Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Ulasan Bacaan

Di Hadapan Enny Arrow, Jakarta Undercover Bukan Apa-Apa

Pratono oleh Pratono
25 Juli 2017
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Jika tidak dibatalkan polisi, harusnya malam nanti “Diskusi Sastra Erotika: Membaca Enny Arrow” yang dituanrumahi Dewan Kesenian Semarang akan dilaksanakan. Sayangnya, empat hari lalu polisi meminta panitia menunda acara tersebut “sampai batas waktu yang belum ditentukan” karena ada “laporan dari masyarakat” dan acara tersebut belum meminta izin kepada kepolisian.

Di balik penjelasan serbasumir dan samar tersebut, benak orang yang lahir di kisaran tahun ’60-an hingga ‘80-an mesti mafhum apa pasalnya sebuah diskusi buku, yang bukan bertema Kiri, mesti “dilaporkan masyarakat” dan kemudian “ditunda” polisi. Pastilah karena ketiga belah pihak, yakni penyelenggara, masyarakat, dan polisi, paham sama paham, tahu sama tahu, siapa itu Enny Arrow, pengarang yang buku-bukunya hendak dibedah bersama itu.

Iklan

Buku-buku karangan Enny Arrow populer di kalangan remaja masa Orde Baru, beredar secara klandestin dari tangan ke tangan, menjadi penghuni ruang rahasia di langit-langit toilet sekolah bersama dengan kertas sontekan ujian. Pendeknya, mengedarkan buku-buku Enny Arrow membutuhkan kewaspadaan setara dengan mengedarkan buku-buku Pramoedya Ananta Toer atau selebaran PRD pada awal ‘90-an. Kadang buku harus dibungkus kertas atau plastik gelap agar sampulnya tak terlihat dari luar.

inilah jenis buku yang mengecap masa jaya distribusinya pra-teknologi cakram video, buku-buku yang disebut dengan nama khas: stensilan. Stensilan bukan hanya mengandung makna bagaimana cara buku itu dicetak, tapi juga di jenis cerita macam itu buku itu berkisah: cerita-cerita penuh desah.

Sebelum Enny Arrow tenar, khalayak punya nama-nama referensi lain, seperti Valentino, Idrus K., Anastasia, Gideon, dan lainnya. Namun, jangan bayangkan buku mereka bersampul perempuan aduhai seperti yang lazim pada kulit muka karangan-karangan Enny Arrow. Sampul depan karya tulis Valentino dkk. hanya kertas karton tebal polos bertuliskan judul dan nama pengarang. Seni membuat kover mentok sampai situ dan ya, rupanya sudah jadi merek tersendiri di benak penghikmat kisah berlendir.

Sementara isi buku berupa cetakan dari mesin stensil yang dioperasikan dengan memutar tuas engkol. Tulisannya kadang tidak terbaca jelas bila tinta mesin stensil hampir habis atau malah tidak terbaca sama sekali ketika tinta luber meleleh ke mana-mana. Dari teknik ceta purba inilah istilah stensilan malih menjadi kode untuk buku-buku cabul.

Saya tidak tahu apakah Agus Mulyadi mengalami masa dan bacaan yang sama. Tapi, sebagai orang yang pernah menjadi penjaga warnet, lebih masuk akal jika ia lebih akrab dengan pondokputri dot com atau 17tahun dot com daripada buku-buku Enny Arrow apalagi Valentino dkk. Mungkin generasi Puthut EA—yang sandi nama belakangnya akhirnya bisa dipastikan bukan dipungut dari inisial pengarang kesayangan kita tersebut—yang lebih akrab dengan buku-buku Enny Arrow di sela kesibukan menghindari intel Bakorstanasda.

Penggemar buku Enny Arrow kadang menilai isi cerita dari tingkat kelusuhan buku. Semakin lecek, ceritanya dianggap makin menantang dan membuat berkeringat. Imajinasi pembaca semakin hidup.

Tapi, di balik desah nikmat pembaca, ada desah prihatin penulisnya.

Ini tersua dalam majalah Jakarta Jakarta pimpinan sastrawan Seno Gumira Ajidarma yang pada edisi 16—22 Desember 1989 menurunkan berita penggerebekan percetakan buku Enny Arrow di Cempaka Baru, Jakarta Pusat oleh petugas Polda Metro Jaya.

Buku-buku terkutuk, demikian istilah Jakarta Jakarta, ini tercetak atas nama Penerbit Mawar. Judul-judulnya antara lain, Gelepar-Gelepar Asmara, Pelangi Cinta, Kasihku Tante Asti, Kemelut Badai Asmara, Asmara Wanita, Rintihan Hati Wanita, Otot yang Kenyal, dan Mega Indah Menyelimuti. Semua sampulnya berpola baku, gambar perempuan dengan pose syur.

Berdasarkan pengakuan pemilik percetakan, setiap judul dalam sekali cetak bisa digandakan hingga 5.000 eksemplar. Dengan banderol harga 2.000—2.500 yang tercetak di sampul, omzet setiap judul buku minimal 10 juta dan sudah jelas melebihi itu jika buku dicetak ulang.

Lalu berapa honor untuk penulis buku yang seharusnya masuk daftar bacaan best seller di Indonesia ini? Dengan sistem beli putus alias tidak dapat royalti, Enny Arrow hanya diupah 10 ribu per judul, alias 0,1% saja dari nilai keseluruhan bukunya. Jumlah yang jika Enny belanjakan untuk bukunya sendiri, barangkali hendak menghadiahi teman, misalnya, cuma akan dapat lima biji.

