipakai untuk wudhu pertama, disaksikan oleh warga yang memenuhi pelataran. Tangis pecah di mana-mana.
Bukan hanya warga. Tim Teknis, dosen, relawan—semuanya menangis. Air itu bukan sekedar cairan, melainkan harapan yang akhirnya kembali setelah sekian lama pergi.
Air Gua Jomblang dan Manfaat Keberlanjutan
Air Gua Jomblang resmi dimanfaat pada Desember 2019. Awalnya hanya di titik-titik strategis di empat dusun.
Namun, dengan dukungan Bakti Sosial Djarum Foundation Sistem diperkuat, hingga 2023, total 11 dusun telah terairi dengan layak.
Tak ada biaya kaku—biaya ditentukan oleh jarak dan kemampuan. Karena Air ini tidak jatuh dari langit. Ia perjuangankan dan layak untuk dihargai.
Desa yang Tidak Ingin Ditinggal
Dulu, Gendayakan adalah desa yang ditinggal pemudanya merantau. Kini desa itu menjadi tempat pengajian, rembukan, ngopi dan melahirkan ide.
Air memang mengalir dari Gua Jomblang. Tapi sebenarnya yang naik ke permukaan adalah sesuatu yang lain: rasa percaya diri sebuah desa bahwa mereka bisa bertahan dan membangun masa depan di tanah kelahirannya.