Dilema Sarjana Sastra Indonesia: Mau Jadi Apa?

Dilema Sarjana Sastra Indonesia: Mau Jadi Apa? MOJOK.CO

Ilustrasi Uneg-uneg Dilema Sarjana Sastra Indonesia: Mau Jadi Apa?

Saya adalah seorang lulusan Sastra Indonesia. Selama empat tahun, banyak hal yang saya pelajari. Pada awalnya, saya pikir menjadi mahasiswa sastra hanya belajar tentang bagaimana menulis cerita yang bagus. Itu saja. 

Bahkan, alasan saya pada awal mendaftar jurusan ini pun, demikian. Ingin menjadi penulis dengan karya-karya yang menarik. Tetapi selama kuliah, saya justru merasa program studi ini tidak hanya memberi perspektif kepada mahasiswanya untuk menjadi penulis kreatif. Malah, saya merasa lebih disiapkan untuk menjadi “kritikus sastra”. 

Terdapat mata kuliah seperti pengkajian sinema, kritik sastra, dan kritik teks yang tugas-tugasnya menuntut mahasiswa untuk mereview beragam karya sastra. Mata kuliah dengan tugas menulis karya sastra justru hanya ada dalam satu mata kuliah yang ditawarkan pada semester enam. 

Ya, ada untungnya, tapi juga ada tidaknya. Untungnya adalah saya jadi punya perspektif lain selama menjadi mahasiswa sastra. Tetapi, ini sekaligus menjadi tantangan bagi saya untuk menentukan apa yang ingin saya jadikan patokan sebagai karir saya ke depannya. 

Hal itu saya sadari ketika pada semester tujuh terdapat mata kuliah Kuliah Kerja Praktik (KKP) atau sebut saja magang kerja. Karena perspektif yang luas dalam perkuliahan, jadi mempertanyakan apa spesialisasi saya sebagai seorang mahasiswa sastra. 

Selama saya magang di beberapa perusahaan, tidak jarang para atasan atau mentor menanyakan bidang kerja saya ketika lulus nantinya. 

Baca halaman selanjutnya…

Sebenarnya apa spesialisasi lulusan Sastra Indonesia?

Sebenarnya apa spesialisasi lulusan Sastra Indonesia?

Begitu ada pertanyaan demikian, saya hanya berpikir bahwa bidang kerja saya cukup luas dengan batasan-batasan selayaknya para pekerja di bidang media.

Jika saya menjawab dengan jawaban yang intinya demikian, terlihat kerutan di kening orang-orang yang bertanya. Mungkin bagi mereka, jawaban saya masih “abstrak”, tidak seperti jurusan-jurusan lain. Misalnya dokter, guru, apoteker, dsb yang cenderung lebih jelas. 

Saya jadi merenung, sebenarnya apa spesialisasi saya sebagai lulusan Sastra Indonesia? Hal itu semakin membuat saya gundah, terlebih ketika ada seorang saudara yang bertanya tentang rencana karir saya ke depannya. Bagaimana prospek kerja lulusan sastra? Bagaimana riwayat pekerjaan para lulusan terdahulu? Dll. 

Kalau dipikir-pikir, dan sepengetahuan saya, memang lebih banyak yang bekerja di bidang yang jauh dari apa yang kami pelajari di kampus. Saya jadi semakin bingung bagaimana merencanakan karir saya setelah lulus. 

Tentu, apa yang kami pelajari akan selalu ada manfaatnya. Namun, untuk merencanakan akan melakukan apa selanjutnya, bagi saya sendiri, masih membingungkan. 

Barangkali, menentukan karir memang tidak hanya oleh jurusan di bangku perkuliahan. Melainkan juga bergantung pada kesadaran untuk belajar mandiri. Itu yang akhirnya saya sadari. 

Ternyata, menjadi sarjana saja tidak cukup. Melainkan harus dibarengi dengan kepekaan untuk belajar dan terus belajar. Khususnya belajar memahami diri sendiri dan apa yang sebenarnya ingin dicapai dalam hidup. 

Hanifah K Cepu, Blora, Jawa Tengah hanifahkhoirun5@gmail.com

BACA JUGA Beban Hidup Sarjana Psikologi yang Nganggur dan Tinggal di Desa  dan keluh kesah lain dari pembaca Mojok di UNEG-UNEG

Keluh kesah dan tanggapan Uneg-uneg  bisa dikirim di sini.

 

Exit mobile version