Lalu siapakah sosok Enny Arrow yang fenomenal tersebut? Bila kita cari di Google, penjelasan tentang dirinya hampir seragam dan tidak semisterius Fredy S., maestro kisah ranjang Indonesia lainnya. Ringkasnya, Enny Arrow adalah nama pena dari Enny Sukaesih Probowidagdo, kelahiran Bogor tahun 1924. Pernah bekerja sebagai penjahit di toko penjahit “Arrow” yang kemudian dipungut nama itu menjadi nama belakangnya sejak 1965 ketika buku Sendja Merah di Pelabuhan Djakarta terbit.

Selepas Gestok, Enny berpindah ke Filipina, Hongkong, dan Amerika Serikat. Di negara terakhir, ia intens belajar menulis. Sembilan tahun kemudian ia kembali ke Indonesia dan mulai produktif menulis buku. Pada usia 71 tahun, Enny meninggal dunia.

Biografi dua paragraf tadi sesungguhnya terlalu pendek untuk nama/merek sebesar Enny. Kisah bukti nama besar itu ialah pengakuan si pemilik percetakan yang diliput Jakarta Jakarta tadi, bahwa siapa pun yang menulis, asal berkisar di kisah cabul, akan dilabeli Enny Arrow sebagai pengarangnya. Penulis inilah yang mendapatkan honor 10 ribu untuk setiap judul, seberapa pun larisnya karya yang dihasilkan.

Nilai 10 ribu, bahkan untuk ukuran tahun ’89, pastinya tidak setara dengan kenikmatan sekaligus perasaan malu yang disisakan karya-karya Enny (kepada “masyarakat” yang melapor tadi), bahkan di tahun 2017, dua puluh dua tahun setelah Enny sendiri tiada, sampai-sampai diskusinya perlu dibatalkan. Tapi, di situ juga kita tahu, di hadapan Enny Arrow, Jakarta Undercover yang sudah difilmkan itu bukan apa-apa, Moammar Emka itu bukan siapa-siapa. Apalagi Haruki Murakami.

Terakhir diperbarui pada 11 Agustus 2021 oleh

Tags: Enny ArrowFredy SSastrastensilan
Pratono

Pratono

Artikel Terkait

Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026 MOJOK.CO

Memaknai “LAKU” dalam Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026: Sejauh Mana Bermanfaat dalam Ekosistem Sastra

19 Agustus 2026
JILF 2025 Mojok.co

JILF 2025 Angkat Isu Sastra dan Kemanusiaan

15 November 2025
Usung tema Rampak. Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2025 jadi ruang temu dan kolaborasi MOJOK.CO

Festival Sastra Yogyakarta 2025 Tak Sekadar Pertunjukan, Pikirkan Nasib Sastrawan hingga Melahirkan Penulis Baru

28 Juli 2025
Memilih Pindah Jurusan dari Sastra ke Pendidikan Gara-Gara Dicap Madesu, Mahasiswa UNY Ngenes Karena Nasib Guru Ternyata Lebih Suram.MOJOK.CO

Mahasiswa Sastra Pindah ke Jurusan Kependidikan di UNY Gara-Gara Dicap Madesu, Menyesal Karena Tahu Nasib Guru Lebih Ngenes!

25 Mei 2024
Workshop Penulisan Tiba Bersua Dorong Masyarakat Ciptakan Karya Sastra MOJOK.CO

Workshop Penulisan Tiba Bersua Dorong Masyarakat Ciptakan Karya Sastra

23 Oktober 2023
Novel Fredy S yang lolos sensor ormas dan institusi negara.

Anak-anak Muda yang Membincangkan Fredy S, Mengapa Novelnya Nggak Disensor Ormas? 

20 Januari 2023
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

tol Jogja-Solo

Tol Jogja-Solo: Rumah Tak Kena Pembebasan Lahan, Tapi Tetap Kena Debu dan Bising

22 Agustus 2026
Nasib siswa di tengah Karhutla Palangka Raya, Kalimantan Tengah. MOJOK.CO

Nasib Siswa SD di Tengah Kepungan Karhutla, Napas Sesak dan Pusing tapi “Dipaksa” Semangat Sekolah

26 Agustus 2026
S2, sarjana nganggur MOJOK.CO

Curhatan Lulusan Sarjana Lanjut Kuliah S2 Modal FOMO yang Justru Berujung Kesulitan Mencari Kerja

26 Agustus 2026
budidaya kenari

Perjuangan Bapak Hobi Kicau Mania: Dari Budidaya Kenari, Bisa Hantarkan Anak Meraih Gelar Sarjana 

26 Agustus 2026
Realitas pasangan muda di Jogja: tak sanggup bermimpi punya rumah sendiri, pasrah menua di kosan makan tahu-tempe untuk bertahan MOJOK.CO

Realita Pasangan Muda di Jogja: Tak Sanggup Punya Rumah, Pasrah Menua di Kosan Makan Tahu-Tempe buat Bertahan

21 Agustus 2026
Bakpia barangkali menjadi oleh-oleh khas Jogja yang biasa saja dan gitu-gitu aja. Tapi punya nilai sosial bagi perantau Jogja asal desa MOJOK.CO

Bakpia Jogja Memang Oleh-oleh Biasa dan Gitu-gitu Aja, Tapi Sangat Berharga buat Orang di Desa

22 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.