Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Ulasan Bacaan

Jatuh Penasaran pada “Dawuk”

Kalis Mardiasih oleh Kalis Mardiasih
22 Agustus 2017
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Judul: Dawuk

Penulis: Mahfud Ikhwan

Penerbit: Marjin Kiri, 2017

Gusti Allah. Saya menyelesaikan aktivitas membaca novel Dawuk dalam satu malam saja. Artinya, secara umum saya nyaman membaca novel Mahfud Ikhwan kali ini dibanding novel sebelumnya, Kambing dan Hujan (2015).

Saya sudah sadari itu sejak meraih Kambing dan Hujan di rak sebuah toko buku: membaca novel 400 halaman jelas perlu niat dan mental lebih, setidaknya untuk ukuran saya. Tapi, saya tetap membacanya sebab tertarik pada etiket yang tersemat di bawah judulnya. Kambing dan Hujan: Sebuah Roman.

Ya, roman. Meskipun tidak mendambakan karakter-karakter supranatural alias tidak logis sebab terlalu sempurna khas novel-novel penulis FLP yang saya baca semasa sekolah dulu, saya berharap nuansa roman itu muncul dalam Kambing dan Hujan. Namun, kemudian saya mendapati kisah cinta Mif dan Fauzia, dua tokoh utama novel itu, justru menjadi kisah yang serbatanggung.

Novel yang diakui sebagai roman itu mengisahkan kerumitan perjalanan cinta Mif dan Fauzia menuju pernikahan sebab orang tua mereka berselisih ideologi. Fauzia anak pemuka NU, Mif anak tokoh Muhammadiyah. Sengketa satu dua peristiwa masa lalu yang menjadi ingatan buruk bagi orang tua Mif maupun Fauzia memunculkan gengsi seandainya anak mereka akhirnya saling menyatu.

Inilah yang bikin saya agak jengkel. Latar masalah yang sederhana sekali mengajak pembaca untuk masuk pada keterangan-keterangan masa lalu yang seolah begitu rumitnya. Namun, bahkan sejak awal, bagi saya Mahfud sudah gagal membangun rasa antara Mif dan Fauzia. Kedua tokoh utama itu hilang dan tahu-tahu muncul begitu saja di akhir buku dengan drama yang tak dramatis.

Perasaan Mif dan Fauzia ketika jatuh cinta, saling kangen, atau waswas menanti restu malah tidak tampak dalam dialog yang bisa seharusnya bisa membikin kita berdesir layaknya ketika membaca roman kebanyakan. Yang terjadi, malah pembaca tersesat pada usaha keras Mahfud untuk membangun periodisasi sejarah dari masa ke masa, juga pesan-pesan moral membosankan ketika Mif maupun Fauzia bercakap-cakap dengan orang tua masing-masing.

Yah, bagian itu memang punya nilai lebihnya. Mahfud berhasil mengajak pembaca berjalan-jalan ke masa gawat pascakemerdekaan, juga menyajikan tokoh-tokoh masa kecil dalam semesta kehidupan orang tua Mif dan Fauzia dengan baik sekali. Tapi … cinta-cintaannya mana?

Syukurlah, gugatan-gugatan tersebut lalu terpuaskan ketika membaca karya Mahfud selanjutnya. Dawuk.

Dawuk, seperti dua novel Mahfud terdahulu, berlokasi di kawasan pesisir utara di timur Jawa, bersisian dengan hutan jati (wilayah yang melahirkan tradisi konflik sinder-mandor-blandongan), berkultur pesisiran yang ceplas-ceplos dengan orang-orang yang gemar menggunjing tetangga, dan bersemangat pada musik dangdut dan India, serta belakangan menjadi pemasok TKI ke Malaysia.

Protagonis novel ini, Mat Dawuk, adalah seseorang yang kelahirannya menyebabkan kematian ibu kandungnya. Tak lama kemudian, ayahnya juga meninggal dan kakeknya menghilang.

Terlahir dengan rupa menyeramkan dan latar keluarga yang tak bisa dibanggakan, Dawuk tumbuh jadi sosok terkucilkan yang menyimpan berbagai ketidaktuntasan identitas kedirian sekaligus amarah. Ia kemudian pergi ke Malaysia dan menjadi pembunuh suruhan. Ia membunuh siapa saja sesuai permintaan para penggajinya.

Di Malaysia, ia kemudian bertemu dengan Inayatun, kembang desa penggoda dan perusak rumah tangga orang lain. Tapi, yang Dawuk temui di Malaysia adalah Inayatun yang telah hancur-hancuran.

Tepat di sinilah saya bersorak untuk sang penulis. Ia berhasil membangun suasana manis ketika dua mantan preman laki-laki dan perempuan ini saling jatuh hati. Suasana manis itu muncul sejak di stasiun hingga di rumah singgah di Malaysia, berlanjut ke rumah kandang di desa mereka. Semua dialog pas, situasi batin pas, deskripsi-deskripsi adegan pada tiap segmen pas.

Ketika membaca novel ini, saya sempat waswas, senang, berbunga-bunga, hingga terempas dalam kesedihan yang mendalam secara proporsional. Lalu, epilog dan kejutan di akhir yang menguak diri si narator juga pas. Ini baru roman!

Latar-latar masa lalunya juga bisa saya nikmati. Takdir sebagai orang Blora membuat saya bisa membayangkan rezim Perhutani dan budaya pesisiran. Bahkan saya suka hampir keseluruhan penggambaran situasi psikologis di Desa Rumbuk Randu, desa Dawuk. Mulai dari para perangkatnya yang kemaki, detial-detail magis perdukunan, kesombongan penjual di pasar kepada Inayatun, sekaligus cara Inayatun berseloroh (bayangkan mantan preman yang tobat, tapi tidak hilang gaya premannya), dan adegan-adegan massal yang membuat merinding.

Iklan

Kisah Dawuk diakhiri dengan tragis, tentunya karena dua tokoh utama sama-sama tak disukai banyak orang tapi sialnya sekaligus berkarakter menarik dan menantang hingga menimbulkan rasa iri dan dendam buat sosok-sosok jahat di Rumbuk Randu. Sebagai pembaca, saya sempat beralih rasa, mulai dari ikut ketakutan membayangkan sosok pembunuh itu, lalu sentimentil ingin jadi sahabat karib yang mengawaninya berbagi rasa, dan berakhir jatuh penasaran dan ingin menemukan keberadaannya hari ini.

Faktor penting kenapa saya gampang khatam Dawuk, sesungguhnya adalah karena buku ini relatif tipis. Buku tipis tapi efektif bagaimanapun adalah sebaik-baik buku untuk dibaca.

Terakhir diperbarui pada 20 Maret 2021 oleh

Tags: dawukMahfud Ikhwanmarjin kirinovel barupanturaresensiTKI
Kalis Mardiasih

Kalis Mardiasih

Artikel Terkait

Jawa Tengah dan Bappenas bersinergi dalam percepatan pembangunan infrastruktur di Pantura dan Pansela MOJOK.CO

Pembangunan Infrastruktur Pantura dan Pansela Jadi Prioritas karena Jateng Punya Banyak Potensi Ekonomi

9 Juni 2026
4 jenis pengendara motor di pantura seperti Rembang yang harus dilarang nyetir motor di jalan raya MOJOK.CO

4 Jenis Pengendara Motor di Pantura yang Harus Diwaspadai di Jalan Raya: Top Level Ngawur dan Tak Tahu Aturan!

23 April 2026
Gagal Paham Pejabat Soal Pantura: Tanggul Laut adalah Proyek Berbahaya yang Memboroskan Anggaran MOJOK.CO

Gagal Paham Pejabat Soal Pantura: Tanggul Laut adalah Proyek Berbahaya yang Memboroskan Anggaran

22 April 2026
Pengendara motor plat K ngga ngerti fungsi zebra cross, lampu, sein, hingga spion MOJOK.CO

Pengendara Plat K Tak Paham Fungsi Zebra Cross-Spion, Cuma Jadi Pajangan dan Abaikan Keselamatan Orang saat Bawa Kendaraan

7 Maret 2026
kerja di jepang, merantau.MOJOK.CO

Ironi Kerja di Jepang: Banting Tulang Hingga 5 Kali Lebaran Tak Pulang, tapi Setelah Sukses Hasilnya Tak Bisa Dinikmati

23 Februari 2026
TKI-TKW Rembang dan Pati, bertahun-tahun kerja di luar negeri demi bangun rumah besar di desa karena gengsi MOJOK.CO

Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti

7 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ibu Kimpul Mengingatkan Kita bahwa Ketahanan Pangan Bukan Hanya Urusan Beras MOJOK.CO

Ibu Kimpul Mengingatkan Kita bahwa Ketahanan Pangan Bukan Hanya Urusan Beras

10 Agustus 2026
lestarikan budaya.MOJOK.CO

Rayakan HUT ke-81 RI, InJourney Tebar Diskon 81 Persen dan Gelar Pesta Budaya di Destinasi Sejarah Nusantara

10 Agustus 2026
fisiologi pohon, walhi kerusakan lingkungan mojok.co

Hadapi Krisis Iklim, Ilmu Fisiologi Pohon Jadi Kunci Selamatkan 12 Juta Hektare Lahan Kritis

13 Agustus 2026
El Nino.MOJOK.CO

Ancaman El Nino Kuat Intai Indonesia, Waspada Kekeringan Ekstrem dan Kebakaran Hutan

11 Agustus 2026
Beban ekspektasi orang desa di Rembang yang merantau kerja di luar negeri: dipandang kalau bisa menggelar dangdutan setiap tahun MOJOK.CO

Beban Pemuda Desa Kerja di Luar Negeri: Demi Dipandang Harus Gelar Dangdutan Tiap Tahun buat Hibur Warga

12 Agustus 2026
Pegawai Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih pinggir kuburan harus dibekali dengan keahlian supranatural hingga ilmu sosial MOJOK.CO

Keahlian-keahlian Vital untuk Pegawai Kopdes Pinggir Kuburan, Berguna buat Diri Sendiri dan Pembeli

13 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.